| Alkitab lainnya |
Perikop ini termasuk dalam rangkaian pengajaran Yesus pada Hari Raya Pondok Daun (Sukkoth). Hari Raya Pondok Daun merupakan salah satu momen penting bagi orang-orang Yahudi, sebab pada hari raya ini, orang-orang Yahudi diingatkan kembali untuk mengenang sejarah kemerdekaan mereka dari perbudakan di Mesir.
Pada waktu itu, mereka melarikan diri ke Kanaan atas pimpinan Musa, dan selama dalam proses pelarian itu, mereka tinggal di pondok-pondok sederhana yang beratapkan dedaunan. Dari sinilah cikal bakal Hari Raya Pondok Daun itu.
Dalam momen mengenang kembali sejarah kemerdekaan itu, Yesus kemudian masuk dengan ajaran-Nya mengenai apa itu kemerdekaan.
[30] “setelah Yesus mengatakan semuanya itu” yaitu semua pengajaran tentang diri-Nya, “banyak orang percaya kepada-Nya” khususnya orang-orang Yahudi yang tadinya dipengaruhi oleh kaum Farisi dan Saduki.
Pengajaran-pengajaran Yesus dalam pasal 8 ini terfokus pada pribadi Kristus sebagai “Terang Dunia” (lihat ay. 12). Bagi Yesus, penekanan bahwa Ia adalah “Terang Dunia” merupakan salah satu entry point untuk bersaksi tentang diri-Nya kepada orang-orang Yahudi yang sedang hidup dalam kegelapan (ay. 12).
Setiap orang yang terjebak dalam kegelapan hanyalah berharap pada seberkas sinar yang nantinya akan menuntunnya untuk keluar dari kegelapan itu. Tetapi, Yesus tidak memposisikan diri-Nya sebagai “seberkas sinar” melainkan sebagai “Terang Dunia,” yaitu terang yang besar, yang menguasai dunia dan yang tidak dapat dikuasai oleh kegelapan (band. Yoh. 1:5).
Pancaran terang Kristus tidak saja memerdekakan manusia dari keputus-asaan akibat kegelapan, melainkan juga memancarkan kehidupan dengan harapan baru. Bukan sekedar kehidupan yang apa adanya, tetapi kehidupan yang berkualitas.
Perkenalan Yesus tentang pribadi-Nya yang unik itu benar-benar membukakan mata banyak orang, sehingga tanpa ragu mereka menjadi percaya kepada-Nya.
[31] “jikalau kamu tetap (tinggal) dalam firman-Ku (dalam pengajaran-Ku), kamu benar-benar adalah murid-Ku (murid sejati-Ku)”
Selanjutnya Yesus memberikan syarat kepada orang-orang yang percaya itu, bahwa menjadi murid Yesus yang sejati tidaklah cukup sampai pada pengakuan bahwa Yesus adalah Juruselamat atau Mesias yang dijanjikan itu.
Syarat untuk menjadi murid Kristus yang terutama adalah “tetap dalam firman-Nya” atau “tinggal dalam pengajaran-Nya.”
Yesus menegaskan bahwa kesungguhan sebagai murid tidak mungkin hanya bisa diukur dari pengakuan percaya saja. Kesungguhan sebagai murid hanya dapat dibuktikan dari cara kita hidup, apakah masih dalam ajaran atau firman Kristus ataukah menyimpang dari-Nya.
Kita semua meyakini bahwa gereja adalah persekutuan murid Kristus. Karenanya, gereja haruslah yang pertama-tama tampil sebagai murid Kristus yang sejati.
Ukurannya sudah sangat jelas diberikan oleh Yesus, yaitu “tetap dalam firman/pengajaran Kristus.”
Oleh karena firman/pengajaran Kristus yang menjadi tolok ukur, maka hendaklah firman/pengajaran Kristus itu melekat sehakikat dalam setiap tugas dan panggilan gereja, baik kesaksian, persekutuan maupun pelayanannya.
Di sinilah gereja menunjukkan eksistensinya sebagai murid-murid Kristus, sebab tugas murid yang terutama adalah belajar, dan tugas belajar terkait erat dengan pengajaran. Jika gereja hidup dan berkembang tanpa pengajaran yang utuh, bagaimana bisa gereja itu akan menghasilkan murid. Jika gereja tidak menghasilkan murid, bagaimana bisa ia disebut murid Kristus?
[32] “kamu akan mengetahui kebenaran”
Apa maksud “mengetahui kebenaran” pada ayat ini? Kata “mengetahui” dalam Bahasa Yunani menggunakan kata ginoskô.
Menurut, Adam Clarke, kata ginoskô pada ayat ini artinya harus memiliki suatu pengetahuan eksperimental yang bersifat konstan mengenai kekuatan dan kemanjurannya.
Dalam contoh sederhana, seperti ketika kita hendak memilih obat untuk kita pakai mengobati sakit kita:
Hal pertama yang harus kita ketahui adalah bahwa obat itu memang berfungsi untuk mengobati sakit kita, sehingga jika kita sakit flu, kita tidak akan membeli obat sakit perut.
Hal kedua yang harus kita ketahui adalah bahwa obat itu benar-benar manjur atau cocok untuk kita. Sebab, tidak semua obat untuk suatu penyakit tertentu memiliki efek yang sama terhadap tubuh kita.
Hal ketiga adalah kita harus tahu bahwa obat itu tidak mengandung zat-zat kimia yang berdampak negatif pada kita, misalnya menyebabkan alergi atau mengganggu fungsi organ tubuh kita yang lain, misalnya lambung atau jantung.
Demikianlah seterusnya sampai kita betul-betul yakin bahwa kita telah memilih obat yang benar.
Penafsiran lain dikemukakan oleh John Gill mengenai kata ginoskô. Menurutnya ginoskô berarti memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang kebenaran itu sendiri, sebab, banyak orang juga mempelajari apa itu kebenaran, tetapi mereka tidak pernah mencapai pengetahuan yang benar akan kebenaran itu.
Karena itu, untuk “mengetahui kebenaran” maka, kebenaran itu haruslah diajarkan. Pengajaran akan kebenaran itulah yang pertama-tama menjadi tugas gereja sebagaimana amanat Yesus dalam Matius 28:19 “pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Dalam ay. 20 dipertegas lagi, “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu” atau dengan kata lain, “ajarlah mereka tentang kebenaran.”
Pengajaran akan kebenaran haruslah menjadi prioritas utama gereja, sebab jika gereja tidak lagi mengajarkan hal-hal yang bersumber dari kebenaran itu, maka gereja akan menjadi mandul dan tidak punya kekuatan apa-apa.
Pertanyaannya sekarang adalah “kebenaran” apa yang dimaksud oleh Yesus dalam ay. 32 ini?
Kebenaran yang dimaksud Yesus di sini dalam naskah Yunaninya menggunakan kata alêtheia.
Dalam kamus Thayer’s Greek Definition, kata alêtheia ini diterjemahkan dalam dua pengertian:
1. apa yang benar dalam segala hal yang dipertimbangkan atau dipikirkan manusia;
2. apa yang benar dalam hal-hal yang berhubungan dengan TUHAN serta tugas-tugas manusia, kebenaran moral serta kebenaran agama.
Penulis Injil Yohanes telah bersaksi sejak semula apa itu alêtheia. Dalam Yoh. 1:14, Yohanes menulis bahwa Kristus penuh dengan “kasih karunia dan alêtheia (kebenaran).”
Dalam Yoh. 1:17, lebih jauh Yohanes menulis bahwa alêtheia “datang oleh Yesus Kristus.” Artinya, di samping penuh dengan aletheia, Yesus juga merupakan sumber dari alêtheia itu sendiri.
Mengapa demikian? Sebab, Kristus adalah alêtheia itu sendiri. Dalam Yoh. 14:6 dengan sangat jelas Yesus berkata, “Akulah jalan dan alêtheia (kebenaran) dan hidup.”
Alêtheia, yang adalah Kristus itu sendirilah, yang akan “memerdekakan” setiap orang percaya.
Apakah makna “memerdekakan” di sini?
Ada orang berkata, “Saya ingin bebas, jadi saya tidak perlu sekolah, saya ingin berhura-hura setiap hari!”
Kesannya orang itu beroleh kebebasan, tetapi tanpa ia sadari, ia sedang menghambakan diri kepada kehidupan yang penuh hura-hura, sehingga ketika hura-hura itu habis, hidupnya menjadi tidak sejahtera.
Ada juga orang yang berkata, “Saya tidak ingin terikat oleh agama, maka saya akan hidup bebas. Bebas melakukan kejahatan, bebas dalam pergaulan, bebas dalam segalanya!” Tanpa sadar, ia sedang menghambakan dirinya pada kejahatan, pergaulan bebas dan hidup tanpa keteraturan.
Orang-orang Yahudi yang baru percaya kepada Yesus rupanya juga tidak memahami kemerdekaan yang sedang Yesus bicarakan, sehingga merekaa berkata, “kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun.” (ay. 33).
Inilah yang dikatakan sebagai “kemerdekaan semu,” yaitu kemerdekaan yang seolah-olah merdeka, tetapi sesungguhnya hidup dalam keterjajahan.
Kata “memerdekakan” yang digunakan Yesus pada ay. 32 ini menggunakan kata Yunani: eleutheroô yang secara harafiah berarti “bebas dan tidak diperbudak.” Jadi, bukan kemerdekaan semu, melainkan kemerdekaan sejati.
Kemerdekaan sejati bukanlah ketika kita tidak menjadi hamba oleh sesuatu, melainkan ketika kita menghambakan diri kepada sesuatu yang tidak memperbudak kita. Sebab, tidak mungkin manusia bebas dari perhambaan.
Dalam contoh yang sederhana, Yesus mencontohkan pada ay. 34 “sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.”
Inilah yang dipertegas oleh Rasul Paulus dalam Rm. 3:23 “karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
Dengan kata lain, kekuatan dosa adalah kekuatan yang sulit ditaklukkan manusia. Dosalah yang mendatangkan maut dalam kehidupan manusia, dan tidak ada seorangpun yang dapat bebas dari maut, sebagaimana juga tidak seorangpun dapat terbebas dari dosa.
Dalam kemanusiaannya, manusia tidaklah berdaya menghadapi dosa. Manusia telah menjadi budak dosa, dimana ia tidak dapat keluar dari keterbudakannya kecuali jika ada yang memerdekakannya.
Jadi, tidaklah mungkin kita bisa berkata bahwa kita merdeka di dalam dosa. Dosa tidak menawarkan kemerdekaan, dosa hanyalah menawarkan perbudakan dalam hidup manusia.
Untuk benar-benar merdeka, hanya ada satu jaminan, yaitu Yesus Kristus. Pada ay. 36 Yesus berkata, “apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka”
Perkataan Yesus ini dipertegas oleh Rasul Paulus dalam Gal. 5:1, “supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.”
Jadi, jika kemerdekaan sejati hanya ada di dalam Kristus, maka fokus gereja kini dan untuk seterusnya adalah bagaimana mengajarkan tentang Kristus. Dengan cara begitulah gereja hadir sebagai pembawa kemerdekaan yang sejati, bukan sekedar kemerdekaan yang semu.
Belakangan ini, pengajaran tentang Kristus semakin kabur di antara gereja-gereja. Banyak gereja sibuk menampilkan keluarbiasaan organisasinya atau figurnya, dan lupa mengajarkan siapa Kristus. Bahkan yang lebih parah adalah banyak gereja ‘seolah-olah’ sedang berkata-kata tentang Kristus, tetapi sebenarnya sedang mengaburkan Kristus.
Banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang bisa kita lihat, misalnya maraknya pameran mujizat dalam berbagai bentuk KKR yang diselenggarakan oleh gereja-gereja dan lembaga-lembaga Kristen. Sepintas bagi kita kelihatannya KKR-KKR semacam itu sedang mengagungkan Kristus, tetapi sebetulnya tidaklah demikian.
Mengapa? Sebab, pengertian mujizat telah dikerdilkan dalam KKR-KKR semacam itu. Umat digiring untuk memahami bahwa mujizat itu haruslah spektakuler, seperti orang sakit parah yang disembuhkan, orang kerasukan yang dilepaskan atau orang mati dibangkitkan.
Padahal, esensi mujizat bukanlah pada apa yang terjadi pada saat itu, melainkan siapa yang mengerjakan semuanya itu.
Itulah sebabnya, jika kita membaca keseluruhan kitab Yohanes ini, kita hanya akan menjumpai tujuh saja mujizat yang dilakukan Yesus, yang dituliskan oleh sang penginjil. Sebab, penulis Injil Yohanes menyadari bahwa kekuatan besar yang ditawarkan Kristus bukanlah kekuatan mengubahkan secara ajaib, melainkan kekuatan yang membawa pencerahan pemikiran umat.
Itulah juga sebabnya dalam kitab-kitab Injil yang lain, setiap kali Yesus melakukan suatu perbuatan ajaib, Ia selalu melarang orang untuk menceritakan perbuatan ajaib-Nya itu, sebab Yesus menyadari bahwa kehadiran-Nya di dunia ini bukanlah untuk melakukan hal-hal ajaib, melainkan untuk mengubah dunia ini, memerdekakan dunia ini dari perbudakan dosa.
Inilah yang hendaknya menjadi visi kita bersama sebagai gereja-gereja Kristus. Kita harus memiliki semangat untuk memerdekakan dunia ini melalui pengajaran yang mencerahkan. Dengan demikian, kita benarr-benar menjadi “garam dan terang dunia.”
Amin! /MA/
Masuk: 19 Sep 2009 (19:20 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi