| Alkitab lainnya |
Benarkah demikian? Bagaimana seharusnya sikap kita?
Secara khusus, Markus 13 berbicara tentang perkataan-perkataan Yesus mengenai akhir zaman, yang diawali dengan nubuat Yesus mengenai kehancuran Bait Suci, dan kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan murid-murid mengenai kepastian waktu tibanya akhir zaman.
[3] “Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait [TUHAN]”
Bukit Zaitun terletak di sebelah timur Yerusalem. Dari situ bisa dilihat kemegahan Bait TUHAN secara utuh.
“Petrus, Yakobus, Yohanes” adalah tiga murid yang sangat akrab dengan Yesus. Wajar jika dalam sejarah gereja mula-mula, ketiganya menjadi yang paling berpengaruh. Sementara Andreas kemungkinan hanya mengikuti Petrus, saudaranya.
[4] “bilamanakah itu akan terjadi?”
Yang dimaksud oleh murid-murid Yesus itu adalah kapan persisnya Bait Suci itu akan runtuh (band. 13:2)
Namun, kehancuran Bait TUHAN dalam masyarakat Yahudi tertentu dipahami sebagai tanda penghakiman atas dunia atau yang di kalangan Eseni dan Kristen disebut akhir zaman.
Perhatikan pertanyaan selanjutnya “apakah tandanya (semeion) kalau semuanya itu akan sampai kepada kesudahannya”
Dalam tulisan Matius dikaitkan dengan konsep parousia “tanda kedatangan-Mu”
[5] “Waspadalah (blepete) supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu (planêsê)”
Di sinilah Yesus mulai mengingatkan murid-murid-Nya dan gereja akan kedatangan Mesias palsu.
Kata planêsê bisa juga berarti “menipu”
[6] “Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.”
Nama yang dimaksud bukan “Yesus” tetapi “Mesias” atau “Kristus” (band. Mat. 24:5)
[7-9a] Tanda-tanda Akhir Zaman
- “deru perang dan kabar-kabar tentang perang” (tanda-tanda akibat rusaknya hubungan antar manusia)
- “gempa bumi dan kelaparan” (tanda-tanda akibat rusaknya hubungan manusia dengan alam)
- “orang-orang percaya akan ditangkap” (tanda-tanda akibat rusaknya hubungan manusia dengan TUHAN)
Markus tidak sekedar berbicara tentang masa yang akan datang tetapi juga menjawab pergumulan jemaat yang menjadi tujuan tulisannya.
Pada waktu itu jemaat mulai mempertanyakan apakah Kristus akan datang kembali? Sementara, penganiayaan semakin meningkat. Perselisihan antara pengikut Yesus dengan orang-orang Yahudi dimanfaatkan oleh penguasa Romawi untuk membinasakan orang-orang Kristen.
Di sisi lain, Palestina menghadapi krisis pangan akibat perang yang tak kunjung usai yang terjadi di wilayah-wilayah Romawi dan bangsa-bangsa jajahannya, serta pemberontakan-pemberontakan yang juga berdampak pada kesengsaraan rakyat.
Situasi ini dimanfaatkan oleh orang-orang (aliran-aliran) tertentu untuk menyebarkan ajaran-ajaran palsu. Mereka memberitakan kedatangan Kristus sudah dekat dan menuntut kesalehan hidup jemaat.
[9b-10] Fokus pada Pemberitaan Injil
Apapun yang terjadi di dunia ini, gereja hendaknya tetap fokus pada misi utamanya, yaitu memberitakan Kabar Baik (Injil).
Pada periode gereja mula-mula, Kabar Baik dipahami dalam dua kerangka utama:
1. Pemberitaan tentang Kristus
Pemberitaan tentang Kristus terfokus pada dua hal:
a. Siapa Kristus sebenarnya
Pada waktu itu, banyak orang, khususnya orang-orang Yahudi dan Romawi, menganggap Kristen sebagai ajaran sesat dan bagian dari upaya pemberontakan terhadap kerajaan.
Peristiwa penyaliban Yesus, dianggap sebagai bagian dari upaya membinasakan penyesat dan menghukum pelaku kudeta.
Karena itu, gereja mula-mula terfokus pada pemberitaan tentang Kristus sebagai pembaharu dan simbol kasih serta pengharapan.
b. Keselamatan di dalam Kristus
Keselamatan hanya bisa diperoleh di dalam Kristus, sebab Ia adalah manifestasi Firman TUHAN
2. Pemulihan sosial
Terutama pada upaya menghilangkan sekat-sekat sosial antara kaum “atas” dengan kaum “bawah” – antara “orang kaya” dan “orang miskin” – antara “ulama” dan “orang berdosa.”
Ajaran Kristus adalah untuk menjembatani hubungan antar manusia sekaligus hubungan manusia dengan TUHAN.
[11-13] Jaminan dan Upah
TUHAN tidak akan membiarkan umat-NYA dianiaya, tetapi bukan berarti penganiayaan itu tidak akan terjadi.
Tidak ada janji bahwa penganiayaan itu tidak ada, yang dijanjikan di sini adalah, pengharapan kita bukanlah pengharapan yang semu. Sebab, di balik setiap salib yang harus kita pikul, tersedia jawaban yang melegakan, bahwa pada akhirnya, kita akan memperoleh keselamatan yang sejati. []
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 09 Ags 2010 (22:05 UTC+07)











Komentar Pembaca
Rekomendasi