| Alkitab lainnya |
Penderitaan tidak mengenal latar belakang seseorang. Penderitaan juga tidak mengenal kaya-miskin. Penderitaan terjadi kepada siapa saja, bahkan terhadap seorang yang sangat saleh seperti Ayub.
Yesus sendiri yang adalah Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:14), Anak Allah yang tunggal (Yoh. 3:16), pun tak luput dari penderitaan. Ia bahkan dilahirkan di kandang yang hina, dituding sebagai penyesat bahkan harus menjalani via dolorosa (jalan sengsara) hingga mati di kayu salib karena dituduh sebagai pemberontak.
Jadi, jika penderitaan bisa dialami oleh siapa saja, lalu bagaimana kita menyikapi penderitaan dalam hidup kita?
Marilah kita melihat jawaban Ayub atas pandangan Bildad, temannya (Ayub 8). Karena itu, untuk memahami perikop ini, kita perlu memahami dulu siapa Bildad dan bagaimana pandangannya atas apa yang sedang menimpa Ayub.
“Bildad orang Suah” – Septuaginta menyebutnya sebagai “Bildad yang berdaulat dari Suah.” Suah adalah nama sebuah kota yang dalam Bahasa Ibrani menggunakan kata Shuakh secara harafiah berarti “lubang kecil.”
Dalam kitab Kejadian dikatakan bahwa Suah adalah nama anak Abraham dari istrinya, Ketura, dan juga dari suku Arab (Kej. 25:2). Situasi nyata dari orang-orang Suah tidak begitu diketahui. Demikian juga sangat sulit melacak posisi geografinya, sebab banyak di antara mereka adalah orang yang senang berpindah-pindah dan tidak menetap. Kemungkinan, Bildad tinggal tidak jauh dari Elifas, teman Ayub yang lain, sebab mereka membuat suatu “perjanjian” atau “kesepakatan” untuk pergi mengunjungi Ayub. Kemungkinan posisinya berada di Gurun Arab. Ia memiliki pengetahuan tentang kebijaksanaan sama seperti Elifas.
Bagaimana pandangan Bildad tentang penderitaan Ayub?
Bildad mewakili kelompok orang beriman dalam melihat penderitaan Ayub. Ia datang kepada Ayub untuk memberikan penghiburan. Menurutnya, penderitaan Ayub bukanlah karena perbuatan Ayub, melainkan karena dosa yang telah dilakukan oleh anak-anaknya (8:4). Karena itu, satu-satunya cara bagi Ayub untuk lepas dari penderitaannya adalah mengikhlaskan kematian anak-anaknya sebagai hukuman TUHAN atas dosa-dosa mereka. Selanjutnya, Ayub diminta untuk fokus pada perbuatan-perbuatan baik dalam hidupnya. Ayub harus berhenti dari amarahnya kepada TUHAN, seakan-akan Ayub memprotes otoritas TUHAN dalam menghukum anak-anaknya.
Pandangan Bildad ini seringkali mewakili pandangan orang percaya akan penderitaan. Kita sering memandang penderitaan sebagai hukuman ilahi yang harus diterima dengan segala kepasrahan. Sehingga, apabila ada teman-teman kita atau saudara-saudara kita yang mengalami penderitaan dalam hidupnya, maka dengan sangat mudah kita menyarankan dia untuk bertobat dari segala dosa.
Padahal, tidak semua penderitaan dalam hidup kita merupakan hukuman TUHAN atas kita. Bisa saja itu merupakan cobaan dari Iblis, sama seperti yang dialami oleh Ayub.
Maka, jika kita masih memiliki cara berpikir seperti itu, simaklah bagaimana jawaban Ayub atas pandangan Bildad:
1. (2) “masakan manusia benar di hadapan TUHAN?”
Jika penderitaan manusia adalah akibat dari dosa-dosa manusia dan merupakan bagian dari hukuman TUHAN (band. 8:3), maka seharusnya tidak ada manusia yang tidak menderita, sebab semua manusia telah jatuh ke dalam dosa. Tidak ada manusia yang benar di hadapan TUHAN (band. Rm. 3:23).
Ayub menggunakan kata “enosh” di sini, bukan “adam.” Kata “enosh” adalah kata yang biasanya digunakan dalam kitab-kitab puisi, untuk menunjukkan kehinaan manusia. Dalam Septuaginta (LXX), kata ini diterjemahkan “brotos” artinya “manusia yang dapat mati.” Untuk mengingatkan kita betapa kita tidak lebih dari pada mahluk lain, yang juga pada akhirnya harus menghadapi kematian, sebagai upah dari dosa-dosa kita.
Apa yang ditekankan Ayub pada pernyataannya ini adalah bagaimana kita menyikapi penderitaan itu secara bijaksana. Tidak melulu menuding bahwa penderitaan adalah hukuman TUHAN.
Ayub juga menegaskan bahwa tidak mungkin manusia dengan segala keterbatasannya dapat berusaha untuk menjadikan dirinya benar di hadapan TUHAN, sebab pada dasarnya, manusia mudah jatuh ke dalam dosa. Maka, tidak ada yang bisa manusia lakukan untuk memulihkan hubungannya dengan TUHAN.
Itulah sebabnya, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa keselamatan bukanlah hasil jerih payah manusia, melainkan anugerah dari TUHAN yang dilandasi oleh kasih-NYA yang besar (Yoh. 3:16).
Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia juga tidak dapat menghapus segala dosanya dengan perbuatan-perbuatan amal. Tetapi, satu-satunya yang bisa menyelamatkan manusia hanyalah pengorbanan Kristus di kayu salib. Itu harga mati bagi iman kita!
2. (4-10) Perbuatan-perbuatan TUHAN adalah agung, dahsyat dan mengherankan. Semua itu tidak dapat terselami oleh pikiran manusia. Rancangan-NYA melebihi apa yang dipikirkan oleh manusia (band. Yes. 55:8).
Karena itu, janganlah kita menafsirkan rancangan TUHAN menurut pikiran kita sendiri. Sebab hal itu dapat menjerumuskan kita kepada justifikasi atas orang lain.
Bandingkan cara pandang murid-murid Yesus dalam Yoh. 9:2 ketika mereka melihat seorang yang buta sejak lahir, maka yang muncul dalam benak mereka adalah, “siapakah yang berbuat dosa?”
Inilah kenaifan orang-orang beriman, seringkali kita begitu mudah menuduh orang lain berdosa, hanya karena hidup orang itu tidak sebaik hidup kita. Dengan naifnya kita berkata dalam hati kita bahwa orang itu sedang dihukum TUHAN. Kita lupa bahwa rancangan TUHAN adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan (Yer. 29:11).
3. (11-12) TUHAN melakukan segala sesuatu menurut keinginan-NYA. Manusia tidak dapat menyelami pikiran TUHAN. Karena itu, manusia tidak dapat memahami setiap karya TUHAN dalam hidupnya, selain berserah kepada TUHAN.
“TUHAN yang memberi, TUHAN juga yang mengambil” (1:21) inilah inti pemikiran Ayub.
Artinya, marilah kita menjalani hidup ini dengan bertanggung jawab. Lakukanlah segala sesuatu sebaik mungkin, semaksimal apapun yang bisa kita lakukan. Tapi satu hal harus kita ingat, bahwa kita bukanlah TUHAN.
Kita adalah manusia yang punya keterbatasan. Ada saat dimana kita bangkit sebagai pemenang, tapi ada saat dimana kita jatuh. Dalam segala hal itu, mengucap syukurlah! Serahkah segala sesuatu ke tangan TUHAN, dan biarkan TUHAN yang membentuk hidup kita. Amin [ ]
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 10 Jul 2010 (20:58 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi