| Alkitab lainnya |
Tetapi, apakah kita mengetahui bahwa tidak selamanya, orang sebesar Musa, bertindak menurut rencana TUHAN?
Perikop kita hari ini memberikan gambaran yang jelas bagaimana tindakan Musa ternyata berseberangan dengan rencana TUHAN. Dan ini merupakan gambaran nyata yang kerap kali juga terjadi dalam kehidupan kita.
Seringkali, kita telah menyiapkan rencana terbaik kita untuk sesuatu yang kita anggap baik. Bahkan, kita sering mengorbankan banyak waktu untuk mencapai apa yang telah kita rencanakan itu. Kita selalu berdoa agar TUHAN memberikan yang terbaik bagi kita. Tetapi, yang terbaik yang kita minta sebetulnya lebih pada apa yang kita anggap baik, bukan apa yang baik menurut TUHAN.
Karenanya, ketika ternyata rencana kita adalah rencana yang tidak berkenan di hadapan TUHAN, maka kita seringkali heran dan tak jarang dengan mudahnya kita menganggap itu sebagai hukuman TUHAN. Padahal, tidak semua keburukan yang terjadi dalam hidup kita, adalah hukuman yang TUHAN berikan.
Jadi, bagaimana cara kita memahami rencana TUHAN?
Ketika orang-orang Israel berhasil keluar dari Mesir atas perjuangan Musa, tentunya mereka sangat bergembira. Mereka bersyukur atas kebebasan itu. Harapan mereka adalah Musa akan menghantarkan mereka ke sebuah negeri baru dimana mereka tidak lagi hidup sebagai budak, melainkan bangsa yang merdeka.
Namun, betapa hancurnya harapan mereka ketika mereka terjebak di tepi Laut Teberau. Sementara di depan mereka terbentang luasnya Laut Teberau, di belakang mereka tampak pasukan perang Mesir dipimpin langsung oleh Raja Firaun datang mendekati mereka.
Yang lebih mengerikan adalah tujuan kedatangan pasukan perang Mesir kali ini bukanlah untuk menangkap dan menjadikan mereka budak lagi di Mesir, dimana mereka masih diberi makan oleh Kerajaan Mesir. Tetapi, tujuan kedatangan pasukan Mesir kali ini adalah untuk membinasakan mereka.
Tentulah bayang-bayang kematian begitu menghantui mereka. Sementara, mereka sendiri sama sekali tak punya pengalaman berperang. Para orang tua tentulah sangat ketakutan membayangkan anak-anak mereka akan dibantai di depan mata mereka sendiri. Suami-suami membayangkan istri mereka dibunuh, demikian juga sebaliknya.
Dalam ketakutan inilah mereka mulai bersungut-sungut kepada Musa. Pada ayat 11 mereka berkata kepada Musa, “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kau perbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?”
Harapan untuk beroleh hidup baru di negeri baru segera berubah menjadi ketakutan akan kematian. Sementara, sukacita atas kebebasan berubah menjadi sungut-sungut. Kebanggaan kepada Musa berubah menjadi caci-maki, seolah-olah Musalah yang bersalah atas semua kondisi yang mereka alami.
Inilah yang sering terjadi dalam hidup kita. Ketika kenyataan tak sesuai dengan rencana kita, kita mulai bersungut-sungut. Dalam tingkat yang lebih jauh, kita mulai mencari-cari kesalahan agar kita tidak perlu malu menghadapi kegagalan. Tanpa kita sadari, kecerobohan kita mulai menyeret orang lain untuk jatuh, entah itu suami kita, istri kita, anak-anak kita, saudara kita, teman kita, tetangga kita, atau siapa saja, yang seharusnya tidak perlu terlibat dalam kegagalan kita.
Meski begitu, banyak juga di antara kita yang sanggup bersabar menghadapi kenyataan. Kita mencoba menguatkan hati kita dengan doa-doa kita, bahkan disertai dengan kata-kata yang mendorong kita untuk tidak putus asa.
Sikap inilah yang coba diambil oleh Musa. Di tengah-tengah kepanikan dan keputusasaan bangsanya, ia mencoba untuk bersikap tenang. Pada ayat 13 dan 14 Musa berkata, “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”
Sepintas kalimat ini menggambarkan kekuatan iman Musa. Sepintas kita melihat sikap Musa sebagai sikap yang menunjukkan keteguhan iman percayanya kepada TUHAN. Itulah sebabnya kita pun sering bersikap seperti Musa.
Ketika jalan hidup kita ternyata tidak sama dengan apa yang kita inginkan, maka kita mulai menghibur diri kita dengan mengatakan, “Pasti TUHAN akan berikan yang terbaik bagi kita.”
Tidak salah, tapi sayangnya, di mulut kita berkata, “TUHAN akan berikan yang terbaik bagi kita” sementara di hati kita berkata, “TUHAN akan jadikan hidup saya seperti yang saya inginkan.”
Di sinilah kekeliruan pikiran Musa. Ia berpikir, dengan menyuruh orang Israel berdiam diri saja, maka TUHAN akan mengambil alih semua persoalan, dan Dia akan berperang menggantikan bangsa itu. Akibat kekeliruan pikiran Musa itu, maka TUHAN menegur Musa pada ayat 15, “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat.”
TUHAN tidak menginginkan bangsa itu diam saja bukan karena mustahil bagi TUHAN jika Ia mengikuti keinginan hati Musa. Hanya saja, apa yang dipikirkan Musa sama sekali tidak mendidik bangsa itu.
Di sinilah uniknya karya TUHAN. Ia membimbing kita seperti orang tua yang bijak ketika mendidik anaknya.
Orang tua yang bijak tidak akan selalu mengikuti keinginan anaknya. Ada waktu dimana ia harus menolak, karena ia tidak berpikir bagaimana menyenangkan anaknya. Yang dipikirkannya adalah bagaimana mendewasakan anaknya. Menjadikan anaknya sebagai orang yang punya karakter baik dan teguh dalam menghadapi tantangan hidup.
Itulah yang TUHAN lakukan dalam hidup kita. Ia sedang memproses kita menjadi orang yang dewasa dalam iman. Itulah juga sebabnya mengapa ada kalanya TUHAN tidak mengabulkan keinginan kita, sebab tidak semua keinginan kita bermanfaat untuk mendewasakan kita. Bahkan, lebih banyak keinginan kita yang hanya bersifat kesenangan belaka.
Jadi, berpikirlah dalam kerangka kerja TUHAN. Pahami setiap nilai positif di balik setiap peristiwa yang bertentangan dengan rencana kita, maka kita akan memahami apa yang menjadi rencana TUHAN di dalam kehidupan kita.
Satu hal yang pasti, jika kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya ke dalam rencana TUHAN, Ia pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Sesuatu yang akan mendewasakan iman kita dan menjadikan kita sebagai anak-anak kesayangan-Nya.
Satu hal juga yang harus kita ingat, bahwa dibalik persoalan apapun, TUHAN selalu punya jalan keluar buat kita. Hanya satu yang Dia minta, yaitu agar kita percaya sungguh-sungguh kepada-Nya. Seperti pelangi yang indah, akan terlihat setelah datangnya hujan. Demikian juga kita akan melihat betapa indahnya karya TUHAN dibalik setiap persoalan hidup kita. Saat sakit Dia yang menyembuhkan kita, saat berduka Dia yang menghibur kita, saat putus asa dan berbeban berat Dia yang memberi kelegaan, saat kita merasa sendirian, Dia selalu setia menemani kita. Tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan di dalam TUHAN. Saat kita melihat pelangi, kita ingat bahwa TUHAN tetap setia dengan janji-Nya.
Ingatlah perkataan Yesus dalam Matius 7:11, “jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” [ ]
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 22 Jul 2010 (21:49 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi