| Alkitab lainnya |
Menurut para penafsir Perjanjian Baru (PB), ajaran-ajaran palsu yang menyebar di Kolose adalah bagian dari ajaran Gnosis, yang menurut Paulus merupakan ajaran yang berangkat dari filsafat yang hampa dan palsu (2:8).
Gnosis adalah sebuah aliran pemikiran yang menekankan pada pentingnya pengetahuan untuk mencapai suatu tahapan pencerahan spiritual. Dalam kehidupan sehari-hari, para penganut Gnosis mengajarkan pentingnya suatu hidup berkontemplasi atau menyendiri, semacam bersemedi, untuk mencapai tingkatan kesempurnaan atau kedekatan dengan TUHAN.
Ajaran kelompok ini rupanya tidak saja merasuk ke wilayah doktrin atau aqidah jemaat, tetapi juga turut berpengaruh di dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya antara lain hilangnya keseimbangan dalam interaksi sosial, karena adanya penekanan untuk hidup menyendiri tadi. Secara lebih jauh, pola hidup semacam ini juga berimbas pada kehidupan rumah tangga, dimana hubungan kekeluargaan itu menjadi kabur karena setiap pribadi sibuk dengan upaya mendekatkan diri kepada TUHAN.
Dalam konteks sekarang, kita mungkin tidak lagi mengalami apa yang dialami oleh jemaat Kolose, tetapi setidaknya ada kemiripan kasus yang mengakibatkan retaknya hubungan kekeluargaan.
Jika dalam kehidupan keluarga di jemaat Kolose, hubungan antar anggota keluarga menjadi renggang akibat masing-masing anggota keluarga sibuk melakukan meditasi-meditasi dengan jalan hidup menyendiri, maka pada masa sekarang, masing-masing anggota keluarga sibuk mengurusi urusannya sendiri-sendiri, dan melupakan saat-saat bersama dalam keluarga.
Ayah sibuk mengurusi bisnisnya demi mendapatkan penghasilan yang sebesar-besarnya. Ibu sibuk dengan pertemuan-pertemuan arisan atau malah sibuk menghabiskan waktu di depan televisi mengikuti perkembangan serial-serial sinetron. Anak-anak sibuk mengurusi kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler. Dan banyak lagi kesibukan lain yang tanpa sadar semakin mengurangi waktu untuk bersama-sama dalam keluarga.
Bisa jadi, ketika semuanya pulang ke rumah, masing-masing merasa lelah, sehingga ayah tidak bisa mengajak anak-anaknya berbincang-bincang atau bermain, ibu lupa menyiapkan makan malam, anak-anak pun terlelap tanpa sempat mengerjakan pekerjaan rumah. Lama-lama rutinitas semacam ini membuat makna kebersamaan dalam keluarga itu menjadi hilang.
Menanggapi persoalan semacam ini, Rasul Paulus, secara khusus dalam pasal 3:18 sampai 4:1 memfokuskan nasihatnya pada persoalan rumah tangga. Untuk itu, marilah kita menyimak inti dari sebagian nasihat-nasihat Rasul Paulus tersebut.
NASIHAT KEPADA ISTRI
[18] “tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam TUHAN”
Kata “tunduklah” menggunakan kata perintah “hupo-tasses-the” yang artinya “patuh; taat; tunduk.” Kata ini juga yang digunakan Rasul Paulus ketika berbicara tentang ketundukan kepada pemerintah (Rm. 13:1).
Dalam Efesus 5:23-24, Rasul Paulus berkata, “hai istri, tunduklah kepada suami seperti kepada TUHAN, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu, sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu.”
Jadi, di sini sangatlah jelas bahwa Rasul Paulus menggambarkan hubungan suami dan istri itu seperti hubungan Kristus dengan jemaat. Maka, Paulus menasihatkan kepada istri untuk hidup sebagai jemaat yang patuh dan taat kepada Kristus.
Kepada Timotius, Paulus memberikan gambaran bagaimana akibatnya jika seorang istri tidak tunduk kepada suaminya, yaitu sama seperti ketika Hawa tidak tunduk kepada Adam, akibatnya adalah rusaknya hubungan antara Adam dan Hawa. Keduanya jatuh dalam dosa, dan rumah tangga mereka diwarnai dengan berbagai kejahatan (1Tim. 2:13-15).
Tetapi, janganlah nasihat ini ditafsirkan bahwa istri bisa dijajah suami. Jangan juga menafsirkan bahwa “ketundukan” di sini berarti ketundukan semu, yang memungkinkan seorang istri untuk sama-sama terlibat dalam kejahatan dengan suaminya.
Dalam nasihat Paulus, Paulus mengatakan “sebagaimana seharusnya di dalam TUHAN.”
Kata “sebagaimana” di sini menggunakan kata “a-ne-ko” artinya “sesuai; cocok; sejalan.”
Artinya, “tunduk” haruslah ditafsirkan dalam perilaku-perilaku yang sesuai atau sejalan dengan kehendak TUHAN.
NASIHAT KEPADA SUAMI
[19] “kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia”
Dalam Bahasa Yunani, ada 5 kata yang bisa diterjemahkan “kasih” dalam Bahasa Yunani:
1. AGAPE
Kasih AGAPE menggambarkan kasih TUHAN yang tiada tara. Kasih yang tidak menuntut balas, tetapi secara tanpa pamrih terus-menerus mengasihi
2. STORGE
Kasih FILIA menggambarkan kasih persaudaraan. Kasih yang didasarkan pada hubungan kekeluargaan atau kekerabatan, seperti kasih seorang bapak kepada anaknya.
3. FILIA
Kasih FILIA menggambarkan kasih persahabatan. Kasih yang didasarkan pada hubungan karib, seperti kasih seorang sahabat.
4. EROS
Kasih EROS menggambarkan kasih nafsu. Kasih yang didasarkan pada dorongan alami dari dalam diri seseorang, seperti dorongan seksual atau kerinduan yang mendalam. Kasih semacam ini biasanya menggebu-gebu pada masa-masa awal hubungan pacaran atau pernikahan.
5. THELEMA
Kasih THELEMA menggambarkan kasih hasrat. Kasih ini tidak begitu populer karena mirip dengan kasih EROS. Tetapi, perbedaannya adalah kasih THELEMA lebih didorong oleh hasrat untuk melakukan sesuatu, hasrat untuk menaklukkan atau hasrat untuk mengatasi.
Dalam nasihat Paulus pada ay. 19, Paulus menggunakan kata “a-ga-pao” yang berasal dari kata “AGAPE.” Inilah kasih yang harus diberikan oleh seorang suami kepada istrinya. Bukan sekedar kasih karena adanya ikatan suami-istri (storge), bukan kasih karena adanya keintiman (filia), bukan kasih karena adanya nafsu (eros), dan bukan juga kasih karena ingin menguasai (thelema).
Dalam Alkitab, TUHAN telah menunjukkan bagaimana model kasih “AGAPE” itu, yaitu kasih yang mau mengampuni ketika umat-NYA berbuat dosa, bahkan kasih yang merelakan Anak Tunggal-NYA demi penebusan dosa (Yoh. 3:16).
Itulah sebabnya Paulus berkata, “jangan berlaku kasar terhadap dia.” Seorang suami haruslah memahami karakter istrinya, sehingga kasih itu melingkupi keluarga. Kepada suami yang demikianlah seorang istri harus tunduk, bukan kepada suami yang tidak mengenal kasih AGAPE.
NASIHAT KEPADA ANAK-ANAK
[20] “taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam TUHAN”
Kata “taatilah” menggunakan kata perintah “hupa-koue-te” (baca: HU-PA-KUE-TE) arti harafiahnya “dengarkan baik-baik; perhatikan; penuhi suatu perintah.” Maka, ketaatan tak hanya sekedar mendengarkan nasihat orang tua, tetapi juga melakukan perintah itu sesuai dengan apa yang diperintahkan.
Dalam nasihatnya kepada Jemaat Efesus, Paulus menegaskan dalam hal apa seorang anak harus mentaati orang tuanya, “hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam TUHAN” (Ef. 6:1). Dengan demikian, ketaatan di sini bukanlah ketaatan yang tanpa batas, melainkan ketaatan dalam TUHAN, yaitu melakukan segala sesuatu yang baik, bukan yang jahat.
Ini sekaligus merupakan pesan bagi anak-anak untuk turut mengawasi orang tua mereka. Mengingatkan orang tua jika ternyata prilaku orang tua telah menyimpang dari kehendak TUHAN.
NASIHAT KEPADA ORANG TUA
[21] “janganlah sakiti hati anakmu, supaya yang tawar hatinya”
Kata “sakiti hati” menggunakan kata “ere-thi-zo” yang secara harafiah berarti “menstimulasi” atau “merangsang,” khususnya kepada hal-hal yang negatif, misalnya marah atau sedih.
Sedangkan kata “tawar hati” menggunakan kata “a-thu-meo” yang artinya “kehilangan spirit,” yaitu keadaan dimana seorang anak merasa dirinya bersalah, kehilangan keteguhan hati, atau patah semangat.
Paulus tidak menghendaki anak-anak dipaksa untuk akhirnya jatuh. Anak-anak haruslah didorong untuk menemukan potensi dalam diri mereka, sehingga mereka tidak dihantui oleh kesalahan-kesalahan masa lalu.
Kepada Jemaat Efesus, Paulus menasihatkan, “bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat TUHAN.”
Paulus menyadari bahwa anak-anak berada dalam proses pertumbuhan yang sangat penting. Para psikolog mengatakan bahwa anak-anak seperti kertas putih polos. Jika kita salah mencoretkan tinta ke atas kertas itu, maka coretan itu akan terus membekas dalam kertas itu.
Begitulah anak-anak. Kepahitan yang dialami anak-anak sejak kecil akan terus membekas dan akhirnya membentuk karakternya kelak.
Seorang anak yang terus-menerus dikekang, akan menjadikan dirinya berkepribadian pemberontak. Sementara, seorang anak yang diberi kebebasan berlebihan, akan menjadikan dirinya sulit mengontrol diri. Maka, sebagai orang tua, kebijaksanaan itu menjadi kunci utama.
Kunci kebijaksanaan yang harus dipegang oleh orang tua adalah ajaran dan nasihat TUHAN yang ada dalam Alkitab. Maka, mengajarkan anak sejak dini untuk membaca Alkitab akan membentuk mentalnya dengan lebih baik, ketimbang membiarkan anak membaca buku-buku anak-anak yang terkadang tidak sesuai dengan dirinya.
Sebagai contoh, banyak remaja memiliki kecenderungan untuk melakukan tindak kekerasan karena terinspirasi dari cerita-cerita komik yang mereka baca.
Itulah sebabnya, dalam tradisi Yahudi, ketika seorang anak untuk pertama kalinya bisa membaca, ia diwajibkan membaca kitab-kitab Taurat, khususnya kitab Ulangan. Dari sanalah ia mengenal hukum agama. Seorang ahli sejarah asal Israel bernama Yosefus mengatakan, suatu ketika ia datang ke Betlehem dan mendapati di sana bahwa anak-anak usia 12 tahun telah menguasai kitab-kitab Taurat.
Penguasaan Alkitab, tidak saja mendorong anak untuk menguasai hukum TUHAN, tetapi juga melatih kecerdasan intelektualnya, terutama di dalam mengaplikasikan hukum itu. Dan hal ini telah terbukti, betapa kuatnya orang-orang Yahudi menguasai ekonomi, politik, hukum, seni bahkan sains di negara-negara maju, termasuk Amerika.
Maka, sangatlah tepat nasihat Paulus, “didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat TUHAN.”
Amin!
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 10 Apr 2010 (16:08 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi