| Alkitab lainnya |
Pernyataan “lihat, AKU menyuruh utusan-KU, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-KU!” pada ay. 1 menegaskan bahwa waktu penghukuman itu sudah dekat, dan TUHAN telah menyiapkan seorang utusan, yang kemudian dalam Perjanjian Baru dinyatakan bahwa utusan itu adalah Yohanes Pembaptis.
Karena itu, jika kita membaca tafsiran-tafsiran tentang perikop ini, umumnya para penafsir menghubungkan perikop ini (Mal. 3:1-5), sebagai penggenapan hukuman TUHAN atas keadaan moral bangsa Israel.
Untuk itu, sebelum lebih jauh membahas perikop ini, marilah kita lebih dulu melihat latar belakang kitab Maleakhi. Kitab ini ditulis setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, sekitar tahun 539 SM. Ketika itu, kerajaan Persia menjadi penguasa dunia, mereka memberi kebebasan kepada bangsa-bangsa buangan untuk kembali ke negerinya masing-masing, bahkan kebebasan mereka untuk membangun negeri mereka sendiri dijamin sedemikian rupa.
Jaminan itu juga dirasakan oleh orang-orang Yehuda, tetapi mereka merasa tidak mendapat jaminan penuh, sebab pusat pemerintahan mereka ditempatkan di Samaria, bukan di Yerusalem. Akibatnya, sering terjadi perselisihan antara orang-orang Yehuda dengan pemerintah-pemerintah Samaria, dan ketika orang-orang Yehuda bermaksud membangun kembali tembok Yerusalem, maka pemerintah Samaria menuding mereka hendak memberontak.
Belum lagi pada saat itu mereka memiliki hubungan yang tidak baik dengan bangsa-bangsa tetangga mereka, misalnya dengan orang-orang Edom dan Arab.
Kondisi ini menjadikan orang-orang Yehuda menjadi tidak kuat dan tidak cukup bersemangat untuk membangun kembali Yerusalem. Mereka cukup dikuatkan ketika Nabi Zakharia dan Hagai mendorong mereka untuk membangun kembali Bait Suci. Namun, ketika pembangunan berjalan, mereka sadar bahwa Bait Suci yang mereka bangun tidaklah sekokoh Bait Suci mula-mula, sebelum dihancurkan oleh Babel.
Janji-janji kemakmuran Zakharia dan Hagai juga tak kunjung datang, sehingga mereka semakin frustasi dan ogah-ogahan menjalani kehidupan keagamaan mereka. Mereka mulai tidak taat pada pemimpin mereka karena mereka melihat prilaku moral pemimpin mereka yang kian menyimpang dari hukum agama. Alhasil, mereka pun merasa tidak perlu mentaati aturan-aturan pemimpin mereka.
Inilah keadaan Yehuda pada masa Maleakhi. Semangat mereka yang tumbuh pada masa Zakharia dan Hagai mulai padam. Mereka semakin ragu dengan janji-janji para nabi, sebab keadaan yang mereka alami justru sebaliknya dari nubuatan-nubuatan para nabi.
Keadaan semacam ini kerap terjadi dalam kehidupan kita, ketika kita melihat tidak ada perubahan dalam kehidupan keagamaan kita. Ketika apa yang kita harapkan, ternyata tak kunjung datang, apalagi ketika kita melihat bahwa pemimpin-pemimpin agama kita justru tidak menjadi teladan dalam kehidupan kita.
Keadaan semacam ini membuat kita ragu-ragu, ogah-ogahan bahkan putus asa. Kita seperti kehilangan pegangan dalam hidup, dan tidak tahu bagaimana harus melangkah ke depan.
Dalam situasi dan kondisi itulah Maleakhi muncul dan menubuatkan bahwa jika sikap umat bertahan seperti itu, maka mereka akan memetik kehancuran sebagai akibat dari hukuman TUHAN.
Tetapi, TUHAN Maha Baik, ketika umat seharusnya menghadapi kehancuran akibat sikap mereka sendiri, TUHAN justru mengutus utusan dan mendatangkan Mesias sebagai Penyelamat umat.
[1a] “lihat, AKU menyuruh utusan-KU (mal’akhi)”
Siapakah utusan TUHAN itu? Dalam Mal. 4:5 ditegaskan “AKU akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.”
Inilah sebab-musababnya kenapa orang-orang Yahudi berpikir bahwa nabi yang akan datang kemudian itu adalah Elia (band. Mat. 16:14). Bahkan, mereka berpikir bahwa yang dimaksud dengan “utusan-KU” (mal’akhi) di sini adalah Mesias itu sendiri. Tetapi ayat ini begitu jelas menunjukkan bahwa utusan itu hanyalah seorang pendahulu Sang Mesias, ia datang untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias itu sendiri (lihat Mat. 11:10).
Itulah sebabnya di sini dikatakan bahwa kedatangannya adalah untuk “mempersiapkan jalan di hadapan-KU (di hadapan TUHAN)”
[1b] “dengan mendadak TUHAN yang kamu cari itu akan masuk ke bait-NYA”
Pada bagian inilah baru Maleakhi berbicara tentang Sang Mesias. Dia adalah manifestasi dari TUHAN sendiri, sebab Sang Mesias adalah manifestasi dari Kalam TUHAN. Ia adalah Firman yang menjadi manusia (Yoh. 3:16).
Ia datang tanpa diduga oleh orang-orang Yahudi, ketika mereka berpikir bahwa Ia akan datang dalam kemegahan istana sebagai seorang raja, Ia justru datang sebagai seorang bayi yang tak berdaya dan jauh dari perhatian orang-orang, dilahirkan di palungan hewan.
“Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki”
Kata “Malaikat Perjanjian” diterjemahkan dari kata mal’akh habberith, yang lebih tepat diterjemahkan “utusan perjanjian” (band. KJV: messenger of covenant). Jadi, bukan “malaikat” sebagaimana dipahami oleh kaum Saksi Yehova, mereka berpikiran bahwa Yesus Kristus, Sang Mesias, adalah malaikat pertama yang diciptakan TUHAN. Sebab, kata “mal’akh” tidak selalu berarti “malaikat.” Band. Kej. 32:3 ketika Yakub menyuruh utusannya, di sana juga menggunakan kata “mal’akh.”
[2] “Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-NYA?”
“Siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila IA menampakkan diri?”
Dua kalimat ini menunjukkan betapa dahsyatnya tatkala Sang Mesias datang ke dunia. Tidak ada seorang pun dapat menyembunyikan kesalahannya dan tidak akan ada lagi kepura-puraan yang tidak akan diungkapkan-Nya. Bahkan para pemimpin agama sekalipun akan dibuat-Nya bungkam.
Demikianlah kita melihat bagaimana Yesus Kristus membungkam para ahli Taurat, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki, yaitu mereka yang dituakan dalam hal agama.
Tidak ada yang tersembunyi di hadapan TUHAN. Di hadapan manusia kita bisa berpura-pura saleh, pura-pura rajin beribadah, pura-pura memberi persembahan dan berbagai bentuk kepura-puraan lainnya, tetapi di hadapan TUHAN, semuanya itu akan ditelanjangi.
Sebab, di sini ditegaskan “IA seperti api tukang pemurni logam”
Api tukang pemurni logam sangatlah panas untuk melelehkan bijih besi, memisahkan antara logam dengan kotoran, menghasilkan logam murni.
TUHAN digambarkan seperti “api” sebagai gambaran atas keadilan-NYA. IA akan menjatuhkan hukuman atas kejahatan dan mengadili umat-NYA.
Umat digambarkan seperti logam yang dimurnikan. Logam murni akan menjadi seperti cermin yang dapat memantulkan wajah sang pemurni, yaitu TUHAN. Artinya, umat yang telah dimurnikan akan memantulkan wajah TUHAN dalam setiap perkataan, perbuatan dan terutama pikirannya.
“seperti sabun tukang penatu”
Tak hanya memurnikan, tapi TUHAN juga membasuh atau membersihkan manusia dari dosa-dosanya.
Umat digambarkan seperti pakaian. Umat yang telah dibersihkan akan dipakai oleh TUHAN.
[3] “IA akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak”
Artinya TUHAN akan membersihkan moral umat-NYA. IA akan membebaskan mereka dari prilaku-prilaku yang jahat dan dosa. Suatu bentuk pembebasan yang jauh lebih besar daripada sekedar dibebaskan dari kunkungan penjajahan dunia.
Tetapi, siapakah yang akan menjadi sasaran pemurnian itu?
Pertama-tama, “IA mentahirkan orang Lewi”
Siapakah orang Lewi?
Orang-orang Lewi adalah keturunan Yakub atau suku Israel yang tidak mendapat jatah dalam pembagian tanah di Kanaan, ketika Yosua menaklukkan kerajaan itu. Mereka ditunjuk untuk mengelola dan memelihara Bait Suci. Merekalah yang mengurusi masalah ibadah dan dari keturunan Lewilah dipilih para imam.
Sebagai imbalannya, orang-orang Lewi mendapatkan hak perpuluhan dari suku-suku Israel yang lain.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan orang-orang Lewi pada zaman sekarang adalah mereka yang diberi tanggung jawab untuk mengelola ibadah dan mengatur jalannya kegiatan-kegiatan gereja. Siapakah mereka? Para pendeta, penatua, majelis-majelis sampai dengan pengurus-pengurus gereja terkecil. Inilah yang disebut “kaum Lewi” atau “orang-orang Lewi.”
Camkanlah bagaimana tegasnya nasihat Firman TUHAN pada perikop ini, bahwa pemurnian pertama akan dilakukan TUHAN kepada “kaum Lewi!”
Bagaimana mungkin kita dapat menuntut jemaat untuk patuh dan tunduk kepada TUHAN, kalau kita sendiri sebagai pelayan-pelayan TUHAN tidak mencerminkan sikap hidup yang baik?
Bagaimana bisa kita mendorong jemaat untuk memberikan persembahan bagi gereja, sementara kehidupan kita tidak menunjukkan karakter sebagai pelayan-pelayan TUHAN?
Bagaimana bisa kita meminta jemaat untuk hidup sebagai anak-anak terang, sementara kita sendiri hidup dalam kegelapan?
Jadi, jika gereja ini ingin agar jemaatnya menjadi lebih baik, mulailah lebih dulu dari pelayan-pelayan yang ada. Mulai dari pendeta, penatua, majelis-majelis sampai pengurus-pengurus lainnya. Perbarui lebih dulu karakter hidup kita. Jangan sampai, kita justru menjadi batu sandungan bagi jemaat kita sendiri!
Apa tujuan pemurnian pelayan-pelayan TUHAN?
“menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan kurban yang benar kepada TUHAN”
TUHAN menghendaki supaya hidup mereka menjadi murni seperti emas dan perak, sehingga mereka dapat mempersembahkan hidup mereka sebagai kurban yang benar kepada TUHAN.
Sebab, bukan kurban materi yang TUHAN inginkan dalam hidup kita, melainkan ketika kita mempersembahkan tubuh kita seutuhnya kepada TUHAN. Itulah kurban yang berkenan di hadapan TUHAN.
Jadi, ketika kita menyerahkan hidup kita kepada TUHAN, tetapi hidup kita penuh dengan kejahatan dan dosa, maka sia-sialah semuanya itu.
Sebaliknya, jika kita, sebagai pelayan-pelayan TUHAN, mempersembahkan seluruh hidup kita kepada TUHAN, maka perhatikan pada ay. 4 “maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN.”
Artinya, persembahan umat akan menyenangkan hati TUHAN jika hidup kita benar-benar berkenan kepada-NYA.
Pada ay. 5 perhatikan hal-hal apa yang tidak menyenangkan hati TUHAN:
“tukang-tukang sihir”—yaitu mereka yang mempercayakan hidup mereka kepada kekuatan-kekuatan lain selain kekuatan TUHAN.
Jika kita mengaku percaya kepada TUHAN, tetapi kita tidak berhenti untuk datang kepada dukun-dukun, mencari rezeki di gunung-gunung atau menggantungkan hidup kita pada ramalan orang, maka sesungguhnya, kita belum percaya kepada TUHAN.
“orang-orang berzinah”—yaitu mereka yang tidak setia pada pasangan hidupnya.
Jagalah hubungan dalam rumah tangga kita, sebab rumah tangga kita dibangun atas dasar kasih Kristus. Jika rumah tangga kita rusak, bagaimana kita dapat menyampaikan kesaksian tentang kasih Kristus?
“orang-orang yang bersumpah dusta”—yaitu mereka yang tidak bisa dipegang kata-katanya.
Di depan orang berkata “A” tapi di belakang berkata “B.”
Ingatlah bahwa TUHAN tidak suka dengan orang-orang yang tidak bisa dipegang kata-katanya.
Ingat perkataan Yesus, “jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak, apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat” (Mat. 5:37).
“orang-orang yang menindas”—yaitu orang-orang yang bertindak sewenang-wenang, yang tidak memiliki kepedulian terhadap kesusahan sesamanya.
Dari semua uraian di atas, jika dihubungkan dengan tema yang diminta, yaitu tentang “persembahan,” maka rasanya tidak ada kaitannya, tetapi sesungguhnya kaitannya erat sekali. Bahwa sesungguhnya bukan jumlah materi yang diinginkan TUHAN, tetapi bagaimana kita mempersembahkan seluruh tubuh dan hidup kita kepada-NYA.
Bagaimana cara kita mempersembahkan seluruh tubuh dan hidup kita kepada-NYA?
Milikilah prilaku yang baik, jauhilah hal-hal yang jahat, dan jadilah anak-anak terang dalam keseharian kita, sehingga setiap hari kita memancarkan kasih TUHAN dimana pun kita berada.
Jika ini yang kita lakukan, maka percayalah, berapa pun besar materi yang kita berikan untuk TUHAN, TUHAN akan berkenan atas semuanya itu, asalkan dilandaskan pada prilaku kita yang baik, yang berkenan di hadapan TUHAN. []
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 09 Ags 2010 (22:17 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi