| Alkitab lainnya |
Tetapi itulah kenyataan yang hendak disampaikan Rasul Paulus melalui nats kita pada hari ini, yaitu bagaimana kita hidup dalam kemerdekaan kita tetapi pada saat yang sama kita menjadi hamba.
PEMBAHASAN
Pada ay. 15, Rasul Paulus mengawali dengan pertanyaan “jadi bagaimana?” Dalam teks Yunaninya, pertanyaan ini secara berarti “apa selanjutnya?” (ti oun).
Artinya, ayat ini merupakan implikasi dari apa yang sudah Rasul Paulus tuliskan pada ayat-ayat sebelumnya, yaitu ay. 1-14. Pada ayat-ayat tersebut, Rasul Paulus mengatakan bahwa orang-orang Kristen adalah orang-orang yang telah dibebaskan atau dimerdekakan dari dosa oleh karena pengorbanan Kristus.
Ini adalah dasar iman Kristen yang hakiki, sebab kita percaya dan mengamini bahwa kematian Kristus Yesus di kayu salib telah menghapuskan segala dosa kita dan telah menebus kita dari perhambaan dosa.
Tetapi, Rasul Paulus mendapati bahwa banyak orang Kristen telah mengartikan salah akan makna kemerdekaan mereka dalam Kristus. Khususnya di Jemaat Roma, telah berkembang pemikiran bahwa karena kita telah dimerdekakan oleh Kristus, maka kita bebas untuk melakukan apa saja, termasuk dosa.
Ada pemikiran yang berkembang pada waktu itu bahwa penebusan Kristus, otomatis memberi kita kewenangan penuh untuk melakukan apa saja, dan apa saja yang kita lakukan, maka itu tidak akan diperhitungkan sebagai dosa.
Pemikiran semacam ini, juga banyak berkembang di kalangan jemaat-jemaat Kristen masa kini. Seringkali kita mendengar atau mungkin kita sendiri berpikir bahwa kita bebas untuk berbuat sesuka hati kita karena toh kita telah diselamatkan.
Memang benar bahwa keselamatan di dalam Kristus bersifat kekal. Iman Kristen mengatakan bahwa keselamatan itu pasti dan sudah terjadi, sedang terjadi serta akan terus terjadi. Jadi, jaminan keselamatan di dalam Kristus itu ibarat surat penghapusan hutang bagi kita yang berlaku seumur hidup.
Persoalannya adalah, apakah dengan mendapatkan surat penghapusan hutang, maka itu berarti kita bebas untuk berhutang lagi?
Itulah kira-kira maksud Rasul Paulus ketika ia bertanya, “apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia?”
Dengan tegas, Rasul Paulus menjawab “sekali-kali tidak!”
Penebusan yang dilakukan Kristus pertama-tama dilakukan untuk membebaskan kita dari kuasa dosa, sebab kuasa dosa telah memenjarakan manusia pada keadaan yang sangat memberatkan.
Jadi, jika kita tahu bahwa dosa telah membuat kita terpenjara, bagaimana bisa kita dapat tetap hidup dalam dosa ketika kita justru telah dibebaskan dari kuasanya? Ibarat seorang terpidana yang mendapatkan grasi atau pengampunan, tentulah ia tidak akan berpikir untuk melakukan kejahatan yang dapat membawa dia ke dalam penjara yang sama.
Di sinilah Rasul Paulus memaknai kemerdekaan orang percaya, bukan sekedar dibebaskan dari dosa, tetapi juga tidak hidup dalam dosa itu. Dalam bahasa lain, Rasul Paulus menuliskan pada ay. 18 “kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran”
Ada dua istilah yang bertentangan yang digunakan oleh Rasul Paulus di sini, yaitu “merdeka” (eleutheroô) dan “menjadi hamba” (douloô). Bagaimana bisa dikatakan “merdeka” jika kita menjadi hamba? Bagaimana juga seorang hamba dapat mengatakan bahwa ia adalah orang merdeka?
Tetapi inilah sebetulnya realitas yang sesungguhnya sedang kita jalani. Tidak ada kemerdekaan yang sungguh-sungguh merdeka dalam pengertian semerdeka-merdekanya. Setiap kita ditawari pilihan, dan setiap pilihan memiliki konsekuensinya tersendiri. Tidak ada pilihan yang betul-betul memerdekakan kita, termasuk pilihan untuk mengikut TUHAN atau melawan TUHAN.
Sederhananya begini: ketika kita memilih untuk melawan TUHAN, maka pada saat yang sama kita menghambakan diri kita kepada kepentingan Iblis. Begitu juga, ketika kita menyatakan bahwa kita hidup dalam TUHAN, maka pada saat yangg sama kita menghambakan diri kita kepada TUHAN.
Jadi, pertanyaannya sekarang bukanlah siapa yang lebih memerdekakan? Melainkan kemerdekaan model apa yang akan kita terima?
Ketika bangsa kita masih dijajah oleh kolonialisme asing, kita menghadapi tawaran yang kurang lebih sama. Apakah kita akan setia pada tanah air ataukah kita akan mengabdi kepada bangsa penjajah? Dua-duanya menawarkan kemerdekaan. Setia pada tanah air menawarkan kemerdekaan untuk mengelola negeri sendiri. Sebaliknya, mengabdi kepada bangsa penjajah berarti kita merdeka dari jajahan dalam bentuk fisik. Entah kita ditawari kedudukan yang mengenakkan atau kita diangkat menjadi antek-antek kompeni.
Begitulah kondisi yang juga kita alami ketika TUHAN menawarkan kepada kita sebuah kemerdekaan. Secara gamblang Rasul Paulus menguraikan bahwa kemerdekaan yang ditawarkan TUHAN bukanlah kemerdekaan dalam pengertian merdeka sesuka hati, melainkan merdeka menurut koridor TUHAN.
Perhatikan pernyataan Rasul Paulus pada ay. 19 dan 20 “Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.
Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran”
Pernyataan Rasul Paulus di sini menegaskan bahwa ada dua macam perhambaan:
1. Hamba dosa (doulos hamartias)
2. Hamba kebenaran (doulos dikaiosune)
Hamba dosa membawa kecemaran dan kedurhakaan, tetapi hamba kebenaran membaca pengudusan.
Demikian juga ada dua kemerdekaan:
1. Kemerdekaan dari dosa
2. Kemerdekaan dari kebenaran
Kemerdekaan dari dosa berarti hidup kudus menurut kehendak TUHAN, sedangkan kemerdekaan dari kebenaran berarti hidup cemar menurut kehendak Iblis.
Pada ay. 21 Rasul Paulus menegaskan upah yang harus diterima jika kita menjadi hamba dosa. Upahnya hanya satu, yaitu “kematian”.
Kata “kematian” di sini menggunakan kata “thanatos” yang juga berarti “maut.” Ketika kita masuk ke dalam jurang maut, maka tidak ada satu pun yang bisa memerdekakan kita dari dalamnya, dan kita akan menjadi hamba dosa selamanya.
Kedatangan Kristus adalah untuk membebaskan kita dari jerat maut, memerdekakan kita dari dosa, dan membawa kita kepada hidup yang berkemenangan. Kristus telah menjadikan kita sebagai hamba-hamba Allah, bukan lagi hamba dosa.
Akhirnya, camkanlah ayat penutup dari perikop ini: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus” Amin!
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 19 Apr 2010 (08:26 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi