| Alkitab lainnya |
Sebagai seorang pemungut pajak, tentulah Matius memiliki riwayat ketelitian yang sangat baik, sebab pada waktu itu, pemerintah Romawi tidak sembarangan merekrut orang untuk dijadikan pemungut pajak. Dia haruslah orang yang teliti, pintar dan setia pada pemerintahan Romawi.
Di samping sebagai pemungut pajak, Matius juga berasal dari keluarga Yahudi yang ketat dengan tradisi keyahudiannya. Nama "Matius" dalam Bahasa Ibrani berarti "anugerah atau pemberian TUHAN." Dalam Injil Markus dan Lukas, ia juga disebut Lewi, anak Alfeus. Semua namanya menggunakan Bahasa Ibrani, menunjukkan bahwa ia betul-betul adalah seorang Yahudi.
Dengan dua latar belakang itu, yaitu sebagai pemungut pajak dan sebagai orang Yahudi, maka Matius termasuk tipikal orang yang cermat dalam menyusun cerita. Karena itulah, tulisannya tentang Yesus, dalam Injil Matius ini sangatlah indah dan disusun dalam susunan yang sangat tematis, diawali dengan garis keturunan Yesus, sebagaimana lazimnya tulisan-tulisan Yahudi, dan diakhiri dengan amanat Yesus yang terakhir kepada murid-murid-Nya.
Secara umum, Matius menampilkan Yesus sebagai Guru Kebenaran, yaitu guru yang telah dinanti-nantikan oleh orang-orang Yahudi sejak zaman para nabi. Dialah Mesias atau Kristus yang menggenapi nubuat-nubuat para nabi.
Sebagai Guru Kebenaran, Yesus memiliki murid-murid. Kitab-kitab Injil tidak menyebutkan berapa sebetulnya jumlah murid Yesus, tetapi dalam beberapa tulisan selalu disebutkan bahwa kemana pun Yesus pergi, Ia diikuti oleh orang banyak.
Dari antara orang banyak itulah, Yesus memilih murid-murid yang secara khusus akan mendapatkan pengajaran dari-Nya secara intensif. Dalam tradisi Yahudi, murid-murid pilihan itu disebut thalmidim, dan jumlah mereka adalah dua belas orang, sesuai dengan jumlah suku Israel.
Kemana saja Yesus pergi, kedua belas murid yang disebut thalmidim itu haruslah pergi, sehingga mereka tidak saja belajar dari perkataan Yesus, tetapi juga dari prilaku Yesus sehari-hari.
Tidak ada batas waktu yang ditentukan Yesus kapan murid-murid-Nya itu dinyatakan lulus, tetapi Yesus tahu bahwa Ia hanya punya sedikit waktu untuk mendidik mereka menjadi murid-murid yang setia dan tangguh dalam pelayanan.
Begitu besarnya tanggung jawab yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya itu, sehingga kita bisa membayangkan bagaimana kesedihan-Nya ketika murid-murid-Nya kocar-kacir dalam peristiwa penangkapan diri-Nya di Taman Getsemani. Yesus tentu kecewa, sebab peristiwa penangkapan bahkan kematian-Nya sudah berkali-kali Ia katakan kepada mereka, jauh sebelum Yesus ditangkap.
Tetapi, kekecewaan Yesus tidaklah melunturkan misi-Nya untuk melahirkan murid-murid yang setia dan tangguh. Karenanya, pada pasal 28 ini, Yesus hadir sebagai Guru yang menguatkan murid-murid-Nya sekaligus mengembankan kepada mereka, suatu amanat mulia yang harus mereka jalankan.
ARTI PENTING SEORANG MURID
Pada ay. 16 dikatakan "dan kesebelas murid itu"—di luar Yudas Iskhariot yang telah berkhianat dan akhirnya melakukan bunuh diri—"berangkat ke Galilea"
Mengapa ke Galilea? Pada ay. 7, ketika Maria Magdalena dan Maria yang lain berkunjung ke makam Yesus, mereka ditemui oleh seorang Malaikat TUHAN. Kepada mereka Malaikat TUHAN mengatakan bahwa Yesus telah bangkit, dan mereka harus memberitahukan hal itu kepada murid-murid-Nya agar mereka berangkat ke Galilea.
Sebelumnya, yaitu sebelum Yesus ditangkap, perintah untuk pergi ke Galilea sudah Yesus berikan, yaitu ketika mereka sedang mengadakan Perjamuan Paskah (Mat. 26:31,32).
Bahkan pada kalimat berikutnya pada ay. 16 ini dipertegas lagi, "ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka"
Artinya, jauh sebelum kematian Yesus, Yesus telah merencanakan semuanya apa yang harus dilakukan oleh murid-murid-Nya setelah Ia bangkit.
Di sini sangatlah jelas betapa pentingnya peranan seorang murid bagi Yesus. Mereka telah dibentuk sejak semula, dididik secara pengetahuan dan pengalaman, maka merekalah yang layak untuk meneruskan misi Yesus.
Itulah sebabnya, kekristenan sangat membutuhkan pemuridan (discipleship). Sebab, melalui pemuridanlah segala visi dan misi Kristus itu ditularkan dan selanjutnya disebarluaskan.
Pemuridan tidaklah selesai sampai Yesus terangkat ke surga. Pemuridan itu haruslah berkesinambungan. Itulah sebabnya Petrus mewarisi ajarannya kepada Markus, demikian juga Paulus mewariskan ajarannya kepada Lukas, Timotius, Titus dan banyak lagi.
Pertanyaannya sekarang, adakah gereja-gereja masih menyadari pentingnya pemuridan di dalam gereja? Apakah kita, sebagai orang-orang percaya, yaitu pengikut-pengikut Kristus, masih merasa diri kita sebagai murid Kristus? Ataukah karena kita merasa diri kita adalah "anak" lalu kita berhenti untuk menjadi murid?
Tantangan jemaat di masa kini semakin kompleks. Berbagai ajaran kian berkembang mengatasnamakan Kristus, tetapi sebetulnya menyimpang dari ajaran Kristus. Ada juga ajaran-ajaran yang terang-terangan menentang Kristus. Apakah jemaat siap menghadapi semuanya ini?
HIDUP SEORANG MURID
Pada ay. 17, Matius menggambarkan reaksi murid-murid Yesus ketika mereka bertemu Yesus:
Kelompok yang pertama: "menyembah-Nya"
Kelompok yang kedua: "tetapi beberapa orang ragu-ragu"
Sungguh merupakan hal yang mengherankan melihat ada beberapa murid yang masuk kelompok kedua. Sebab, mereka mengetahui bagaimana Yesus ditangkap, diadili dan akhirnya dihukum mati di atas kayu salib. Mereka bahkan mengetahui bahwa Yesus telah dimakamkan dengan pemakaman yang dijaga ketat.
Kini, di hadapan mereka, berdiri Yesus, yang telah ditangkap, diadili, dihukum mati dan dimakamkan itu. Tapi mereka "ragu-ragu." Apalagi kita yang sekarang hidup jauh setelah peristiwa kelabu yang dialami Yesus dan murid-murid-Nya. Kita hanya mengetahui dari cerita Alkitab, yang tentu saja sangatlah terbatas untuk menggambarkan realita yang sesungguhnya pada masa itu. Ditambah lagi, di masa kini, ada begitu banyak keragu-raguan bahkan penyangkalan atas kematian dan kebangkitan Kristus, yang diekspos secara luas di media massa atau melalui buku-buku yang bebas diperjualbelikan.
Di sinilah kita melihat betapa kompleksnya tantangan menjadi orang percaya di masa kini, dimana semua orang punya kebebasan untuk mengakses informasi, bahkan informasi-informasi yang dulunya dibatasi untuk umum.
Maka, pada masa kini, kita akan menjumpai begitu banyaknya orang yang ragu-ragu untuk percaya. Padahal iman tidak mungkin tumbuh di atas keragu-raguan.
Dalam peristiwa badai di Danau Galilea, murid-murid Yesus menjadi sangat takut. Ketakutan itu memunculkan goncangan iman, sehingga pada saat yang sama, mereka meragukan keberadaan Yesus bersama mereka. Pada saat itulah Yesus dengan tegas menegur mereka, "mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" (Mat. 8:26).
PEMURIDAN SEBAGAI PENGUATAN IMAN
Yesus menyadari bahwa keragu-raguan dan ketakutan adalah ujian paling berat bagi iman seorang murid. Maka, pada ay. 18, "Yesus mendekati mereka"
Di sinilah terletak dasar pemuridan itu, yaitu bagaimana "mendekati" setiap orang yang ragu-ragu.
Salah satu tugas dalam pemuridan adalah tugas penggembalaan (pastoral). Itulah sebabnya Yesus menyebut diri-Nya, "Gembala yang baik" (Yoh. 10:11). Demikian jugalah hendaknya kita dalam memuridkan. Kita harus menjadi "gembala yang baik."
Pemuridan yang baik adalah pemuridan yang mengutakan pendekatan personal. Memahami kondisi orang lain.
Dalam setiap prilaku Yesus, kita tidak pernah melihat Yesus terjebak dalam suatu perdebatan yang sia-sia. Semangat pemuridan yang dilakukan Yesus adalah semangat yang tulus dalam mengembam misi ilahi. Yesus tidak berusaha mencari menang, tetapi Ia "mendekati" setiap orang sesuai kebutuhan mereka. Itulah pemuridan yang sejati. Pemuridan yang menguatkan iman seseorang, bukan pemuridan yang mendatangkan keragu-raguan dan ketidakpastian.
LANDASAN PEMURIDAN
Ay. 18b-20 sering disebut-sebut sebagai "Amanat Agung." Tetapi sebetulnya penggunaan istilah ini telah memperkeruh tugas gereja.
Yang dimaksud dengan Amanat Agung bukanlah Matius 28:18b-20 ini, melainkan Amanat Agung adalah keseluruhan dari Alkitab. Itulah Amanat Agung! Setiap Firman TUHAN adalah amanat yang agung bagi setiap orang percaya.
Ay. 18b-20 ini bisa dikatakan sebagai landasan bagi suatu tugas pemuridan. Landasan itu diawali dengan pernyataan Yesus: "kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi"
Inilah landasan pertama dan yang utama dari tugas pemuridan, yaitu bahwa Kristus berkuasa. Ia telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Dengan adanya kuasa itu, maka Ia memberikan amanat kepada kita, selaku orang percaya.
Jadi, tugas memuridkan adalah tugas dari Dia yang memegang Otoritas, sehingga tugas ini adalah suatu kewajiban bagi setiap orang percaya.
Tugas itu adalah: "pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu"
Jika kita membaca ayat ini, seringkali kita berpikir ada empat perintah di sini:
1. pergilah
2. jadikanlah semua bangsa murid-Ku
3. baptislah
4. ajarlah
Padahal, dalam naskah Yunaninya, kata perintah di sini hanya satu, yaitu kata "matheteusate" yang oleh LAI diterjemahkan "jadikanlah... murid"
Kata "matheteusate" secara harafiah berarti "muridkanlah!" Inilah satu-satunya kata perintah dalam ayat ini.
Kata "pergilah, baptislah dan ajarlah" dalam naskah Yunaninya tidak menggunakan bentuk perintah. Karena itu, merupakan suatu kekeliruan jika kita menafsirkan bahwa ayat ini berisi perintah untuk membaptis. Ayat ini berisi perintah untuk memuridkan!
Munculnya kekeliruan penafsiran tidak lepas dari semakin kurangnya keseimbangan dalam tugas pemuridan gereja. Selama ini, tugas pemuridan lebih difokuskan pada pemulihan spiritual, sementara ajaran-ajaran yang seharusnya menjadi landasan utama kekuatan gereja, justru semakin lama semakin diabaikan.
Marilah kita melihat kesibukan-kesibukan gereja pada masa kini: banyak gereja yang sibuk dengan puji-pujian yang gegap gempita, tetapi tujuannya bukan lagi tujuan pemuridan, melainkan lebih pada entertaining (hiburan). Bahkan ada yang menjadikan puji-pujian sebagai teknik untuk mengumpulkan jiwa. Ini merupakan suatu bentuk penyimpangan dari misi utama gereja.
Tidak salah jika gereja ingin menampilkan puji-pujian dengan gegap gempita, tapi, jangan sampai gara-gara performance-nya itu, lalu tugas pemuridan terabaikan. Itu sama saja dengan seorang atlet bela diri yang sibuk main sinetron. Bisa saja dia meraup banyak keuntungan dari bermain sinetron, tapi ketika tiba perlombaan, ia kalah, sebab ia tidak pernah lagi fokus pada tugas utamanya.
Kesibukan gereja yang lain adalah kesembuhan-kesembuhan ilahi. Dengan diadakannya ibadah-ibadah kesembuhan ilahi, gereja berharap bisa mengumpulkan lebih banyak jiwa.
Harapannya memang terwujud. Makin banyak jiwa terkumpul dan jumlah jemaatnya kian membludak setiap ibadah minggunya. Tapi, yang ada adalah jemaat-jemaat yang haus akan mujizat kesembuhan ilahi. Ketika ia tidak merasa ada mujizat, ia pun kabur dari gereja, putus asa, dan akhirnya meninggalkan iman percayanya.
Sungguh memprihatinkan apabila ada jemaat ditanya, "kenapa ke gereja itu?" dan jemaat itu menjawab, "sebab di sana ada mujizat."
Iman yang bergantung pada mujizat adalah iman kekanak-kanakan. Iman yang dewasa adalah iman yang tangguh meskipun ia tidak melihat mujizat dalam hidupnya.
Iman kekanak-kanakan adalah iman dari orang yang berkata, "TUHAN, jika aku sembuh, aku akan mengikut ENGKAU!"
Iman dewasa adalah iman dari orang yang berkata, "TUHAN, meskipun aku sakit, aku tetap mengikut ENGKAU!"
Iman kekanak-kanakan adalah iman dari orang yang berkata, "TUHAN, jadikan aku kaya, dan aku akan memberikan perpuluhan untuk-MU!"
Iman dewasa adalah iman dari orang yang berkata, "TUHAN, aku ini miskin, tapi apa yang ada padaku, kuserahkan semuanya untuk-MU!"
Jadi, tugas memuridkan adalah tugas mendewasakan iman atau Magen Avraham membahasakannya dengan istilah "mencerahkan iman!"
JAMINAN KRISTUS
Akhirnya, ay. 20b, Yesus berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman"
Pemuridan dimulai oleh Yesus, maka Dia jugalah yang akan terus menuntun kita, bersama-sama dengan kita sampai kepada akhir zaman. Amin!
© Tunggul Pangaribuan
Ketua Umum Magen Avraham
Masuk: 18 Jul 2008 (13:00 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi