| Alkitab lainnya |
Klemens juga mengatakan bahwa Surat Ibrani ini pada awalnya ditulis dalam Bahasa Ibrani, tetapi kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani oleh Lukas.
Selain mengutip tulisan Klemens, Eusebius juga mengutip dari tulisan Origenes, yang hidup sekitar tahun 280 M. Dalam kutipan itu, Origenes mengatakan bahwa ide atau gagasan utama penulisan surat ini berasal dari Paulus. Namun, Origenes mengatakan bahwa surat ini tidak ditulis langsung oleh Paulus, melainkan oleh Pauline, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mewarisi ajaran Rasul Paulus.
Meski demikian, para ahli Perjanjian Baru modern meragukan jika surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dengan berbagai pertimbangan, yang umumnya berupa pertimbangan gaya bahasa penulisan. Mereka beranggapan bahwa gaya bahasa Surat Ibrani sangatlah berbeda dengan gaya bahasa tulisan-tulisan Rasul Paulus lainnya. Lagipula, jika pembaca mula-mula dari surat ini adalah komunitas Kristen Yahudi, maka, jika tulisan ini adalah tulisan Rasul Paulus, tulisan ini dengan sendirinya akan mendapatkan pertentangan. Sebab, pada zaman para Rasul, kekristenan terpecah dalam dua entitas, yaitu entitas Kristen Yahudi, yang didukung oleh para Rasul di Yerusalem, dan entitas Kristen non-Yahudi, yang dikembangkan antara lain oleh Paulus dan Barnabas.
Dua entitas ini kerap terlibat dalam perselisihan, terutama menyangkut penting tidaknya tradisi Yahudi dalam kekristenan, seperti sunat, Sabat, makanan halal-haram, dan sebagainya.
Dalam tulisan-tulisan kuno gerejawi, Paulus dan Yakobus dikenal sebagai tokoh moderat, yang tidak memihak salah satu entitas. Meski demikian, kedua tokoh ini justru paling sering dipertentangkan. Paulus dianggap mewakili entitas Kristen non-Yahudi, atau dalam PB sering disebut Kristen Yunani. Sedangkan, Yakobus sering dianggap mewakili entitas Kristen Yahudi.
Rasul Petrus sendiri menjadi pengantara antara kedua entitas. Ia sering mengunjungi entitas Kristen non-Yahudi yang berpusat di Antiokhia, Syria. Tetapi, ia sendiri aktif di Yerusalem bersama entitas Kristen Yahudi.
Saya tidak ingin berbicara panjang lebar mengenai konflik di kalangan Kristen mula-mula. Saya juga tidak ingin berbicara panjang lebar mengenai siapa sesungguhnya penulis Surat Ibrani ini. Tetapi, Saya ingin fokus pada perikop kita pada saat ini, yaitu Ibrani 5:11-14, yang tentu saja, pembahasannya masih dalam kerangka tema Khotbah Pencerahan bulan ini, yaitu “Pemuridan.”
Kali ini Saya ingin menyoroti pemuridan itu sebagai upaya untuk mendewasakan iman umat, sebagaimana yang menjadi sorotan dari perikop kita ini. Namun, sebelum lebih jauh membahas hal itu, marilah lebih dulu kita melihat latar belakang situasi yang dihadapi oleh orang-orang yang menjadi tujuan Surat Ibrani ini, yaitu mereka yang disebut pembaca mula-mula dari surat ini.
Penulis Surat Ibrani, pada perikop ini, berbicara tentang “susu” dan “makanan keras” sebagai sebuah bahasa kiasan. Yang ia maksudkan sesungguhnya adalah mengenai pengajaran yang mudah (digambarkan dengan susu) dan pengajaran yang rumit (digambarkan dengan makanan keras).
Mengapa ia berbicara tentang pengajaran?
Sebab, jemaat yang menjadi tujuan suratnya sedang menghadapi berbagai ajaran asing, yang berkembang sedemikian rupa, sehingga telah membuat banyak orang terpengaruh oleh ajaran-ajaran asing tersebut. Pada pasal 13:9 dikatakan, “Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing. Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat dengan kasih karunia dan bukan dengan pelbagai makanan yang tidak memberi faedah kepada mereka yang menuruti aturan-aturan makanan macam itu.”
Apakah ini berarti bahwa jemaat dihimbau untuk tidak belajar dan cukup dengan kasih karunia? Tidak! Dalam teks Yunaninya, ayat ini berbunyi, “didakhais poikilais kai xenais mē periferesthe kalon” yang secara harafiah berarti “janganlah kalian digiring oleh ajaran-ajaran yang bermacam-macam dan asing.”
Rupanya, para penerima surat ini sedang digerogoti oleh berbagai bentuk pengajaran yang berkembang pada waktu itu. Ajaran-ajaran itu berasal dari arus pemikiran baru yang berkembang dalam kekristenan mula-mula, sehingga kemungkinan besar, mereka adalah penganut Gnostik atau ajaran-ajaran lain yang tidak berasal dari para Rasul.
Lebih parah lagi, bahwa para pemimpin jemaat ini banyak yang sudah meninggal (13:7), sehingga jemaat ini mulai meninggalkan ajaran-ajaran yang telah mereka dapatkan dari semula. Mereka dengan mudahnya diombang-ambingkan oleh ajaran-ajaran baru yang menurut mereka lebih menjawab kebutuhan mereka.
Situasi semacam ini hampir sama dengan situasi yang dihadapi oleh gereja-gereja pada masa sekarang. Dimana, semakin banyak dan semakin berkembang berbagai ajaran baru yang sesungguhnya tidak memiliki akar ke dalam tradisi gereja mula-mula.
Ajaran-ajaran baru ini berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari yang bersifat sangat fundamentalis, hingga ajaran-ajaran yang sangat liberal. Masing-masing memiliki pengikut-pengikut dan pendukung-pendukungnya tersendiri, dan masing-masing berkembang dalam berbagai bentuk baru yang sangat mudah menggiring umat untuk percaya.
Sebut saja fenomena-fenomena yang pernah berkembang di negara ini. Mulai dari kesembuhan-kesembuhan ilahi yang menggunakan media-media khusus, seperti garam, debu emas, jubah hingga minyak urapan. Semua itu dilakukan dengan dalil pekerjaan Roh Kudus, tapi tidak menemukan landasan Alkitabiahnya apa. Kalau Roh Kudus sudah berbicara, maka apakah itu berarti Alkitab pun tidak berlaku? Lalu, siapa yang mengilhamkan Alkitab?
Kita juga pernah mendengar fenomena penginjilan ke dunia orang mati, baptisan roh, dan banyak sekali ajaran-ajaran yang sekilas kelihatan sangat Kristiani, tetapi sesungguhnya tidak memiliki landasan Alkitabiah.
Ada lagi fenomena pengajaran-pengajaran tentang akhir zaman. Banyak orang berbicara atas dasar Alkitab, kemudian menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa global dengan tanda-tanda akhir zaman. Bahkan, tidak sedikit yang dengan berani menetapkan kapan kiamat itu terjadi. Sungguh, ajaran-ajaran yang sangat tidak Alkitabiah dan cenderung membingungkan umat.
Di sisi lain, kita juga banyak diperhadapkan dengan fenomena-fenomena pemikiran liberal yang kaya akan spekulatif. Ajaran-ajaran ini mencampuradukkan antara fakta sejarah dengan spekulasi pikiran manusia, lalu mencoba menyusun tesis-tesis baru untuk meruntuhkan iman Kristen. Ini merupakan bentuk-bentuk pemujaan ilmu pengetahuan yang berlebihan, sehingga akhirnya kebablasan.
Contoh sederhana adalah fenomena pengajaran yang mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak mati dan tidak dibangkitkan, seperti terungkap dalam film dokumenter karya Simcha Jacobovici dan James Cameron, berjudul The Lost Tomb of Jesus (2007) atau melalui tulisan-tulisan berjudul Misquoting Jesus (2005) karya Bart Ehrman dan Jesus Dynasty (2006) karya James Tabor.
Fenomena-fenomena semacam ini memang sudah lama berkembang di negara-negara Barat. Dulu kita pernah dibingungkan dengan film-film bernada kritikan atas iman Kristen, seperti film berjudul The Last Temptation of Christ (1988) karya Martin Scorsese, The Body (2001) karya Rudy Cohen yang terinspirasi dari buku berjudul sama karya Richard Sapir tahun 1983, hingga The Da Vinci Code (2006) karya Ron Howard yang terinspirasi dari novel karya Dan Brown tahun 2003. Namun, dulu, kita tidak begitu digoncangkan seperti era sekarang ini. Dulu, akses informasi kita masih sangat terbatas pada buku dan media cetak serta elektronika. Itu pun masih dikendalikan begitu kuat oleh pemerintahan Orde Baru, sehingga iman umat sangat terjaga oleh ajaran-ajaran gereja.
Namun, sekarang, ketika kita dapat mengakses informasi dari mana saja dengan begitu leluasa, maka perkembangan ajaran-ajaran baru pun tak bisa dibendung oleh gereja.
Ketika Vatican mencoba mengeluarkan larangan agar toko-toko buku Katolik di seluruh dunia, tidak menjual novel The Da Vinci Code karya Dan Brown, novel itu justru menjadi buruan banyak pembaca hingga menjadi salah satu novel best seller, versi Majalah New York Times.
Jika sudah begini, apa yang bisa dilakukan oleh gereja?
Nasihat penulis Surat Ibrani dalam perikop ini sangatlah baik untuk kita pelajari bersama.
Pada ay. 11 dikatakan, “tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.”
Ada tiga kunci di sini:
- “banyak yang harus dikatakan”
- “sukar untuk dijelaskan”
- “lamban dalam hal mendengarkan”
“Banyak yang harus dikatakan” mencakup ajaran-ajaran gereja yang seharusnya diketahui oleh umat. Pada ayat-ayat sebelumnya, penulis Surat Ibrani sudah berbicara tentang Melkisedek, Kristus dan keimamatan. Untuk tiga hal ini saja, dibutuhkan waktu yang panjang dan khusus, apalagi untuk hal-hal lain dalam dogma gereja.
Banyak pendeta dan pelayan gereja menghabiskan waktu hingga 4 tahun, minimal untuk mendapatkan gelar Sarjana Teologi (S.Th), bahkan ada yang berjuang hingga 8-10 tahun agar bisa bergelar Doktor Teologi. Tetapi, mereka sendiri merasa belum cukup untuk dapat menyelami kedalaman ajaran gereja.
Sangat disayangkan, banyak pendeta dan pelayan-pelayan jemaat justru sekarang meremehkan ajaran gereja dan merasa tidak perlu untuk mengajarkannya kepada jemaatnya. Bagi mereka, jemaat cukup dibekali secara moral dan spiritual, tak perlu dibekali secara teologis. Cara pandang semacam ini sangatlah keliru, sebab tantangan jemaat bukan semata-mata tantangan moral dan spiritual. Jemaat-jemaat sekarang juga menghadapi tantangan teologis, dengan berkembangnya berbagai ajaran yang menyesatkan.
Selanjutnya dikatakan “sukar untuk dijelaskan” mengapa? Alasannya sudah dijelaskan di situ, sebab mereka “lamban dalam hal mendengarkan.” Dalam Bahasa Yunani dikatakan nōthroi gegonate tais akoais, yang secara harafiah berarti “malas dalam hal mendengarkan.” Dalam terjemahan Bahasa Inggris, kata nōthroi sering diterjemahkan “dull” artinya “tumpul.”
Inilah sesungguhnya akar persoalan mengapa iman Kristen begitu mudahnya terkontaminasi dengan berbagai ajaran yang tidak Alkitabiah. Karena banyak orang Kristen merasa ogah-ogahan dengan yang namanya pengajaran, apalagi jika sudah menyangkut konsep doktrin dan dogma gereja.
Sebagian besar orang Kristen merasa cukup mengaplikasikan Alkitab itu apa adanya, tanpa perlu penafsiran khusus apalagi sampai melibatkan ilmu-ilmu pengetahuan yang rumit, seperti biblika dan hermeneutika. Padahal, Alkitab kita ini kaya akan pengetahuan yang dalam. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Alkitab ini cukup diaplikasikan saja, tanpa perlu ditafsirkan. Sebaliknya, Alkitab justru perlu ditafsirkan untuk bisa diaplikasikan, sehingga kita tidak keliru dalam mengaplikasikan.
Janganlah kita bersikap apriori terhadap pengetahuan-pengetahuan dan penggalian-penggalian Alkitab, sebab sesungguhnya, ajaran-ajaran gereja lahir dari hasil pengetahuan dan penggalian Alkitab.
Tokoh-tokoh gereja seperti Klemens, Origenes, Tertullianus, Augustinus, Yustinus Martir hingga Marthin Luther, Yohanes Calvin dan Ulrich Zwingly adalah orang-orang yang secara khusus mempelajari Alkitab dan ajaran-ajaran pendahulu mereka, sebelum mereka menghasilkan pengajaran-pengajaran gerejawi yang sekarang kita pelihara.
Artinya, mereka memanfaatkan ilmu dan pengetahuan yang dikaruniakan TUHAN dalam diri mereka untuk mereka gunakan bagi kemuliaan nama TUHAN.
Karena itu, sebagai anak-anak Kristus, marilah kita sungguh-sungguh menjadi “murid,” dimana tugas utama seorang murid adalah “belajar.”
Perhatikan pada ay. 12 dikatakan, “sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah.”
Ini adalah bentuk keprihatinan penulis Surat Ibrani atas pertumbuhan jemaatnya. Banyak di antara jemaat-jemaat itu yang sudah cukup lama menjadi pengikut Kristus, bahkan sudah layak menyandang predikat sebagai “pengajar” atau “guru,” tetapi pada kenyataannya mereka masih harus diberi “susu” bukan “makanan keras.”
Murid yang baik adalah murid yang bisa memuridkan. Yesus Kristus menunjuk dua belas Rasul sebagai murid-murid-Nya. Di akhir pendidikan mereka, Yesus memerintahkan mereka untuk “menjadikan semua bangsa murid” atau dengan bahasa sederhana “memuridkan bangsa-bangsa.” Bahkan, dalam perjalanan mereka, mereka menjadi soko guru jemaat (Gal. 2:9) dan mereka memiliki banyak sekali murid. Dari murid-murid mereka inilah kemudian lahir Bapak-bapak Gereja, yang juga melahirkan murid-murid yang baru, terus-menerus, hingga zaman sekarang kita belajar dari mereka.
Pentingnya pemuridan terutama adalah untuk menjaga agar pengajaran gereja tetap bisa dipelihara serta mencegah berkembangnya ajaran-ajaran yang tidak memiliki pijakan Alkitab. Semakin berkurang pemuridan dalam gereja, maka akan memberi ruang yang lebih besar pada masuknya ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah.
Yang terutama dari pemuridan adalah sebagaimana ditegaskan pada ay. 14 “makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa.”
Ada begitu banyak ajaran dalam kekristenan yang harus dipahami secara khusus, dan untuk memahami semuanya itu, kita harus mencapai tingkat kedewasaan yang cukup. Bukan hanya dewasa secara iman dan spiritual, tetapi juga dewasa secara pengetahuan Alkitab. Amin! [ ]
© Yosi Rorimpandei
Masuk: 10 Feb 2010 (12:27 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi