Perisai.net - KITAB Kejadian –khususnya pasal 1-3-- banyak berbicara tentang proses terjadinya alam semesta dan mahluk-mahluk di dunia ini, karena itu, dalam naskah Septuaginta (LXX) kitab ini disebut Genesis ("asal mula, sumber"), yang aslinya dalam naskah Ibrani bernama Bereshith (“pada mulanya”). Di dalamnya kita menjumpai besarnya pengaruh mitos kuno, baik terhadap gaya penulisannya maupun gaya berpikirnya. Misalnya adanya diskusi dalam sebuah dewan ilahi (panteon) ketika menciptakan manusia. “Baiklah Kita menjadikan manusia....” (Kej. 1:26).
Pasal 1 dan 2, yang lebih spesifik berbicara tentang “Penciptaan,” menurut penelitian, sebetulnya berasal dari dua sumber yang berbeda, yaitu sumber Jahwist (J) dan sumber Priest (P). Dimana, Jahwist merupakan sumber tertua dari naskah-naskah Tora (kira-kira berasal dari 900-800 SM), dan sangat menekankan pada YHWH sebagai Allah leluhur dan sifat universalisnya, bahwa YHWH adalah khalik alam semesta.
Sedangkan sumber Priest (P) yang merupakan sumber termuda (kira-kira berasal dari tahun 500 SM), menekankan pada teologi keimamatan dan perjanjian Allah dengan Nuh, Abraham, dan Musa. Sumber Priest cenderung melihat Israel sebagai bangsa yang kudus bagi Allah.
Kej. 1-2:4a diperkirakan berasal dari sumber Priest. Karena itu, urutan penciptaan disesuaikan dengan makna-makna teologis dari setiap liturgi imamat dan hari-hari penting dalam liturgi Ibrani. Misalnya, pernikahan yang lazim diadakan pada hari ketiga disesuaikan dengan penciptaan tumbuhan sebagai simbol kesuburan.
Kisaran tahun 900-500 SM diperkirakan Israel sedang berada pada periode raja-raja (zaman besi II) dan memasuki akhir periode Perjanjian Lama. Artinya, kitab Kejadian sebetulnya ditulis belakangan dibanding kitab-kitab para Nabi. Dan karena ditulis pada periode raja-raja, maka nilai-nilai eksklusifitas Israel sebagai bangsa, cukup banyak mendapat sorotan.
Penciptaan dan Teologi
Bagi bangsa Yahudi, peristiwa penciptaan memiliki nilai teologis tersendiri yang sangat mempengaruhi tradisi dan pemikiran mereka. Mereka sangat yakin bahwa kisah ini benar-benar diturunkan secara turun-temurun dari leluhur mereka dan lebih khusus ditekankan berasal dari Musa.
Gereja, tidak melihat asal-usul kitab Kejadian sebagai faktor yang utama untuk memahami kitab itu, apalagi dengan adanya teori empat sumber (J-E-D-P) yang dikembangkan oleh para sarjana Kristen di Jerman. Yang menjadi esensi dalam pandangan teologi gereja adalah nilai-nilai teologis yang terkandung dalam kisah penciptaan itu.
Saya mencatat ada lima hal penting yang ingin disampaikan melalui kisah penciptaan tersebut:
1. Allah Yang Esa
Kitab Kejadian ditulis pada periode politeistik, dimana umumnya manusia di seluruh dunia mengenal banyak dewa. Apalagi, pada waktu itu, pandangan Babilonia sangat mempengaruhi kepercayaan penduduk mayoritas, khususnya mengenai adanya panteon itu.
Di tengah-tengah pandangan politeistik itu, kitab Kejadian justru menawarkan suatu pandangan yang sangat monoteistik, meskipun masih dipengaruhi oleh bahasa-bahasa dan pemikiran politeistik. Pandangan monoteistik ini sangat kental dan menjadi ciri khas Yahudi yang tidak mungkin disangkal oleh siapapun.
2. Allah sebagai Pencipta
Ketika agama-agama lain mengatakan bahwa dunia ini adalah produk dari kekacauan (pertentangan antar dewa dalam mitos Babilonia), kitab Kejadian justru mengatakan bahwa dunia ini adalah produk sempurna Allah Yang Esa itu. Allah adalah Pencipta, sekaligus Pemelihara ciptaan-Nya.
3. Allah yang Transenden
Dewa-dewi banyak diceritakan berkedudukan di atas gunung, di bawah tanah, di pepohonan, laut, dsb. Namun, Alkitab menolak pandangan itu dan mengatakan bahwa Allah itu transenden, mengatasi segala ciptaan-Nya dan berada di luar ciptaan-Nya. Allah yang transenden itu bukan juga Allah yang lepas tanggung jawab, seperti kepercayaan agama-agama lain terhadap dewa pencipta, melainkan Ia secara aktif hadir dan memelihara keharmonisan ciptaan-Nya (imanen). Segala bentuk kerusakan dan kehancuran dunia, menurut Alkitab, tidak lepas dari keserakahan manusia untuk melawan Allah, bukan disebabkan oleh Allah.
4. Demitologisasi
Matahari, bulan, bintang, dsb menurut tradisi agama lain diyakini sebagai tempat para dewa bertahta. Bahkan ada keyakinan bahwa matahari, bulan, dsb itu adalah para dewa itu sendiri. Alkitab dengan tegas menolak hal itu, dan menyebut semua itu sebagai bagian dari apa yang diciptakan Allah.
5. Manusia sebagai Gambar Allah
Manusia bukanlah hamba atau budak para dewa, melainkan manusia adalah ciptaan Allah menurut “gambar” (tselem) dan “rupa” (demuth) Allah. Karena itu, manusia memiliki tanggung jawab total untuk memilihara ciptaan Allah dan diberi hak untuk mengeksploitasi ciptaan Allah itu, bukan merusaknya. []
© Yoses R
Aktivis Magen Avraham
Masuk: 12 Jun 2008 (16:39 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi