| Alkitab lainnya |
Suatu ketika ia pergi ke sebuah desa yang jauh dari kota tempat ia tinggal. Di desa itu ada tanahnya yang sangat luas, tetapi ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengan tanah itu.
Ia melihat kehidupan penduduk desa itu sangatlah miskin. Mereka menggantungkan hidup mereka dari bercocok tanam.
Oleh belas kasihannya, ia bermaksud memberikan tanah itu kepada penduduk desa itu. Tapi pemberian itu tidaklah gratis. Ada harga yang harus dibayar oleh penduduk desa itu, tetapi harga itu sangatlah murah, hanya sepuluh ribu rupiah untuk bisa mendapatkan tanah dengan ukuran sehari.
Yang ia maksudkan dengan ukuran sehari adalah ukuran satu lingkaran yang dapat dibuat dengan cara berlari selama sehari, dihitung dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Seberapa luas lingkaran yang dibuat dalam sehari berlari, demikianlah luas tanah yang akan didapatkan dengan harga sepuluh ribu rupiah itu.
Tawaran itu disambut oleh seorang pemuda desa. Dengan penuh percaya diri, ia datang kepada orang kaya itu lalu membayar sepuluh ribu rupiah.
Besoknya, ketika matahari terbit di ufuk timur, mulailah pemuda itu berlari. Ia berlari begitu cepat dan berusaha untuk membuat lingkaran sebesar mungkin.
Menjelang tengah hari, teman-temannya menyarankan dia untuk beristirahat terlebih dahulu, sebab ia kelihatan mulai letih sekali.
"Tidak!" kata pemuda itu kepada teman-temannya, "tahukah kalian, jika aku beristirahat satu menit saja, itu sama saja dengan membuang ratusan meter dari luas tanah ini?"
Ia pun pantang menyerah dan meneruskan usahanya.
Ketika matahari berada tepat di atas kepala, tubuhnya sudah sangat basah oleh keringat yang bercucuran. Melihat itu, teman-temannya membujuk dia untuk istirahat makan siang.
"Tidak!" katanya, "jika aku istirahat makan siang, maka aku menyia-nyiakan ratusan meter dari luas tanah ini!"
Waktu terus berlalu. Ia pun sangat kelelahan. Ketika dilihatnya, lingkaran yang sedang ia buat sudah sangat luas, bahkan ia belum membuat setengah lingkaran padahal hari sudah semakin sore.
Ia mulai putus asa. Jika ia gagal membuat satu lingkaran, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Mulailah ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia pasti bisa menyelesaikan lingkaran itu sebelum matahari terbenam.
Demi ambisinya itu, ia pun menambah kecepatan larinya dengan sisa tenaganya.
Akhirnya matahari pun terbenam. Pemuda itu belum sampai di titik dimana ia memulai usahanya itu.
Orang kaya pemilik tanah itu bersama dengan teman-teman pemuda itu memutuskan untuk mencari dimana pemuda itu berada dengan menelusuri rute lari pemuda itu.
Setelah berjam-jam mencari, akhirnya mereka mendapati pemuda itu terbaring di atas tanah. Ia sudah tak bernyawa lagi akibat terlalu memaksakan dirinya. Ia tidak berhasil membuat lingkarannya, bahkan setengahnya pun tidak.
Ironis sekali, pemuda itu tidak mendapatkan tanah yang sangat luas, yang semula ia bayangkan. Ia hanya mendapatkan sebidang kecil tanah sebagai makamnya. []
Masuk: 11 Jun 2009 (14:50 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi