| Alkitab lainnya |
Pohon pertama berkata, "Suatu hari nanti, orang akan menebang aku dan menjadikan aku tempat tidur istimewa yang akan diletakkan di istana seorang raja terkenal."
Pohon kedua tidak mau kalah, ia pun berkata, "Kalau aku, orang akan menebang aku dan menjadikan aku kapal yang besar dan kuat, sehingga meskipun badai menghantam kapal itu, kapal itu tidak akan karam."
Akhirnya pohon ketiga berkata, "Aku kelak akan ditebang orang dan dijadikan tiang untuk menggantung para penjahat, sehingga seluruh negeri menjadi aman dari para penjahat dan ia bisa menyelamatkan seluruh negeri itu."
Lalu tibalah waktunya, pohon pertama ditebang. Tapi ia tidak dijadikan tempat tidur raja di istana, ia hanya menjadi tempat makanan ternak, dan diletakkan di sebuah kandang domba di pinggir kota. Ia merasa sangat hina, setiap malam ia menangisi kehidupan barunya itu.
Pohon kedua juga ditebang. Ia tidak dijadikan kapal besar yang kuat, tetapi ia hanya menjadi kapal kecil, yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan. Ia pun sedih, sebab kapal kecil itu sangat rapuh. Jika terus-menerus dihantam obak, ia pasti akan hancur dan tenggelam, apalagi jika dihantam badai besar.
Dan giliran pohon ketiga. Ia pun ditebang oleh seorang tukang kayu, tetapi tukang kayu itu tidak tahu mau diapakah kayu itu. Akhirnya kayu itu diberikan kepada para penjajah negeri itu dan hanya diletakkan di belakang benteng mereka. Ia sangat sedih karena menjadi sangat tidak berguna.
Suatu ketika, pada malam hari, ketika domba-domba telah tertidur. Kayu pertama yang menjadi tempat makan ternak terkejut ketika sepasang suami istri masuk ke kandang itu. Sang istri sedang mengandung dan hendak melahirkan.
Suami istri itu pun bermalam di kandang itu hingga akhirnya sang istri melahirkan anaknya. Seorang bayi mungil bernama Yesus dibaringkan di atas tempat makan ternak itu. Bayi itu dipuja para gembala dan para majus dari timur, bahkan persembahan terbaik diberikan kepada bayi itu. Bayi itu pun dinubuatkan untuk menjadi raja segala raja.
Kayu pertama pun bangga bahwa ia menjadi tempat tidur raja segala raja.
Pada waktu yang lain, ketika kapal kecil yang dibuat dari kayu kedua tengah berada di tengah laut, tiba-tibalah datanglah badai. Hantaman badai yang begitu kuat membuatnya yakin bahwa hari itu adalah hari terakhirnya sebagai kapal.
Namun, tiba-tiba seorang lelaki berdiri dan menghardik badai itu, hingga laut itu pun menjadi tenang dan kapal itu bisa tiba di pantai dengan selamat.
Kayu kedua pun bisa berbangga karena ia akhirnya bisa melalui badai terbesar meski sebagai kapal kecil.
Terakhir, giliran kayu ketiga yang diletakkan di belakang benteng penjajah. Tiba-tiba para prajurit kerajaan mengambilnya dan membawanya ke tengah halaman kecil di dalam benteng itu. Ia pun diletakkan di pundak seorang lelaki yang tengah bersimbah darah dan dibawa ke puncak sebuah bukit yang jauh dari perkotaan.
Kayu kedua menangis ketika sadar bahwa ia akhirnya hanya digunakan oleh para penjajah untuk menghukum warga negerinya sendiri.
Sesampainya di puncak bukit, lelaki bersimbah darah itu dipakukan ke kayu itu. Kayu ketiga itu pun tersentak ketika sadar bahwa lelaki itu adalah Juruselamat dunia. Ia tidak saja menyelamatkan seluruh negeri, tapi juga seluruh dunia. []
Masuk: 11 Jun 2009 (15:09 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi