| Khotbah/Renungan lainnya |
Namun, yang membingungkan adalah ketika ia memulai tulisannya dengan suatu nada pesimis, “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (1:2). Mengapa?
Pada pasal 3 ini, Pengkhotbah memberi jawaban atas usahanya menyelami misteri-misteri kehidupan yang terkadang sulit diterima oleh akal sehat.
[1] “Untuk segala sesuatu ada masanya”
“untuk apapun di bawah langit ada waktunya”
Ada dua kata kunci pada ayatnya yang pertama ini, yaitu “masa” dan “waktu.”
Pengkhotbah mau mengatakan bahwa untuk apapun juga di dunia ini, ada “masa”-nya dan ada “waktu”-nya.
Apa perbedaan antara “masa” dan “waktu”?
Dalam naskah aslinya, yaitu naskah Ibrani, kedua kata ini menggunakan kata “ZEMAN” dan “’ETH.”
ZEMAN adalah “waktu yang sudah ditetapkan.” Dalam Bahasa Inggris, diterjemahkan “season” (musim), artinya waktu yang memang harus dijalani karena sudah demikian adanya. Manusia tidak mungkin mengubah ZEMAN, selain menjalaninya apa adanya.
‘ETH adalah “waktu dimana sebuah peristiwa terjadi” sering juga diartikan “waktu biasanya.” Artinya, ‘ETH adalah waktu yang harus dikelola oleh manusia agar waktu itu menjadi berarti dalam rangkaian ...
--artikel terpotong--
Maaf isi lengkap artikel ini hanya diperuntukkan bagi anggota situs ini. Silakan lakukan pendaftaran (gratis)
Yoses R
Aktivis Magen Avraham
⇒ 31 Mei 2008 (17:28 UTC+07)









Komentar Pembaca
Diskusi