• Situs ini telah dibuka sebanyak 2.971.323 kali
• OS Anda: Tidak Dikenal
• Browser Anda: Tidak Dikenal
• IP Anda: 38.107.179.220
• Ini adalah kunjungan Anda ke 85
• Unique visitors:
lebih
ditail
Apakah Istilah “Allah” Hanya Milik Umat Islam? |
dibaca sebanyak 2286 kali |
kirim ke teman (0x) |
“Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal. ”
Perisai.net - SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”.
Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?)
Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?
Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.
Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.
Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang ...
--artikel terpotong--
Maaf isi lengkap artikel ini hanya diperuntukkan bagi anggota situs ini. Silakan lakukan pendaftaran (gratis)
CosmicBoy, perisai | 28 Jun 2011 (18:41 UTC+07)
1. Galat: anda nulis 'reinkarnasi', salah! seharusnya ditulis 'inkarnasi'.
2. Yahwe atau Yehuwa atau sejenisnya bukan nama untuk empat huruf matu YHWH. Nama2 itu cuma dugaan. Saya tidak mau menyebut suatu nama hasil dugaan manusia.
3. Menyangkut nama YHWH, tidak ada seorangpun didunia ini yg tau membaca/mengucapkannya dengan akurat. Terimalah kenyataan.
4. Tidak ada keharusan bagi umat PB (Kristen) menyebut atau memakai nama itu karena tidak ada satu pun nama itu muncul dalam kitab PB!
5. Adapun para penulis PB apabila mengutip ayat2 dari PL yg mengandungi nama YHWH oleh ilham Roh Kudus menggantikan semua nama itu dengan 'kyrios' dan 'theos'. Itulah fakta, jadi tidak ada keharusan memakai nama itu. Otoritas itu datang dari Roh Kudus! Apakah saudara mau menentang otoritas Roh Kudus.
6. Adalah satu kebohongan ilmiah mengatakan bahwa semua nama YHWH diganti dengan kata "Allah". Yang benar sebaliknya bahwa semua nama YHWH di PL digati dengan nama TUHAN atau Tuhan.
7. Adapun kata "Allah" bukan eksklusif Islam. Fakta menunjukkan bahwa kata "Allah" sudah dipakai oleh orang Yahudi berbahasa Arab, orang Arab beragama Yahudi dan Kristen jauh-jauh sebelum kedatangan Islam atau kelahiran Muhammad! Dalam bahasa mereka kata "Allah" sepadan dengan kata "Elohim" dalam bahasa Ibrani dan "Theos" dalam bahasa Yunani sebagai merujuk kepada sesembahan. Dalam konteks Al-Kitab, "Allah" bukan sebuah nama diri melainkan kata nama umum untuk mengacu kepada sesembahan seperti mana 'theos' bagi orang Greek, 'deus' bago orang Latin, 'Got' bagi org Jerman, "God/god" bagi orang Anglo-Saxon dan "Shen' bagi kaum Tionghua!
8. Orang Kristen tidak pernah terpikir bahwa kata "Allah" itu merujuk kepada 'Allah" nya (disebut Alloh) org Islam sebaliknya mengacu semua doa dan penyembahan kepada Allah Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus!
9. Saya sih tidak mempermasalahkan nama Yahwe atau Yehuwa atau sejenisnya tetapi kalu sudah dipaksakan ke orang Kristen sampai2 berani menjatuhkan 'fakwa' bahwa kalu orang Kristen tidak mau memakainya maka itu bisa mempengaruhi keselamatan mereka maka bagi saya pemahaman seperti itu kecenderungan 'cultic'/menyimpang dan heretik (sesat) dan sangat tidak bersifat kristiani!
Sudahlah, jangan mau lagi diperbodohin dan dibohongin sama kelompok2 "Mesianik" dan "SNM".
Salam.
MTE2LjE5Ny41LjE2MQ==
setiawan budi, ubud, bali | 24 Apr 2011 (18:29 UTC+07)
Bro CB,
Tentu saja kita dari pengagung nama Yahweh tidak akan memaksakan umat Kristiani di Indonesia untuk menyerbut nama Bapa kita dengan Bapa Yahweh, karena kita adalah bersaudara dan kita juga dipenuhi dengan rasa kasih dan memiliki damai sejahtera dari Tuhan Yeusu Kristus.
Hanya secara logika saja, bukankah kita sebagai umat Kristiani yang tingal di Indonesia yang mayoritas beragama Islam tidak akan memberi nama kepada anak2 kita suatu nama Arab,misalnya Abdullah, Muhammad, Nasruddin, Abubakar dll., tetapi memilih nama yang berbau Indonesia asli atau menggunakan nama2 dari Alkitab : Yohannes, Andrew/Andreas, Imanuel, Yoshua dll.
Alangkah beruntungnya kita,karena sebagai umat Kristiani di masing2 negara dapat membaca Alkitab dengan bahasa masing2, bukan dengan bahasa Ibrani. Alangkah janggalnya jika dalam Alkitab muncul satu nama Arab, dan malangnya nama Arab tsb. dipakai sebagai nama Bapa yang kita sembah dan kita muliakan sebagai sesembahan unat Kristtiani. Sebutan Yahweh atau Yehovah sebagai pelafalan YHWH adalah tidak salah. Bukankah nama Tuhan Yesus Kristus di berbagai bahasa juga pelafalannya tidak sama : Jesus Christ, Jesu, Gusti Yesus, Iesu dll.Jadi kalau dinegara yang berbahasa Arab menggunakan Allah sebagai nama generik boleh2 saja, tetapi bukan nama diri dari Bapa kita ! Bahasa Indonesia sudah menggunakan istilah Tuhan sebagai nama generik, masa masih kurang dengan menggunakan juga kata A....? Sudaraku umat Kristiani di Indonesia, gantilah Alkitab yang saudara pakai pada saat ini dengan KSILT ( Kitab Suci Indonesia Literal Translation ) edisi ke II
.Anda bisa dapatkan di T.B. Gramedia terdekat. Beroalah agar Kementerian Agama Indonesia dapat mengikuti jejak saudara serumpun di Malaysia dengan melarang penggunaan nama A.... seagai nama sesembahan umat Kistiani di Indonesia.
Perhatikanlah saudaraku, bahwa umat agama lain di Indonesia juga menyebut nama sesembahan mereka dengan nama masing2,bukan dengan Allah Wisnu, Allah Budha, Allah Thian ?
Semoga bermanfaat dan Bapa Yahweh memberkati ! Shalom.
Org Kristen tidak ada keharusan menggunakan atau mengucapkan nama Yahweh kerana Yahweh bukan pengucapan untuk YHWH. Yahweh ialah salah satu dari sekian banyaknya cara pengucapan yg diduga atau diandaikan oleh para penerjemah jaman dulu sebagai nama utk mengucapkan YHWH. Bag penerjemah ini, tidak ada keharusan menggunakan atau mengucapkannya karena toh bukan pengucapan akurat/benar melainkan sekadar saranan aja. Karena itulah para penerjemah modern memilih untuk mengsubstitusikan nama YHWH (yg pengucapannya seorgpun didunia initidak tau) dengan TUHAN dan ALLAH (dalam kasus khusus).
Kedua, LAI dan para penerjemah modern sama sekali tidak menghapuskan atau mengubah empat hurup mati itu, YHWH di Tenakh, PL asli sebaliknya cuma mengsubstitusikan apabila menerjemahkannya ke bahasa2 lain.
Tujuannya jelas, LAI dan badan2 penerjemahan Al-KItab sedunia merasa tidak adil bahkan tidak masuk diakal memaksa para pembaca mereka membaca YHWH padahal YHWH bukan huruf hidup. Jadi supaya semua kata YHWH dapat dibaca makanya disubstitusikan dengan TUHAN dan ALLAH.
Otoritas ini datangnya dari Roh Kudus karena dalam PB, Roh Kudus mengilhamkan para penulisnya mengubah semua nama YHWH yg dikutip mereka dari PL ke KURIOS dan THEOS. Kalu Roh Kudus boleh mengubah YHWH ke KURIOS dan THEOS dengan demikian membuktikan tidak ada keharusan memakai atau mengucapkan nama YHWH mengapa kalian mau mengurangi dan menambahi otoritas Roh Kudus. Bukankah ini membuktikan kalian menghujat dan menentang otoritas Roh Kudus.
Terakhir, menyangkut nama Allah saya malah heran mengapa kalian tetap ngotot dengan mengatakan bahwa nama Allah itu berasal dari Islam/Muhammad dan merupakan sesembahannya org Islam yg adalah berhala/dewa air-bulan padahal fakta2 sejarah dan para sarjana baik Kristen mahupun sekular membuktikan sebaliknya.
Kata 'Allah" sudah ada sebelum Islam/Muhammad jadi bagaimana kalian bisa mengatakan bahwa Yahudi dan Kristen menirunya dari Islam/Muhammad? Ini sungguh tidak masuk diakal dan org2 spt anda yg percaya ini sungguh telah dicuci otaknya oleh tokoh2 'pengagung nama Yahweh' sehingga tidak bisa melihat kebenaran walaupun punya mata dan tidak bisa mencerna mana benar mana salah meskipun punya pikiran!
Adapun kata 'Allah' dalam bahasa Arab sudah dipakai oleh org Arab beragama Yahudi, org Yahudi berbahasa Arab dan org Arab beragama Kristen/Masehiyyahjauh2 sebelum Muhammad lahir atau kemunculan Islam. Di kalangan Kristen Aram (yg menurut ahli sejarah bahasa Aram ialah bahasa Arab asli) Allaha ialah padanan utk semua kata2 Ibrani bagi El, Elohim dan Eloah dan kata Yunani Theos. Jadi jelas Allah (bahasa Arab) dan Allaha (bahasa Aram) berakar dari kata El bahasa semik dan kemudian berkembang ke kata2 spt sekarang. Ini hal yg lazim karena Arab, Ibrani, Aram dan bahasa2 suku Timur Tengah berasal dari satu ibu bahasa yakni Semik! Sila lihat dan bandingkan kemiripan kata2 Ibrani & bahasa Arab spt berikut: Nebi (Nabi), akchr (akhir), abbor (akbar), khatab (kitab), sefer (sifir), shekinah (saqinah), sedekha (sadukah), iqra (iqr dimana kata Quran berasal yg bermaksud ucap/baca dlm bahasa Ibrani sama artinya dlm bahasa Arab) dll justru membuktikan bahasa Ibrani dan Arab berasal dari kata2 dari satu ibu bahasa, Semik. Harus dicatat, sungguhpun kata2nya sama/mirip tetapi konsep/arti dari kata2 itu berberda, berbeda karena cara pandang theologis, misalnya konsep nebi/nabi berbeda, begitu juga dengan konsep rabbi/al-rabb, yg satu bermaksud Guru/Pengajar yg kemudian, Tuhan/Penguasa nah hal ini bisa diterapka ke kata 'Allah' yg satu ialah nama umum (juga nama diri kalu berasal dari kata El) dan yg kemudian/Islam bermaksud nama diri (sebenarnya Allah sebagai nama diri di kalangan sarjana Islam masih diperdebatkan, ada sebagian sarjana menganggapnya cuma nama sesembahan umum sepadan dengan kata Tuhan, God, Sheng-Ti dll, cuma di muslim posisi ekstrem saja yg berpikiran sebaliknya) , yg satu diucapkan 'Alah' sebaliknya muslim mengucapnya Alloh atau Aowloh meskipun sama2 menulisnya 'Allah'.
Jadi marilah kita tinggal kebohongan dan kepalsuan dan bacalah Injil dengan hati yg damai, sesungguhnya hati yg damai membebaskan kita dari pembodohan. Ingatlah kata2 seorg sarjana Al-Kitab, ignorance is the Christians cardinal (number ONE) enemy!!!
Mohon kiranya bapa daftar di ForumKristen.com dan kita bahas di sana. Sudah ada threadnya (kontroversi nama TUHAN). Silakan, demi kelancaran diskusi kita dan demi kebenaran.
Salam.
MTgyLjYzLjE4My4xNzc=
setiawan budi, Ubud, Bali | 09 Apr 2011 (09:15 UTC+07)
Menanggapi komentar dari cosmoc boy mengenai Sacred Name, Mesianik, Yudaisme dan Saksi2 Yehovah sekalipun. Seluruh deominasi Kristen Pantekosta, Protestan atau Katholik sekalipun yang ada di Indonesia pastinya tidak terkait dengan keempat organisasi tersebut diatas. Pasti akan tetap berada dijalur ajaran masing2 denominasi yang sudah lama berakar di Indonesia. Masalah pokok hanya merubah nama Bapa sesuai dengan nama dalam Alkitab,bahkan LAI pun mengakui bahwa TUHAN = Yahweh ( lihat kamus Alkitab LAI ).. Jadi Trinitas adalah : Bapa Yahweh, Tuhan Yesus Keristus ( = Yeshua Hamasia ) dan
Roh Kudua. Adalah suatu halyang mengherankan mengapa umat Kersiten di Indonesia masih menyebut nama Bapa dengan Allah, yang jelas merupakan sesembahan dari umat Islam dan sebelumnya merupakan nama dewa bulan di Arab. Apakah kita tidak miris kalau para teroris,
jihad, al-qaeda dan lain2 sewaktu melakukan jihad nya meneriakkan Allahuakbar, sedangkan kita umat Keristen juga berdoa kepada nama yang sama ?
Untuk meluruskan hal ini, kami menghimbau agar LAI dalam penerbitan Alkitab edisi berikut sudah mengganti kata TUHAN dengan Yahweh dan kata Allah dengan Elohim. Juga kepada situs rohani Kristen yang hadir didunia maya agar tidak lagi memakai nama Allah, meskipun dengan maksud nama generik / jabatan. Sebaiknya gunakan istilah Tuhan sebagai nama generik. Kepada seluruh umat Keristen di Indonesia juga saya himbau untuk merubah nama Bapa dengan nama yang benar : Bapa Yahweh. Tetaplah di ajaran / liturgi denominasi masing2, tanpa harus terpengaryh dengan Sacred Name, Mesianik, Yudaisme apalagi Saksi2 Yehovah yang jelas2 bukan ajaran yang kita anut.
Berdoalah kepada Tuhan yang benar : Bapa Yahweh, Tuhan Yesus Keristus dan Roh Kudus. Yang saya kuatirkan kalau waktu penghakiman terakhir Tuhan Yesus berkata : " kamu tidak kenal Bapa Ku ! " Saudara2ku, hindari kejadian ini. Shalom and be blessed !
MTEwLjEzOS4xNzYuMjI5
CosmicBoy, Perisai.net | 08 Apr 2011 (23:40 UTC+07)
Sesungguhnya kelompok2 SN (sacred name) dan Mesianik mengajar bahwa nama Bapa ialah Yahweh dan nama Anak ialah Yeshua. Menurut mereka YHWH sang Bapa = YHWH sang Anak. Jadi Bapalah yang menjelma sehingga yang mati dikayu salib ialah Bapa itu sendiri! Ini ajaran Sabelisme, seorang bidat abad 3 yang dianathema (diisytiharkan heretik/menyimpang) oleh Gereja Universal & Rasmi sebagai sesat dan menyesatkan.
Ajaran diatas menyimpang dari ajaran Al-Kitab yang dengan jelas mengajar bahwa YHWH (yang kemudian oleh para penulis PB disubstitusikan dengan TUHAN) ialah nama untuk Bapa, Anak & Roh Kudus.
YHWH sang Anak lah yang berinkarnasi menjadi manusia dan diberi nama Yesus.
YHWH sang Bapa dan YHWH Roh Kudus tidak berinkarnasi, hanya YHWH sang Anak saja. Itu jelas2 ajaran Al-Kitab.
Sungguh, kaum SN/Mesianik ialah kelompok2 yang sesat dan perlu didoakan bahkan perlu dibawa kembali ke jalan benar/lurus dari segala pembohongan dan pembodohan yang dimainkan oleh para takoh2 SN/Mesianik ini. Kebanyakan mereka tidak menyakini ajaran Allah tritunggal sebaliknya menganut paham unitarianisme dan sebagian pula oneness. Variasi ajaran esensi (menyangkut ketuhanan) aja sudah banyak perbedaan bahkan pertentangan antara mereka jadi mana mungkin ajaran ini berasal dari YHWH/TUHAN yg sama!
Sangat disayangkan kelompok2 ini mempunyai agenda terselubung dengan berkiblat ke arah Zionisme/keyahudian dan sangat anti-Arab dan anti-Islam bahkan anti-Kristen arus utama sehingga sewaktu2 coba secara halus mengadu domba sesama Kristen dan Kristen juga Kristen dan Islam dengan cara menuduh orang Kristen menyembah tuhan orang Islam yg adalah berhala sehingga perbuatan orang Kristen mempengaruhi keselamatan mereka (tidak masuk surga) dan di sisi lain menyerang Allahnya muslim dengan mengajar bahwa Allah itu dewa air/bulan bahkan pernah para anggotanya mengaku dirasul 'allah setan", itu kalu bukan asu domba apa ya? Para pembaca bisa menilai sendiri.
Jadi saya mohon anggota2 dari kelompok2 ini supaya membaca Injil dengan hati yg damai, hati yang damai akan membebaskan kalian dari pembodohan itu.
Salam kasih.
NDkuMTI1LjQuMTA0
setiawan budi, Ubud | 05 Apr 2011 (12:03 UTC+07)
Penggunaan nma YHWH dapat disebut dengan Yehovah atau Yahweh. Pada intinya setiap denominasi Kristen di Indonesia sebaiknya merubah panggilan nama Allah dengan Yehovah atau Yahweh, karena nama diri dari Tuhan Bapa yang benar adalahJHWH, bukan Allah yang merupakan sesembahan dari agama Islam dan berasal dari bahasa Arab. Karena Tuhan Yesus pada saat reinkarnasi menjadi Anak Manusia adalah sebagai orang Israel / Yahudi, maka untuk nama pribadi jangan mengambil istilah dari bangsa lain. Semua denominasi Kristen di Indionesia tidak perlu kuatir bahwa dengan merubah nama panggilan kepada Bapa dengan nama Yahweh berarti ajaran masing2 synode akan mengikuti ajara Yudaisme, karena yang diubah hanya nama pribadi dari Bapa Yahweh saja. Kalau yang menggunakan nama jabatan Tuhan lebih baik daripada menganggap Allah sebagai nama jabata. Pemerintah Malaysia sudah tepat dalam mengatur perbedaan sebutan untuk Tuhan agama Kristen dan Islam. Semoga pemerintah Indonesia dapat mengikuti jejak pemerintah Malaysai. Shalom !!!
MTEwLjEzOS4xNzYuMjI5
CosmicBoy, Perisai.net | 03 Apr 2011 (11:28 UTC+07)
Kelompok 'pengagung nama Yahweh' sering berargumen secara ''strawman" dengan menuduh orang Kristen menyamakan Allah = Yahweh! Mereka membawa2 pernyataan yang kononnya itu keyakinan orang Kristen dan menyerang habis-habisan pernyataan tersebut, ini bagi saya bukan saja argumen yang tidak mendasar tetapi juga mengandungi agenda terselubung.
Yang benar, Allah bukan YHWH (saya sih heran darimana mereka dapat nama Yahweh, setau saya PL menulis YHWH, empat huruf mati yang tidak ada seorang pun di dunia ini tahu bagaimana mengucapkannya secara akurat/benar), Allah dalam theologia Kristen/Al-Kitab ialah nama umum/generik yang berfungsi sebagai common noun, adapun Allah muslim yg dikenali sebagai Alloh swt dikatakan sebagai proper noun/nama diri, itu bukan urusan orang Kristen (bukan semua sarjana Islam sepakat bahwa Allah itu sebuah nama diri melainkan padanan universal bagi sesembahan bangsa2 di dunia spt God utk orang Inggris atau Deus untuk orang Latin atau Tuhan untuk orang berbahasa Indonesia/Malay), jadi salah besar, salah kaprah menyamakan Allah dengan YHWH yang adalah sesembahan umat PL. YHWH ialah sebuah nama diri/proper noun yang sayang sekali pengucapannya sudah lama hilang, sejak 600 SM (menurut penelitian) yakni semenjak kembalinya orang Yahudi dari pembuangan di Babel, sejak itu hingga sekarang tidak ada seorang manusia pun termasuk orang Yahudi/Ibrani yang bisa mengucapkan nama itu secara benar/akurat, jadi saya heran bagaimana mereka dapat nama Yahweh ini!
Yang benar, Yahweh tidak terdapat dalam PL melainkan hanya empat huruf mati, YHWH. Ucapan 'Yahweh" ialah satu dugaan yang dihasilkan oleh para sarjana/ahli kitab beberapa abad yang lalu sebagai salah satu dari puluhan ribuan cara untuk menyebut nama YHWH itu. Tidak masuk diakal memaksakan pengucapan dari empat huruf mati YHWH ini ke para pembaca Al-Kitab termasuk LAI.
Sungguh, para 'pengagung nama Yahweh' telah melakukan satu kesalahan dengan memaksa satu nama yang dihasilkan dari dugaan orang sebagai sebuah nama untuk sesembahan orang Kristen, saya sih tidak mau, mending menyebut TUHAN aja, masok saya mengucapkan sebuah nama yang dihasil dari dugaan manusia!!!
Jadi mohon kiranya kita umat Kristen jangan diperdayakan oleh kelompok ini yang bagi saya memiliki tokoh2 yang ngga bermutu sebaliknya hanya mau mempertahankan satu agenda terselubung. Marilah kita pakai nalar kita untuk membedakan mana yang benar mana yang salah. Semoga Roh Kudus memimpin orang2 yang dipercayakannya.
Salam.
NDkuMTI0LjEzMS4xOQ==
Budiman Lee, Bekasi | 15 Jan 2010 (19:07 UTC+07)
Utk tambahan informasi ttg kontroversi Allah dgn YHWH, silahkan simak artikel berikut: "Mengapa Saya Menggunakan Kata Elohim" di link berikut ini: ::link::