 |
| Rasid Rachman |
|
| Artikel lainnya |
|
Perisai.net - MEMANJATKAN Doa Bapa Kami dalam liturgi telah lama diterapkan oleh Gereja-gereja Protestan di Indonesia, sekalipun tanpa perayaan perjamuan kudus. Hal ini menjadi lazim, karena sejak awal masuknya agama Kristen di Indonesia, perjamuan sangat jarang sekali dilaksanakan. Mungkin setahun sekali, atau paling banyak setahun empat kali. Selain karena alasan kurangnya tenaga Pendeta sekitar abad ke-19 di Indonesia, juga karena kebiasaan Jemaat-jemaat Reformed di Negeri Belanda yang memang hanya 4 kali setahun merayakan perjamuan. Jumlah ini sebenarnya sesuai keputusan Pemerintah Kota Jenewa semasa Johannes Calvin hidup pada abad ke-16. Sementara Doa Bapa Kami menjadi salah satu bahan hafalan umat dan terutama katekisan di lingkungan Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Oleh karena itu, sekalipun ikut serta dalam perjamuan tetap menjadi hal yang menakutkan, namun tetap menghafal Doa Bapa Kami mutlak dipertahankan.
Bagaimanakah Doa Bapa Kami menjadi doa liturgi?
Sejak abad ke-6 di Roma, Doa Bapa Kami menjadi salah satu unsur yang ...
--artikel terpotong--
Maaf isi lengkap artikel ini hanya diperuntukkan bagi anggota situs ini. Silakan lakukan pendaftaran (gratis)
© Rasid Rachman
Pakar Liturgi Gereja
Bagikan ke Facebook
⇒ 16 Mei 2009 (18:42 UTC+07)