| Artikel lainnya |
Ceritanya sederhana. Suatu hari di bulan Desember tahun lalu, saat Margolese pulang dari sekolah, seorang laki-laki Yahudi meludahinya, menghujaninya dengan kata-kata kotor, dan menyebutnya sebagai pelacur. Rupanya laki-laki Yahudi ultra-Ortodoks itu marah karena sebagai gadis, Margolese tidak berpakaian sebagaimana diatur dalam hukum agama Yahudi. Margolese memakai pakaian yang cukup sopan sebetulnya, tetapi masih dianggap kurang “religius” oleh kalangan Yahudi ultra-Ortodoks.
Setelah peristiwa pelecehan ini, ribuan orang Yahudi, terutama kalangan Ortodoks yang moderat, ramai-ramai mendatangai kota Beit Shemesh untuk memprotes kekerasan dan fanatisme. Kalangan Yahudi ultra-Ortodoks meneriaki wartawan perempuan yang meliput protes itu dengan sebutan “shikse”, alias ‘pelacur’ dalam dialek Yiddish.
Pandangan kaum Yahudi ultra-Ortodoks agak-agak mengingatkan kita pada kaum Muslim fundamentalis pada umumnya. Kedua kelompok itu, misalnya, mempunyai visi yang kurang lebih sama tentang perempuan serta tempatnya dalam masyarakat. Mereka, kalangan ultra-Ortodoks itu, misalnya, berpendapat bahwa laki-laki diharamkan untuk mendengarkan suara perempuan.
Seorang tentara Yahudi Ortodoks pernah meninggalkan barisan yang sedang menyanyikan mars militer, karena di sebelahnya ada seorang tentara perempuan yang ikut bernyanyi. Ini mengingatkan kita pada pandangan sebagian kalangan Islam (ortodoks/konservatif) yang menganggap bahwa suara perempuan adalah aurat yang harus ...
--artikel terpotong--
Maaf isi lengkap artikel ini hanya diperuntukkan bagi anggota situs ini. Silakan lakukan pendaftaran (gratis)
Masuk: 09 Jan 2012 (12:39 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi