| Artikel lainnya |
Berbicara mengenai “keilahian” dan “kemanusiaan” Yesus terkait erat dengan konsep keesaan Allah dalam polemik panjang gereja mula-mula. Gereja selama lima abad pertama bergulat dengan kontroversi soal keesaan Allah, yang di dalamnya juga berbicara tentang dua tabiat Yesus tersebut. Ada suatu periode panjang terbentuknya konsep yang sekarang kita pahami, mulai dari periode Yesus sendiri hingga periode 451 M dalam Konsili Kalsedon. Itupun tidak mengakhiri kontroversi dalam gereja seputar persoalan di atas.1
Hampir semua orang, yang tentu saja rajin mengikuti perjalanan historis dogma gereja, telah mengetahui jalan panjang kontroversi di atas. Karena itu, saya pikir, saya tidak perlu banyak berbicara mengenai kontroversi itu. Saya lebih tertarik dengan sebuah pertanyaan yang diajukan oleh Ragnar Leivestad, seorang profesor emeritus teologi Perjanjian Baru di Universitas Oslo, Norwegia. Ia bertanya tentang suatu pertanyaan fundamental yang jarang ditanyakan orang Kristen, “Siapakah Yesus menurut diri-Nya sendiri?”2
Menurut Leivestad, Yesus tidak pernah menghendaki diri-Nya disebut “Mesias” 3, apalagi yang lebih dari itu, tapi gereja telah memproklamasikan Yesus sebagai “Mesias” melebihi konsep Yudaisme tentang Mesias itu sendiri, bahkan Ia telah diperkenalkan sebagai Allah itu sendiri. Inilah yang kemudian memicu nada-nada emosional Arius yang berbuntut pada terselenggaranya Konsili Nikea 325 M.4
Saya ‘mungkin’ tidak akan berpikir seradikal Leivestad [dan Grant] dalam kesempatan ini. Tapi, saya tertarik untuk membahas masalah kemanusiaan Yesus sebelum kemudian membahas keilahian-Nya.
Kemanusiaan Yesus
Kemanusiaan Yesus murni kemanusiaan sejati, bukan kemanusiaan demi-god (separuh Allah) seperti ...
--artikel terpotong--
Maaf isi lengkap artikel ini hanya diperuntukkan bagi anggota situs ini. Silakan lakukan pendaftaran (gratis)
© Yoses R
Aktivis Magen Avraham
Masuk: 12 Jun 2008 (16:56 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi