| ||
| Artikel lainnya | ||
Vatke (Die Religion des Alten Test., 1835, hlm. 672) dan J.G. Müller (Die Semiten in ihrem Verhältniss zu Chamiten und Japhetiten, 1872, hlm. 163) kemudian memberi pendapat yang berbeda. Keduanya berpendapat bahwa nama Yahweh berasal dari Indo-Eropa (Dyaus). Pendapat ini tidak dapat diterima oleh banyak pakar dan dianggap merupakan suatu bentuk pemaksaan istilah.
Pendapat yang kemudian banyak dipegang adalah bahwa nama Yahweh berasal dari Mesir. Pendapat ini banyak didukung oleh para sarjana sebab Musa sendiri merupakan seorang pemimpin Ibrani yang tumbuh dan dididik di Mesir. Namun, argumen-argumen yang diberikan masih banyak diragukan:
- Röth (Die Aegypt. und die Zoroastr. Glaubenslehre, 1846, hlm. 175) mengatakan bahwa nama itu berakar dari nama dewa bulan Mesir Ih atau Ioh.
Pierret (“Vocabul. Hiérogl.”, 1875, hlm. 44) menolak argumen ini dengan mengatakan bahwa tidak ada hubungannya antara dewa bulan Mesir dengan Yahweh Ibrani. - Plutarch (De Iside, 9) mencoba membuktikan dengan ditemukannya sebuah patung Athene (Neith) di Sais dimana terdapat sebuah inskripsi bertuliskan “Aku adalah segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan ada.” Argumen ini pun dibantah oleh Tholuck (Vermischte Schriften, I, hlm. 189-205). Menurut Tholuck, arti dari inskripsi tersebut berbeda dengan arti nama Yahweh.
- Kalimat kuno Mesir, “nuk pa nuk” juga dijadikan argumen karena memiliki kemiripan dengan kalimat “ehye asher ehye” dalam Bahasa Ibrani. Namun, argumen ini juga dianggap lemah sebab menurut Le Page Renouf ...
--artikel terpotong--
Maaf isi lengkap artikel ini hanya diperuntukkan bagi anggota situs ini. Silakan lakukan pendaftaran (gratis)© Yosi Rorimpandei
Aktivis Magen Avraham⇒ 02 Apr 2009 (15:09 UTC+07)









|
dibaca sebanyak 1581 kali |

Komentar Pembaca
Rekomendasi