| Berita lainnya |
Halaman dari buku kuno yang ditulis tangan lebih dari 1.600 tahun yang lalu dan bagian-bagian dari Alkitab ini sempat terpisah dan berada di empat negara berbeda selama lebih dari 150 tahun.
Perubahan format naskah ke dalam bentuk digital ini melibatkan banyak pihak, seperti Perpustakaan Nasional Inggris, Perpustakaan Nasional Rusia, Perpustakaan Leipzig University Jerman, dan St. Catherines Monastery di Mesir. Keempat pihak ini mengadakan negosiasi untuk mengumpulkan semua fragmen.
Anggota tim Proyek Codex Sinaiticus telah bekerja selama empat tahun agar bisa mengubah Alkitab Kristiani tertua di dunia ini dalam bentuk digital.
"Proyek ini menawarkan satu jendela ke dalam perkembangan awal agama Kristiani dan bukti pertama tentang bagaimana teks Alkitab itu dikirim dari generasi ke generasi," ujar salah satu karyawan Proyek Codex Sinaiticus.
Ditemukannya naskah asli berupa salinan lengkap awal mula dari Jemaat Perjanjian Baru ini ternyata membawa dampak kurang baik bagi kitab perjanjian lama.
Saat ini, banyak peneliti dan pustakawan Kristiani Internasional yang masih mempertanyakan keabsahan isi dari kitab perjanjian lama dan buku-buku yang beredar di kalangan umat Kristiani di dunia.
Menurut informasi yang ada, sedikitnya bukti-bukti sejarah yang memperkuat kebenaran isi kitab-kitab perjanjian lama menjadi salah satu penyebabnya. [Jwb]
Codex Sinaiticus adalah salah satu naskah kuno dalam bentuk manuskrip (salinan tangan) yang sangat penting bagi kekristenan. Codex (naskah kuno) ini berisi naskah-naskah Perjanjian Baru yang ditulis dengan huruf Yunani uncial (kapital).
Uniknya, dalam codex ini, naskah-naskah Perjanjian Baru disalin secara lengkap mulai dari Matius hingga Wahyu.
Selain itu, dalam codex ini juga terdapat salinan naskah-naskah Septuaginta (LXX), yaitu teks Perjanjian Lama berbahasa Yunani.
Masuk: 10 Jul 2009 (17:48 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi