| Berita lainnya |
Pembakaran al-Qur'an dilakukan oleh pendeta Wayne Sapp di bawah pengawasan pendeta Terry Jones, yang September lalu menuai kecaman atas rencananya untuk membakar setumpuk al-Qur'an pada peringatan serangan 11 September 2001.
Sebelumnya, mereka melakukan sidang atas al-Qur'an dan menyatakan bahwa al-Qur'an "bersalah" dan harus "dieksekusi."
Sebelum diputuskan bersalah, para juri sempat melakukan pembahasan selama sekitar delapan menit. Selanjutnya, al-Qur'an yang telah direndam selama satu jam dengan minyak tanah, dimasukkan ke dalam nampan logam di tengah gereja, setelah itu pendeta Sapp menyulutnya dengan api menggunakan penyulut barbekyu.
Kitab itu terbakar selama sekitar 10 menit sementara beberapa penonton berpose untuk mengambil foto.
Pendeta Jones telah mendapatkan kecaman tajam dari banyak orang, termasuk dari Presiden AS Barack Obama, Hillary Clinton dan Menteri Pertahanan Robert Gates. Kecaman juga datang dari sejumlah tokoh dunia, termasuk dari Indonesia.
Sejumlah tokoh Kristen juga ikut mengecam rencana Jones untuk membakar al-Qur'an pada peringatan serangan 11 September 2001, sehingga pada akhirnya Jones membatalkan niatnya dan menyatakan tidak akan pernah melakukannya lagi.
Tapi, kali ini ia mengatakan bahwa ia telah mencoba memberikan kesempatan kepada dunia Islam untuk membela kitab suci mereka, dan tidak ada jawaban apapun.
Persidangan atas al-Qur'an dilakukan Jones dan terbuka untuk umum, namun, persidangan itu sendiri hanya dihadiri oleh kurang dari 30 orang.
Jadwiga Schatz, salah satu peserta yang menunjukkan dukungannya bagi Jones, mengatakan prihatin atas berkembangnya Islam di Eropa.
"Orang-orang ini, bagi saya, seperti monster," katanya. "Aku benci orang-orang ini."
Jones sendiri menilai bahwa pengadilan terhadap al-Qur'an yang ia lakukan kali ini berhasil.
"Ini adalah pengalaman sekali dalam seumur hidup," katanya. []
© AFP
Masuk: 24 Mar 2011 (01:43 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi