| Berita lainnya |
"Saat pertama kali saya bergabung dengan komunitas ini dan membagi pengalaman dengan anggota yang lain tentang kesulitan yang saya alami, saya kemudian sadar bahwa saya tidak sendirian. Mereka juga mengalami hal yang sama, tapi mereka tetap ke gereja dan bergaul dengan tetangga," kenang Michaella Liany.
Dia berkisah, dulu setelah kejadian pahit itu menimpa dirinya dia seringkali mengunci diri, tidak mau mengikuti Misa di gereja, dan seringkali takut diejek orang lain yang mengetahui keadaan dia yang sebenarnya.
Majikan di sebuah perusahaan swasta tempat dia bekerja memecat Michaella tanpa alasan yang jelas setelah dia melahirkan anak puteranya pada bulan September 1999. Awalnya dia berpikir untuk mencari orang tua asuh bagi anaknya, tapi kemudian dia memutuskan untuk merawat anaknya itu. Sejak itu, dia menaruh harapan pada keluarga dan beberapa temannya.
"Sharing pengalaman dari teman-teman di komunitas ini menyadarkan saya bahwa apa yang telah saya lalui merupakan rahmat Tuhan bagi saya," kata Michaella setelah mengikuti Misa yang diselenggarakan oleh komunitas tersebut pada 11 Juli lalu di kapel suster Gembala Baik, Jatinegara, Jakarta Timur. Sekitar 150 anggota menghadiri Misa tersebut.
"Saya ingin membagi pengalaman saya dengan yang lain, karena saya tidak ingin mereka mengalami situasi yang sama," kata warga paroki Kalvari Lubang Buaya, yang kini tinggal bersama anaknya yang berusia 10 tahun.
Menurut koordinator Single Mother Community, Maria Monika Purwanti, komunitas ini berawal dari prakarsa Suster Gembala Baik yang menaruh perhatian pada nasib para single mother Katolik, terutama untuk menguatkan mereka.
Para suster mulai mengumpulkan data pada tahun 2003, dan pada bulan September 2008 komunitas ini pun dibentuk.
Komunitas ini melakukan program rutin seperti konseling bagi para anggota, bukan saja yang berasal dari Jakarta, tapi juga Bali dan Makassar. [ ]
© Cath News
Masuk: 14 Jul 2010 (02:33 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi