| Berita lainnya |
"Yang diinginkan pria dan wanita hari ini dari kita adalah menjadi imam sampai akhir, dan bukannya yang lain," demikian ungkap Paus di depan 700 peserta Konfrensi Vatikan tentang keimaman.
Tetapi Uskup Agung Salzburg, Alois Kothgasser tidak sependapat sepertinya, "Waktu telah berubah, dan komunitas juga, dan gereja harus mempertimbangkan tipe kehidupan seperti apa untuk mengatasinya atau hal apa yang perlu diubah."
Senada dengan hal ini, Kardinal Chritoph Schoenborn dari Wina menulis dalam newsletter keuskupan bahwa gereja harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang skandal pelecehan yang terjadi diantara para imam.
"Itu termasuk masalah selibat dan pengembangan pribadi para imam," tulisnya.
Uskup Hamburg Auxiliary, Hans-Jochen Jaschk mengatakan dalam sebuah radio Jerman bahwa seorang imam yang tidak menjalani kehidupan seksualitasnya bukan berarti hal tersebut sudah di nonaktifkan, tetapi dirinya tidak setuju selibat dijadikan alasan untuk melakukan pelecehan seksual.
Hal ini di dukung oleh Professor Klaus Beier, Kepala Institut Ilmu Sexology dan Pengobatan Seksual di Rumah Sakit Charite Berlin, bahwa pedofilia berkembang di masa pubertas dan tidak dipengaruhi oleh selibat.
Tetapi dia menambahkan bahwa "Selibat menarik para pedofilia ke pelayanan Gereja Katolik."
Jadi, masihkah para imam perlu selibat atau tidak dalam mengatasi permasalahan pelecehan seksual? Sepertinya hal ini akan menjadi pembahasan yang panjang di Vatikan dan kalangan gereja Katolik Roma. [JN]
Masuk: 16 Mar 2010 (13:17 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi