| Berita lainnya |
Baru-baru ini sebuah survei yang mengukur tentang pengetahuan agama warga Amerika menemukan bahwa kelompok ateis dan agnostik justru tahu lebih banyak tentang agama, dibanding rata-rata, pengikut agama.
Kesenjangan dalam pengetahuan antara orang beriman tersebut menunjukkan bahwa keberimanan seseorang sedang mengarah pada "iman buta." Mayoritas Protestan, misalnya, tidak bisa mengidentifikasi Martin Luther sebagai kekuatan pendorong di belakang Reformasi Protestan.
Menurut survei yang dirilis Selasa kemarin oleh Pew Forum tentang Agama & Kehidupan Publik, ditemukan bahwa empat dari 10 umat Katolik juga salah memahami tentang makna ritual pusat gereja mereka, termasuk salah mengatakan bahwa roti dan anggur yang digunakan dalam Perjamuan Kudus yang melambangkan tubuh dan darah Kristus, tidak benar-benar terjadi pada mereka.
Sementara itu kelompok ateis dan agnostik yang percaya tidak ada Tuhan atau yang tidak yakin – lebih mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan survei itu dengan benar. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, mengapa ateis justru tahu lebih banyak tentang agama dari pada seorang Kristen?
Menurut Alan Cooperman, Direktur riset Forum Pew, seperti dilangsir Latimes, "Ateis Amerika dan mereka yang mengaku agnostik umumnya adalah orang yang dibesarkan dalam tradisi keagamaan, yang kemudian secara sadar menyerah setelah melakukan banyak refleksi dan studi", kata Alan.
"Ini adalah orang-orang yang berpikir banyak tentang agama," katanya. "Mereka tidak acuh, Mereka peduli tentang hal itu," terang Alan.
Dalam survei tersebut, ateis dan agnostik juga cenderung relatif berpendidikan tinggi, dan survei menemukan, bahwa orang yang paling berpengetahuan adalah orang yang juga terbaik berpendidikan.
Sementara itu, Pendeta Adam Hamilton, seorang pendeta Methodist dari Leawood, mengatkan bahwa hasil survei tersebut mungkin mencerminkan keengganan banyak orang untuk menggali secara mendalam kepercayaan mereka sendiri dan kepercayaan orang lain.
"Saya pikir apa yang terjadi terhadap orang Kristen adalah karena mereka hanya menerima iman tertentu – menerima untuk menjadi kenyataan dan mereka berhenti memeriksanya. Karena sudah diterima menjadi kenyataan, mereka tidak memeriksa agama orang lain. Saya pikir, hal itu tidak sehat bagi orang dalam iman apapun," kata Adam. []
© Reformata
Masuk: 29 Sep 2010 (16:54 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi