| Berita lainnya |
Festival itu menampilkan wayang suket (wayang yang terbuat dari rumput, diiringi dengan gamelan), sendratari (cerita rakyat), babad (legenda), tari, sholawat (tembang Jawa dengan lirik dari Kitab Suci dengan iringan rebana atau terbang), serta drama musik dan komedi.
Lebih dari 1.000 penonton memadati Lapangan Sepace di kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta untuk menyaksikan pagelaran tersebut pada akhir pekan lalu.
”Melalui kegiatan ini Orang Muda Katolik Kulon Progo semakin berperan aktif dalam menjaga dan mengembangkan tata kehidupan masyarakat sebagai perwujudan iman,” kata Johanes Advent Tody, koordinator festival itu.
Festival yang mengambil tema: ‘Saiyeg Saeka Kapti, Memetri Rukuning Sesami’ (Bertekad bersatu dalam karya, demi kerukunan dengan sesama), dikuti oleh sepuluh kelompok berasal dari empat paroki dan enam stasi yang tersebar di wilayah Kabupaten Kulon Progo.
Kegiatan kesenian itu digelar untuk memperebutkan tropi dari Gubernur DIY Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X dan tropi dari Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr Johannes Maria Trilaksiyanto Pujasumarta.
“Namun, bersamaan dengan itu kami ingin merawat dan melestarikan budaya setempat, khususnya kesenian tradisional,” kata Tody.
Ia berharap kesenian tradisonal mampu menciptakan ruang interaksi di antara orang-orang yang terlibat, serta menumbuhkan pemahaman yang mendalam secara personal maupun komunal.
Pastor Pius Riyana Prapdi, Vikjen Keuskupan Agung Semarang, dalam sambutannya mengatakan OMK memaknai kesenian tradisional sebagai cara berkomunikasi untuk membangun negeri.
“Kesenian tradisional menjadi hidup dan mampu menghidupkan masyarakat dalam berwawan hati, berempati dan bersilaturahmi. Kesenian tradisional bisa merangkum, merengkuh dan mengukuhkan keberagaman, kemajemukan dan perbedaan. Kesenian tradisional juga bisa menjadi perayaan pluralitas,” kata pastor itu. []
© Cath News
Masuk: 26 Jul 2011 (23:55 UTC+07)











Komentar Pembaca
Rekomendasi