| Berita lainnya |
Inilah yang tercetus dalam simposium di Yogyakarta yang dihadiri oleh lebih dari 50 uskup, imam dan kaum awam dari Brunei, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam.
Simposium tersebut diadakan sebagai sarana untuk mendiskusikan pegalaman mereka dalam membantu pasangan-pasangan muda yang baru saja menikah.
Masalah keuangan dianggap sebagai masalah utama penyebab stress dalam pernikahan. Di daerah perkotaan, suami dan istri sama-sama dipaksa untuk bekerja sehingga mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk berkomunikasi. Akibatnya hubungan pernikahan menjadi lemah.
Para peserta simposium mengatakan bahwa hal tersebut dapat mengarah pada perceraian. Karena itu, mereka sepakat untuk membentuk pusat kepedulian keluarga di negara-negara mereka masing-masing.
"Para pasangan muda umumnya mengetahui apa itu pernikahan," kata Uskup Fransiskan, Michael Angkur, dari Bogor. "Tapi, banyak di antara mereka tidak memahami apa itu kehidupan rumah tangga dan implikasi-implikasinya bagi anak-anak mereka juga bagi pembinaan iman mereka."
Angkur mengatakan mendukung pembentukan pusat kepedulian keluarga untuk memberikan dukungan bagi keluarga-keluarga.
Rencananya, simposium serupa akan diadakan di Malaysia pada tahun 2010. [ucan]
Masuk: 09 Jun 2009 (17:32 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi