| Berita lainnya |
Pada 7 Mei lalu, pemerintah federal telah mengumumkan diadakannya operasi militer skala penuh untuk mengusir Taliban di lembah Swat di sebelah barat laut provinsi tersebut.
Menurut data badan urusan pengungsi PBB, dalam 11 hari sejak diumumkannya operasi militer tersebut, sekitar 670.906 orang telah mengungsi.
Sementara itu, menurut laporan media, jumlah pengungsi saat ini sudah lebih dari 800.000 orang, dimana 80.000 di antaranya telah ditempatkan di sebelah selatan zona perang.
Pihak militer Pakistan mengatakan, pada 15 Mei sudah ada 54 pejuang Taliban dan 9 orang tentara pemerintah yang tewas dalam perang tersebut.
Operasi militer yang terus meminta korban tersebut mendorong gereja lokal di wilayah Mardan, Pakistan, untuk mengalihfungsikan pusat pelatihan mereka menjadi tempat perlindungan.
Mereka tinggal di dua ruangan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Para pengungsi mengeluhkan mahalnya biaya transpor untuk bisa keluar dari wilayah mereka, sementara mereka tidak punya cukup waktu untuk mengumpulkan uang.
Karena itu, pihak gereja menyediakan tempat tidur dan makanan gratis di tempat perlindungan, bahkan dua dokter disiagakan untuk merawat sejumlah pengungsi yang terluka.
Warga Kristen di wilayah itu telah berupaya untuk mengumpulkan sumbangan serta memasak makanan untuk para pengungsi. Upaya ini mendapat respon positif dari seorang politikus Muslim di wilayah itu, sehingga ia pun turut memberikan sumbangan.
Uskup Gereja Katolik Pakistan telah melakukan kunjungan ke tampat perlindungan tersebut pada 12 Mei. Ia memberikan jaminan bahwa para pengungsi akan mendapatkan dukungan penuh berupa ketersediaan fasilitas yang nyaman.
Gereja sendiri belum mengetahui sampai kapan mereka akan menampung para pengungsi tersebut. Meski demikian, gereja terus memberikan segala upaya mereka demi menjamin bahwa para pengungsi tersebut mendapatkan pelayanan yang terbaik. [ucan]
Masuk: 17 Mei 2009 (11:55 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi