| Berita lainnya |
Namun, itu hanyalah kenangan sebelum ratusan polisi bersama preman memutuskan untuk menghancurkan gereja raksasa itu. Mereka merusak pintu dan jendelanya, menyita Alkitab dan mengakibatkan puluhan jemaat harus dirawat di rumah sakit karena terluka.
Sekarang, sejumlah pelayan gereja tersebut berada di penjara. Sementara, gerbang masuk ke kompleks gereja di sebelah utara provinsi Shanxi itu terkunci dan dijaga ketat aparat keamanan.
Penutupan paksa Golden Lamp Church merupakan pertanda betapa kuatnya upaya pemerintahan komunis Cina untuk membatasi pertumbuhan kekristenan yang sangat pesat di Cina.
Gereja-gereja besar di Cina berkembang melalui gerakan gereja rumah yang menolak campur tangan pemerintah terhadap gereja. Mereka meminta agar gereja lebih bebas dalam mengembangkan liturginya.
Undang-undang di Cina memberikan jaminan bagi kebebasan beragama. Namun, orang-orang Kristen di sana dipaksa untuk beribadah hanya di gereja-gereja yang dikelola oleh organisasi-organisasi yang dikendalikan negara.
Belakangan ini, keterkekangan tersebut mulai didobrak melalui pengembangan gereja-gereja rumah, meskipun hal tersebut sangat beresiko, sebab mereka dapat dipenjarakan oleh aparat keamanan Cina.
Tak hanya kekristenan, kelompok Buddhis Tibet dan Islam pun mengalami penghambatan serupa, seperti peristiwa yang terjadi di Tibet dan Uighur.
"Mereka sangat kuatir dengan upaya-upaya untuk membangun perkumpulan-perkumpulan masyarakat sipil," ungkap Daniel Bays, yang mengikuti perkembangan kekristenan Cina di Calvin College, sebuah rekolah agama di Grand Rapids, Michigan.
Otoritas setempat berusaha membongkar gereja-gereja besar sebelum "mereka tumbuh di luar kendali," kata Bob Fu, seorang mantan peneliti Partai Komunis di Beijing, yang sekarang mengepalai Asosiasi Bantuan Cina, sebuah kelompok pemberi bantuan yang didirikan oleh gereja dan berbasis di Texas, Amerika Serikat.
Setidaknya sekarang ini ada dua gereja besar yang menghadapi ketakutan yang sama.
Di Beijing, pada bulan Oktober, pihak otoritas Cina menutup gereja rumah Shouwang. Sementara, di Shanghai, gereja Wangbang juga menghadapi hal yang sama. Kedua gereja ini mengalami pertumbuhan lebih dari 1.000 anggota.
Pemimpin kedua gereja belum ditahan, namun para aktivis gereja semakin kuatir dengan tindakan-tindakan pihak berwenang Cina. [ap]
Masuk: 13 Des 2009 (12:42 UTC+07) | edit terakhir: 13 Des 2009 (12:45 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi