| ||
| Berita lainnya | ||
Dalam khotbah yang menandai perayaan 50 tahun Hope United Church, Rev. Hewitt mengingatkan jemaatnya bahwa ketaatan kepada Tuhan itu mahal, menuntut dan melibatkan ketundukan hidup. Ia juga mendesak para pemimpin gereja untuk menahan diri dari pemberitaan bahwa kekristenan akan membawa kesejateraan ekonomi.
"Injil kemakmuran adalah tafsiran yang keliru akan Injil," kata Rev. Hewitt. "Mengatakan bahwa jika Anda setia kepada Tuhan maka Anda akan makmur itu tidaklah benar. Ini bukanlah Injil yang mengikuti teladan Yesus."
Injil kemakmuran telah memicu kontroversi dalam kekristenan selama bertahun-tahun. Beberapa ahli mengatakan bahwa doktrin ini menyusup masuk ke gereja mula-mula dalam bentuk sekte-sekte yang serakah.
Beberapa teolog telah merujuk pada Alkitab, khususnya nasihat Paulus kepada Timotius, agar menjauhkan diri dari orang-orang yang berpikiran korup, yang berpendapat bahwa kekayaan adalah bagian dari kesalehan. Kepada Timotius, Paulus berkata bahwa cinta akan uang merupakan akar segala kejahatan.
Beberapa televangelis Amerika, yang khotbahnya telah menjangkau jutaan orang di seluruh dunia, juga sering menanamkan akan pentingnya uang. Salah satu pengkhotbah yang terkenal sebagai penyokong Injil kemakmuran adalah Rev. Ike, yang memberitakan tentang Injil kemakmuran materi.
Dikenal karena rumah-rumahnya yang mewah di New York dan Hollywood, mobil berkelas, perhiasan mahal hingga pakaian bergaya Liberace, Rev. Frederick J Eikerenkoetter II, mengaku membiayai jemaatnya US$ 1.000 per minggu. Kepada penontonnya ia memberitakan tentang sulitnya orang kaya masuk Kerajaan Surga, tetapi dengan penafsiran ala Injil kemakmuran. Ia berkata, "jika sulit bagi orang kaya untuk masuk surga, pikirkan bagaimana mengerikannya bagi orang miskin."
Selain mengritik masalah kemakmuran materi, Rev. Hewitt juga mengritisi para pendeta yang sibuk mengisi bangku-bangku gerejanya.
"Kami melihat orang-orang yang berusaha menjadi populer dengan cara memberikan apa yang mereka inginkan," katanya.
Banyak juga pendeta yang menyerukan jemaatnya untuk menuntun anggota baru yang belum terbiasa dengan gaya gereja megah.
Anak-anak muda yang urak-urakan pun mendapatkan pembenaran dengan alasan untuk lebih memodernisasi gereja.
Rupanya Rev. Hewitt melihat bahwa gereja kian mengalami krisis identitas. Untuk itu, banyak gereja mulai merubah penampilannya dan menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Akibatnya, gereja-gereja modern cenderung tidak konsisten dengan tradisi gerejanya. [jo]
⇒ 02 Feb 2010 (13:00 UTC+07)










Komentar Pembaca
Diskusi