| Berita lainnya |
Pokok-pokok pikiran ini tertuang dalam diskusi keagamaan yang diadakan oleh Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta, dengan mengambil tema "Bagaimana Menjembatani Umat Katolik dan Protestan". Romo Yohanes Indrakusuma, O Carm, dari umat Katolik, memberikan pandangannya terhadap kondisi tersebut, dan hadir pula pembicara dari umat Kristen Protestan, Pdt Samuel Budiprasetya, Msi.
Acara yang digelar Senin, (18/8) itu diselenggarakan dalam rangka perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia dan diikuti oleh puluhan mahasiswa STTRII dari berbagai angkatan. Topik tersebut diangkat, seperti dijelaskan oleh dosen STTRII yang juga sekaligus moderator dalam diskusi, Pdt Yakub B Susabda, Phd, dengan latar belakang keprihatinan gereja sejak lama. Keprihatinan karena terjadinya perpecahan dalam suatu gereja. Hal ini terjadi akibat kejenuhan yang dialami jemaatnya.
Menurut Romo Yo- hanes, merujuk sejarah dan akarnya, Katolik dan Kristen Protestan memiliki persamaan, namun dalam kenyataan terjadi perpecahan. "Sebenarnya telah banyak tindakan konkret atau usaha yang dilakukan oleh gereja untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama. Salah satu contoh pendekatannya adalah dengan membentuk sekretariat-sekretariat di daerah untuk mengadakan dialog-dialog antargereja," paparnya.
Ia melanjutkan, sikap prasangka yang seringkali muncul atas suatu perbedaan harus dapat dihilangkan oleh setiap individu. Mempertahankan kebenaran masing-masing bukan merupakan tindakan yang baik dalam menghadapi perbedaan yang ada di antara gereja.
"Mempertahankan kebenaran sebenarnya sah-sah saja dilakukan selama di dalamnya terdapat kasih, agar tidak tercipta kebencian antargereja. Begitulah seharusnya hubungan yang terjalin di antara gereja," kata Romo Yohanes, yang sempat mengenyam pendidikan teologi di Paris, Prancis.
Prasangka
Sementara itu, menurut Pdt Samuel Budiprasetya, keyakinan yang seharusnya dimiliki umat beragama, khususnya agama Katolik dan Kristen Protestan, adalah dengan menghargai keyakinan orang lain dan menjauhi prasangka-prasangka buruk yang sudah pasti akan menghambat kerukunan.
"Karena kesatuan merupakan kehendak Tuhan dan di dalam Tuhan semuanya adalah mungkin. Caranya adalah dengan kemauan saling belajar dan saling mengenal," ujarnya.
Pendeta Samuel juga mengatakan, ada sebuah paradigma, ketika manusia sedang mempelajari tentang hukum gereja, yaitu bahwa umat Kristen tidak dapat lepas dari sejarah peranan Gereja Katolik, seperti yang dikatakan oleh Martin Luther King pada masa hidupnya. Umat Kristen Protestan perlu memahami setiap perkembangan yang dialami oleh Gereja Katolik.
"Nilai-nilai kasih yang ada di Alkitab perlu diakui serta dijunjung tinggi, seperti dalam kehidupan sosial, orang Kristen Protestan dan Katolik harus memberikan sumbangsih yang nyata kepada bangsa terutama dalam soal moral," ujar Samuel.
Dalam penutupnya, Pendeta Yakub menegaskan, bahwa berdasarkan pandangan dari dua ahli agama tersebut, saat ini dibutuhkan generasi yang konjungtif, atau generasi yang mampu menerima perbedaan yang ada dengan catatan tetap memiliki pegangan yang solid dalam menjalankan hidupnya, agar menjadi generasi yang juga dapat menjembatani setiap perbedaan yang ada. [sp]
Masuk: 28 Ags 2008 (04:06 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi