| Berita lainnya |
Pemulihan nama baik uskup dan penyangkal holocaust, Richard Williamson serta pengangkatan tokoh konservatif asal Austria, Gerhard Maria Wagner sebagai uskup pembantu Linz menimbulkan banyak kehebohan.
Menurut uskup Rotterdam dan ketua konferensi uskup Belanda Ad van Luyn, keputusan itu adalah malapetaka. Teolog Nijmegen, Jean Pierre Wils bahkan memutuskan meninggalkan gereja katolik saja.
"Mengejutkan, sinis, tidak tahu sejarah dan bertentangan dengan apa yang selama ini berhasil dibangun antara Vatikan, gereja dan umat Yahudi," ujar Uskup Rotterdam, Ad van Luyn menanggapi keputusan Sri Paus untuk memulihkan nama baik Richard Williamson.
Sri Paus tahu betul
Tapi Van Luyn juga yakin, Sri Paus tidak tahu ungkapan sebelumnya Williamson. Dalam wawancara dengan televisi Swedia belakangan ini, Williamson mengatakan kamp konsentrasi Nazi tidak memiliki kamar gas. Ia juga membantah pembunuhan enam juta warga Yahudi.
Teolog Jean Pierre Wils tidak setuju kalau dikatakan Sri Paus tidak tahu soal pandangan Williamson terhadap holocaust. "Sri Paus tahu betul siapa orang bersangkutan", simpul Wils.
Jean Pierre Wils Jean Pierre Wils: "Ini tidak mengherankan. Tidak mungkin Sri Paus tidak tahu-menahu. Selama bertahun-tahun ia bersimpati dengan gerakan ini. Gerakan ini berulangkali disebut dalam pelbagai laporan internasional yang terbit di dunia. Jadi ini sudah jadi rahasia umum."
Bersama tiga orang lain, Williamson anggota perhimpunan pastor sangat konservatif, Sint Pius X. Gerakan ini antara lain dikenal karena pandangan anti-semitis, ketika itu dilarang, tapi kini dipulihkan namanya oleh Paus Benediktus XVI.
Pilihan politik
Teolog Wils sebenarnya sudah meramalkan ini. Baginya, keputusan Sri Paus tidak lain adalah pilihan politik yang sudah dipertimbangkan dengan matang.
Hal yang sama berlaku bagi pengangkatan Gerhard Maria Wagner sebagai uskup pembantu Linz, Austria. Menurut Wagner buku Harry Potter memuja-muja setan, dan badai Katrina di New Orleans adalah amarah Tuhan.
Menurut teolog Nijmegen ini, pemulihan nama baik Williamson sangat memalukan, sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan gereja.
Tapi mantan senator dan tokoh terkemuka gereja Katolik Roma, Eric Jurgens tidak mau sejauh itu.
Eric Jurgens: "Tidak, gereja terdiri dari orang-orang seperti saya, orang percaya, dan bukan orang-orang dari hirarki".
Belum retak
Jurgens mungkin menyuarakan perasaan banyak warga Katolik Roma di Belanda yang memang mengkritik kebijakan Vatikan, tapi saat yang sama tetap memandang gereja sebagai lembaga keagamaan.
Tapi masih dipertanyakan sampai kapan mereka tetap sabar dan sampai kapan bisa terus membedakan paus dengan gereja, kalau Sri Paus tetap berhaluan konservatif.
Eric Jurgens menjabat ketua organisasi kritis Mariënburg. Ia berharap Vatikan berdialog dengan umatnya.
Ini kedengarannya seperti harapan sia-sia sekelompok umat yang sudah lama tidak merasa terkait lagi dengan pimpinan gereja. Tapi keputusan terakhir, meninggalkan gereja, tampaknya masih terlalu jauh.
Seberapa terkejut pun umat di Belanda, gereja yang retak masih belum tampak. [rnw]
Masuk: 03 Feb 2009 (13:28 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi