| Berita lainnya |
Berikut adalah kronologis peristiwa penyerangan babak pertama terhadap STT SETIA Jumat malam (25/7) sebagaimana diungkapkan Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th kepada pers, Sabtu (27/7) lalu:
10.30PM (malam)
Seorang mahasiswa dan seorang anak staff dosen SETIA dicegat di jalan, dan mahasiswa ini yang berasal dari Alor dianiaya dan dipukuli. Sang ayah yang mendengar anaknya dipukuli saat mau menolong anaknya yang telah dibawa ke RW terdekat juga ikut dipukuli.
11.30PM
Asrama putra yang berada di RT.02 di kepung massa dan dilempari batu juga pagar asrama, kaca jendela di rusak serta atap asrama di timpuki oleh masssa yang menyebabkan beberapa kerugian bagi asrama putra. Situasi agak menurun tetapi massa yang sama yang telah melakukan penyerangan ke asrama putra pada Pukul 24.00PM menuju ke asrama putri yang terletak di Rt. 05 dan juga melakukan pelemparan juga disana menyebabkan kerusakan
Pukul 02.30AM (pagi) (26/7)
Kembali terjadi penyerangan kedua pada dini hari dan kali ini penyerangan dilakukan dengan intensitas tinggi dibandingkan dengan penyerangan pada pukul 12.00 PM sebelumnya dimana kerusakan yang diakibatkan oleh penyerangan ini jauh lebih parah. Kemudian terjadi penyiraman bensin di atas atap lantai 3 di asrama putri yang terletak di RT.05. Api sempat tersulut tersulut di jalan depan asrama putri tetapi tidak lama karena api tersebut mengenai salah seorang yang menuang bensin yang kemudian api dimatikan.
Pukul 4.30AM
Suasana mulai tenang. Tetapi sebelumnya antara pukul 02.00-03.00AM juga terjadi penyerangan massa di kampus utama di RT 01 dimana suasana tidak terkendali yang mengakibatkan mahasiswa sempat merespon penyerangan oleh sekelompok warga dan kemudian terjadi saling melempar batu.
Pukul 5.30AM
Suasana menjadi tenang dan terkontrol hingga Sabtu siang harinya.
Pdt. Matheus Mangentang, M.Th. selaku Ketua Umum Badan Pengurus GKSI dalam pertemuan dengan para wartawan Sabtu (26/7) lalu juga mengklarifikasi mengenai adanya pernyataan beberap pihak bahwa penyulut situasi adalah karena ada mahasiswa yang dianggap mencuri, tetapi ini tidak benar karena tidak ada barang bukti bahwa dia mencuri dan posisinya ada di tengah jalan.
Dari pihak SETIA juga telah meminta kepada aparat keamanan untuk memberikan bantuan perlindungan sampai situasi kondusif dan telah mengirimkan surat meminta perlindungan dari pihak aparat keamanan. Pada peristiwa penyerangan babak pertama ini memakan 2 orang korban luka akibat pemukulan.
Kerugian yang dialamai pada peristiwa penyerangan tersebut diperkirakan menurut Matheus sebesar 75-80 juta karena semua kaca, pagar dan jendela sudah hancur.
Lebih lanjut dikatakan bahwa mahasiswa yang berada di asrama putri pada saat kejadian ada sekitar 250 orang dimana pada saat itu mereka sedang tidur dan kemudian terbangun karena mendengar teriakan massa yang merangsek masuk ke dalam asrama.
Aksi tersebut diprovokasi oknum tertentu yang hingga saat ini masih belum dapat dipastikan identitasnya. Beberapa saksi mata juga mengatakan bahwa sebelum aksi penyerangan terjadi terdengar seruan dengan menggunakan pengeras suara dari sebuah Mesjid Baiturohim yang terletak tidak jauh dari asrama tersebut berusaha menggerakkan massa warga.
Pagi harinya saat situasi mulai tenang para mahasiswi diungsikan ke areal kampus untuk sementara waktu sampai suasana aman. Sedangkan sebagian mahasiswa masih tetap berada di asrama karena hanya terjadi kerusakan di bagian atap dan genting saja di 2 asrama putra yang letaknya tidak berjauhan.
Matheus juga mengatakan bahwa peristiwa penyerangan terhadap SETIA bukan hanya hanya sekali itu saja tetapi telah terjadi beberapa kali sepanjang 4 tahun belakangan ini. Matheus juga menambahkan bahsa selama 21 tahun SETIA berdiri di lokasi tersebut hubungan dengan warga sekitar tidak mengalami masalah dan baru sekitar 4 tahun belakangan ini saja terjadi penyerangan yang diprovokatori oleh segelintir oknum yang tidak suka dengan keberadaan SETIA.
Penyerangan kali ini adalah yang keempat kalinya sepanjang 4 tahun belakangan ini dan ini merupakan yang terburuk.
Usaha untuk mediasi dengan warga juga telah ditempuh pihak SETIA berkali-kali dengan difasilitasi oleh Walikota Jakarta Timur, kelurahan, kecamatan dimana pihak Walikota meminta untuk SETIA pindah dan mencari lokasi lain namun sampai saat ini belum ada jawaban pasti dari walikota guna membantu upaya pencarian lokasi yang tepat. Walikota juga meminta kepada masyarakat untuk dapat menahan diri agar kelompok-kelompok tertentu tidak dapat mengambil kesempatan.
Pihak SETIA sendiri mengharapkan agar aparat dapat secara cepat mencari siapa oknum yang telah melakukan penterangan tersebut dan meprovokatori.
Pihak SETIA meminta aparat untuk mengamankan mengingat 28-30 Juli mendatang akan berlangsung ujian negara di kampus tersebut.
Dari keterangan beberapa saksi juga membenarkan adanya seruan kepada warga untuk melakukan penyerangan. Sehingga bukan hanya warga setempat tetapi juga warga sekitar kampung tersebut ikut dalam aksi penyerangan dimana mereka juga membawa bambu yang nampaknya telah dipersiapkan sebelumnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa aksi penyerangan tersebut bukanlah suatu bentuk spontanitas belaka tetapi diduga telah dipersiapkan. [krp]
Masuk: 31 Jul 2008 (13:59 UTC+07)











Komentar Pembaca
Rekomendasi