| Berita lainnya |
Karena itu KWI bersedia menemui pasangan JK - Wiranto yang meminta bertatap muka dengan KWI. Pertemuan dilakukan di Sekretariat KWI, Jalan Cut Meutia, Menteng, Jakarta, Selasa, 9 Juni 2009.
Dalam rilis yang ditandatangani Kepala Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Rm. Widyo-Soewondo, KWI menyampaikan enam keprihatinan. Pertama adalah pengabaian pilar bangsa, yaitu Pancasila dan UUD 1945.
Kedua, KWI prihatin terhadap pendidikan yang tidak mencerdaskan. Selain mutu pendidikan yang rendah, biaya pendidikan yang mahal menyebabkan Indonesia tertinggal dari negara lain.
Ketiga, tentang lemahnya penegakan hukum. KWI berharap pemerintah mendatang menjamin kepastian hukum untuk memberantas korupsi, kolusi, nepotisme, premanisme, dan menindak pelanggar HAM. KWI juga berharap ada perlindungan terhadap hak-hak sipil, politik, ekonomi, budaya.
Keempat, KWI prihatin terhadap perusakan lingkungan hidup, seperti berjuta hektar hutan yang tak dipulihkan. Menurut KWI perusakan lingkungan adalah tanda kerusakan bangsa.
Kelima, KWI prihatin terhadap kesenjangan tingkat kesejahteraan. Pemerintah baru harus dinilai gagal apabila tidak membuat program mengatasi masalah ini sejak awal.
Keenam, adalah tentang penyalahgunaan simbol agama. Dalam hal ini, KWI menyoroti adanya 151 peraturan daerah yang dianggap bertentangan dengan Pancasila. Presiden terpilih diharapkan membatalkan 151 perda tersebut, dan tidak mengesahkan perundangan yang bertentangan dengan konstitusi RI. [vn]
Masuk: 09 Jun 2009 (20:58 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi