| Berita lainnya |
"Tiga hari lalu ada eksekusi (pembongkaran), maka listik dan air dimatikan. Ini menjadi mula dari unjuk rasa kemarin," kata Matheus Mangentang, Rektor Setia di bekas Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Rabu (28/10).
Selama listrik mati, menurutnya, pihak Setia memanfaatkan genset dengan kapasitas 4.500-6.000 watt. Tentu itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan ruangan di empat blok dan mengaktifkan pompa air.
Ada seribu orang yang tinggal di gedung yang tanahnya telah dimiliki secara sah oleh Yayasan Sawerigading. "Listrik dari genset diprioritaskan untuk menggerakkan AC di perpustakaan untuk menyelamatkan buku-buku," ujar Matheus.
Mengingat mendesaknya kebutuhan listrik dan air, maka dia mewakili Setia mengharapkan pihak terkait untuk mengalirkan listrik kembali. Kalau tidak, besok mahasiswa Setia akan kembali melakukan unjuk rasa. "Kalau sampai besok tidak nyala, mereka akan demo lagi," kata Matheus Mangentang. [Kmp]
Masuk: 28 Okt 2009 (15:46 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi