| Berita lainnya |
Menurut Sekretaris Akademik, STT Setia, Sumarno, mahasiswi yang pagi ini akan pindah didahulukan mahasiswi semester 7. Sementara sekitar 600 mahasiswi lainnya, terpaksa tetap melanjutkan kegiatan belajar di tenda-tenda darurat di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.
Hal itu dikarenakan kondisi ruangan di gedung eks Kantor Wali Kota Jakarta Barat masih belum memadai untuk ditempati. Rencananya, seluruh mahasiswi STT Setia yang berjumlah sekitar 700 orang akan menempati lantai 3 dan 4 Blok 3. "Sedangkan asrama mahasiswa akan berada di lantai 2 blok 4 dan lantai 2 blok 5," katanya ketika ditemui SP, di gedung eks kantor Walikota Jakbar, Rabu (27/8) sore.
Berdasarkan pemantauan SP, kondisi seluruh ruangan yang akan menjadi asrama bagi para mahasiswa dan mahasiswi STT Setia masih jauh dari layak. Selain kotor, hampir sebagian besar keramik lantai rusak. Hal itu membuat debu-debu beterbangan di sekitar ruangan, akibat semen-semen lantai yang tak tertutup ubin. Tak hanya lantai keramik yang rusak berat, kayu-kayu di sejumlah ruangan juga terlihat kotor dan keropos. Kondisi terparah terjadi pada dua ruangan yang akan dijadikan sebagai asrama mahasiswa.
Selain lantai yang rusak berat, di seluruh ruangan juga belum terdapat lampu. Sehingga ketika hari mulai menjelang sore, seluruh ruangan menjadi gelap. Bahkan di empat kamar mandi di dua blok untuk para mahasiswa ini, tidak dilengkapi dengan kloset.
Meski demikian, di seluruh kamar mandi yang terdapat pada ketiga blok tersebut, air cukup lancar mengalir. Bahkan saat SP berkunjung ke sana kemarin sore, terlihat dua orang petugas sedang memasang pipa-pipa dan keran air di kamar mandi blok 5 yang akan ditempati para mahasiswa.
Menurut Sumarno, ruang kuliah akan memanfaatkan empat ruang kosong yang terdapat di lantai 1 blok 4 dan lantai 1 blok 5. Rencananya salah satu ruangan di blok 4 akan disekat-sekat menjadi lima kelas, dan satu ruangan lagi yang lebih kecil akan disekat menjadi dua kelas. "Karena ruangan itu lebih kecil, sehingga hanya bisa dibagi dua. Dan satu ruang di blok 5 akan dibagi menjadi empat kelas, sedangkan satu lagi ruang yang lebih kecil akan dibagi dua. Jadi total akan ada 13 ruang kelas," ungkapnya.
Kondisi ruangan yang akan dijadikan kelas pun cukup memprihatinkan, tak berbeda dengan kondisi ruangan yang akan digunakan sebagai asrama. Kotor penuh debu, dengan lantai tanpa keramik, serta kayu-kayu yang sebagian lepas dan reyot.
Menurut Sekretaris Kemahasiswaan, Yosia Bello, empat lantai yang akan digunakan sebagai asrama mahasiswa dan mahasiswi masih belum cukup untuk menampung seluruh siswa yang berjumlah sekitar 1.300 siswa. "Jadi terpaksa sebagian mahasiswa tetap ditampung dan belajar di Wisma Transito, Kalimalang, Jakarta Timur," ujarnya.
Yosia mengatakan, jumlah kamar mandi yang terdapat di tiga blok yang akan ditempati mahasiswa dan mahasiswi STT Setia juga masih jauh dari mencukupi. Dia pun berharap Pemprov DKI dapat membantu menyediakan mobil-mobil toilet untuk memenuhi kebutuhan kamar mandi para siswa.
"Kami juga berharap bantuan Pemprov DKI bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk mengevakuasi buku-buku pelajaran dari perpustakaan yang terdapat di kampus STT Setia ke sini," tandasnya.
Tutup Akses
Rektor STT Setia Matheus Mangentang, ketidaksiapan gedung termasuk pembangunan MCK mengindikasikan sikap acuh pemerintah atas kasus STT Setia. Pemprov, ungkapnya, sengaja menutup akses belajar mahasiswa dengan membiarkan proses renovasi tidak berjalan. "Di Transito tidak kondusif untuk belajar. Ini mungkin keinginan Pemprov agar secara psikologis mahasiswa kehilangan semangat belajar, lama-lama bisa bubar begitu saja," katanya.
Ditegaskan, jumlah mahasiswa STT Setia kian berkurang pascarelokasi. Saat ini, sekitar 50 mahasiswa putra tidak lagi mengikuti kegiatan akademik. Hal serupa juga terjadi pada mahasiswa putri yang berkurang sekitar 10 orang.
Wakil Ketua DPP Partai Damai Sejahtera (PDS) Denny Tewu juga meminta Pemprov DKI serius menangani kasus STT Setia. "Pemprov DKI harus bijaksana melihat kasus ini, terutama masalah kemanusiaan dan pendidikan anak-anak bangsa. Mahasiswa STT Setia punya hak konstitusional untuk belajar dan mengajar di negara ini," katanya.
Denny juga meminta internal STT Setia, pihak rektorat dan yayasan untuk terus berjuang bersama, sehingga para mahasiswa tidak telantar seperti sekarang ini. "Mari kita bersama-sama mengatasi masalah ini, sehingga anak-anak itu bisa kembali belajar dan mengajar," katanya. [sp]
Masuk: 28 Ags 2008 (19:35 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi