| Berita lainnya |
"Kita ditarik ketengah terus dipukulin, kita sudah bilang jangan dipukul tapi mereka tidak peduli," ujar Paulus Hanafis, salah satu mahasiswa yang tertangkap polisi. Hal ini disampaikan dia di kampus STT Setia yang merupakan eks Gedung Walikota Jakarta Barat, Jalan S Parman, Jakarta, Selasa (27/10/2009).
Mahasiswa semester tiga itu mengalami luka bocor di kepala saat berdemo akibat terkena pukulan polisi. Namun, dia mengaku mendapat perawatan selama di kantor polisi.
"Kepala bocor dipukul. Tapi kita dapat perawatan dari polisi. Sudah dijahit," jelasnya.
Sementara Arif Dohude, Dosen Teologi di STT Setia yang juga tertangkap oleh polisi menyayangakan sikap polisi yang tidak bersahabat dengan mahasiswa. Dirinya merasa dipermalukan karena dalam demo tersebut justru dialah yang menahan amarah mahasiwa untuk tidak anarkis, tapi malah ditangkap.
"Kita hanya perjuangankan hak-hak kita. Kita ditangkap karena masalah keamanan, kemudian kita diangkut ke mobil dan dibawa ke Polres Jakarta Barat. Hal ini tidak menyenangkan bagi saya karena merusak nama baik, tapi mereka sudah minta maaf," jelasnya.
Ketika ditanya apakah benar ada mahasiswa yang membawa senjata tajam, Arif membantahnya. Selama ditangkap, Arif mengaku dirinya diperlakukan baik.
"Tidak benar kalau ada mahasiswa bawa senjata tajam. Di kantor polisi hanya ditanya-tanya kronologis.
Dewilugu, mahasiswa semester satu yang juga tertangkap mengaku tidak tahu menahu mengapa dirinya ditangkap. "Saya juga tidak tahu kenapa ditangkap," katanya singkat. [Dtk]
Masuk: 27 Okt 2009 (19:34 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi