| Berita lainnya |
"Ini bisa masuk delik hukum penistaan agama. Didokumentasikan saja barang buktinya. Terus bawa ke polres. Jadi kasusnya," tulis Amos Adi mengomentari catatan Ioanes. "Materi barang bukti dan surat pengaduan hukum saya sudah lengkap. Siang ini akan diproses setelah konsultasi dengan pihak reserse kapolres bandung. Anggap saja publisitas gratis buat anda. Anda sudah masuk ranah hukum. Salam."
Menanggapi komentar Amos, Ioanes menyatakan permintaan maafnya. Dalam komentarnya Ioanes menulis, "Jika ada yang tak berkenan dari Note di atas (Note sebelumnya), saya dengan rendah hati meminta maaf. Masukan dan saran lain dari semua teman, saya tunggu dengan terbuka. Salam"
Menurut Ioanes, catatannya tersebut hanya bisa dipahami apabila ditempatkan dalam wilayah Kristologi Kontekstual. Catatannya tersebut, menurutnya, tidak dimaksudkan untuk menjelekkan sebuah agama.
"Note (catatan, red) saya di atas (dan sebelumnya) sebetulnya hanya bisa dipahami kalau ditempatkan dalam wilayah kristologi kontekstual, seperti sudah saya terangkan di bagian note-nya. Jadi, saya tak berpikiran bahwa Note di atas saya buat/...pasang dengan suatu maksud untuk menjelekkan sebuah agama. Kita tokh tahu bersama, Yesus dari Nazaret tak pernah bisa diganti dengan seorang perempuan," tulis Ioanes dalam komentarnya.
"Sekali lagi kepada friends FB (Facebook, red) saya, dan khususnya kepada teman-teman perempuan FB saya, saya meminta maaf dengan sungguh dan sedalam-dalamnya kalau Note saya sebelumnya yang menampilkan foto seorang perempuan tersalib dengan dada telanjang telah menyinggung dan menyusahkan hati teman-teman dan orang-orang lain. Sekali lagi, saya dengan ini meminta maaf sedalam-dalamnya. Kiranya masih terbuka pintu maaf buat saya. Salam"
Meskipun tidak ada lagi tanggapan dari Amos serta mendapatkan dukungan moril dari sahabat-sahabatnya di Facebook, nampaknya Ioanes menanggapi hal ini secara serius.
Dalam tulisannya terakhir, Ioanes menyebutkan rencananya untuk menutup akun Facebook-nya.
"Saya dalam waktu dekat akan men-DELETE (menghapus, red) akun FB saya ini selamanya," tulis Ioanes dalam catatannya berjudul Selamat Tinggal Semua Teman! yang dimuatnya di laman Facebook-nya.
"Stop dari FB adalah sebuah pilihan terbaik saya supaya saya bisa berkonsentrasi pada pekerjaan-pekerjaan utama saya sebagai seorang penulis dan penerjemah."
Catatan terakhir Ioanes ini spontan mendapatkan respon dari para pendukungnya. Mereka menyayangkan jika Ioanes benar-benar menghapus akun Facebook-nya tersebut, sebab, menurut mereka, tulisan-tulisan Ioanes dalam Facebook-nya telah banyak membuka wawasan mereka.
Selain menuliskan pandangan-pandangan kritisnya di Facebook, Ioanes juga mengelola sejumlah blog berisi artikel-artikel hasil kajian pustakanya.
Sebagai seorang pemikir bebas, Ioanes di-"emeritus dini"-kan dari kependetaannya oleh Gereja Kristen Indonesia (GKI). Alasannya, buku-buku yang ditulis oleh Ioanes telah meresahkan jemaat dan tidak mencerminkan pandangan GKI. Selain itu, Ioanes juga tidak memenuhi panggilan penggembalaan terkait tulisan-tulisannya tersebut.
Perselisihan antara Ioanes dan GKI sempat memunculkan grup pendukung Ioanes melawan GKI di Facebook. Namun, belakangan, grup tersebut berubah namanya menjadi pendukung para pemikir liberal Kristen dan Islam. [fatco]
© PERISAI.net
Masuk: 07 Feb 2011 (02:22 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi