| Berita lainnya |
Peristiwa sadis itu terjadi pada malam hari di Baladiyat, sebuah wilayah yang didominasi oleh warga Shi'a di sebelah timur Baghdad, demikian dilaporkan oleh pejabat Kementrian Dalam Negeri Irak.
Beberapa jam sebelumnya, Mayjen Qassim Atta mengumumkan daftar 15 orang Arab yang berasal dari luar Irak, yang masuk ke Irak dan bertanggung jawab atas tiga serangan mematikan di Baghdad dalam beberapa bulan terakhir, termasuk pembantaian di Gereja Katolik Asyur di Baghdad.
Menurut pejabat militer Irak, nama-nama yang disebut "teroris" tersebut masuk ke Irak pada sekitar bulan Juni dan Agustus. Sepuluh di antara mereka tewas dalam serangan bom bunuh diri atau terbunuh oleh tentara Irak. Sementara, lima lainnya masih dalam pengejaran.
"Menurut informasi intelijen kami, empat dari lima teroris itu masih berada di Irak dan satu lainnya telah terbang ke Syria," kata Atta.
Kekerasan terhadap warga Kristen Irak kian bertambah. Bahkan, jumlah warga Kristen Irak menurun drastis dari 1,2 juta jiwa pada 2003 menjadi sekitar 600 ribu jiwa.
Banyak warga Kristen Irak telah memutuskan untuk meninggalkan negara itu akibat ancaman teroris yang terus meningkat, terutama dari kelompok Negara Islam Irak yang bertanggung jawab atas pembantaian di Katedral Sayidat al-Nejat atau Our Lady of Salvation Church, Baghdad. Pembantaian itu mengakibatkan sekitar 70 orang tewas, sementara 75 lainnya, termasuk 51 jemaat dan dua orang imam, terluka.
Kelompok Negara Islam Irak adalah sebuah kelompok teroris Sunni yang merupakan bagian dari al-Qaidah. Mereka mengaku bertanggung jawab atas pembataian tersebut tak lama setelah peristiwa itu terjadi pada 31 Oktober silam.
Menteri Luar Negeri Italia, Franco Frattini, mengaku cemas dengan tingginya angka pengungsi Kristen asal Irak. Menurutnya, semakin banyak warga Kristen Irak yang meninggalkan negara itu berarti menunjukkan kemenangan al-Qaidah.
Karena itu, Frattini meminta Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki, untuk memberikan jaminan penuh bagi warga Kristen minoritas di negara itu dan mencegah warga Kristen meninggalkan negaranya.
Al-Maliki sendiri telah memberikan jaminan perlindungan bagi warga Kristen Irak. Bahkan, menurut al-Maliki, seorang warga Kristen Irak akan memimpin sebuah komite parlemen baru yang bertugas untuk memantau keamanan dan perlindungan bagi kelompok agama-agama minoritas di Irak. []
© Berbagai sumber
Masuk: 07 Des 2010 (00:32 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi