| Berita lainnya |
Dalam Sinode Am Kerja XVII GKPI, selama lima hari mulai tanggal 26 hingga 30 Agustus, di Ciloto, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kondisi tersebut menjadi perhatian 500 pendeta yang hadir di sana.
Bishop GKPI, Pendeta Dr MSE Simorangkir, dalam khotbah di kebaktian pembukaan Sinode Am Kerja, menjabarkan lebih lanjut tema yang dikutip dari kitab Wahyu 21:5a "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" dan subtema "Dengan Sinode Am Kerja Tahun 2008, GKPI Membenahi Diri di Segala Aras untuk Meningkatkan Persekutuan, Pelayanan dan Kesaksian di Tengah Masyarakat Majemuk".
Menurut Bishop, kata asli dalam bahasa Yunani untuk kata "menjadikan" dalam Wahyu 21:5a itu adalah poio yang maksudnya "sedang menjadikan". Peristiwa menjadikan itu, atau proses menjadi (to be), sekarang sedang berlangsung.
Sedangkan untuk kata "baru", penulis kitab Wahyu menggunakan kata kaina, yang artinya "baru dalam kualitas" atau "bentuk yang lebih baik". Semua tahu bahwa yang bersabda adalah Allah, maka kalimat itu hendak berkata, "Allah sedang menjadikan kualitas baru."
"Jadi pembaruan Allah tidak untuk ditunggu minggu depan atau tahun depan, melainkan terjadi kini di sini," tandasnya. Yang penting dalam pembaruan ini adalah kualitas, mutu, atau isi, bukan soal kuantitas dan penampilan lahiriah.
Hal tersebut, lanjut Bishop, merupakan tantangan bagi GKPI. "GKPI ditantang untuk menjadi baru dalam kualitas berdasarkan Tuhan, berdasarkan Firman-Nya, bukan berdasarkan kualitas duniawi," ujar Bishop.
Ia mengutip 2Kor 5:17. Dalam kitab tersebut, Tuhan berfirman, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang". Dengan demikian, jelas Bishop, "Kebaruan kita berada di dalam Kristus, dan siapa yang berada di dalam Kristus, ia berada di dalam Allah, dan ia adalah ciptaan baru."
Menurut dia, terlalu banyak sudah kesalahan yang dilakukan bangsa kita, khususnya terhadap gereja. Pada akhir tahun 2005 dan 2007, gereja di Tangerang dan Jurong, Riau, telah dihancurkan dan dibakar, tetapi pemerintah tidak menindak pelakunya, bahkan tidak meneliti persoalan itu sedikit pun. "Karena itu, sinode ini harus juga merumuskan sikapnya terhadap penegakan hukum di Indonesia dan perlindungan bagi kelom- pok minoritas," tandas Bishop.
Tanpa Batas
Ia juga mengingatkan, upaya pembaruan itu kompleks, hampir tanpa batas. Dalam gereja, lanjutnya, pembaruan bisa dimulai dari sudut pelayanan ibadah berupa pembaruan liturgi, tetapi juga dilakukan dalam pelayanan sekolah minggu, kaum perempuan, kesehatan, dan pengmas. Pembaruan itu pun bisa cepat, seperti tsunami yang mengubah landscape dalam waktu singkat, mengubah budaya dan jiwa manusia secara dramatis.
Tetapi pembaruan yang dilakukan Allah, jelas Bishop, sering lambat. Umat-Nya berjalan dari Mesir ke tanah perjanjian dengan lambat. Kosuke Koyama, teolog Jepang yang terkenal itu, tutur Bishop, telah menghitung jarak perjalanan umat Tuhan antara Mesir dan Kanaan, dan membaginya dalam 40 tahun.
Hasilnya, Israel berjalan rata-rata 1 mil (lebih kurang 1,6 kilometer) per hari. Lalu Koyama menyimpulkan, Allah itu lambat. Dia tidak sama dengan seorang jenderal ahli perang kilat - Blitzkrieg, kata orang Jerman - yang meraih kemenangan secepat kilat.
"Allah itu sabar dan penyayang. Dia sabar menunggu saat yang tepat untuk melepaskan umat-Nya dari pembuangan, sabar menunggu sampai waktunya tiba kapan Dia menjadi manusia di Betlehem," ucap Bishop.
Karena itu, lanjutnya, kita kini sungguh bergumul, apakah Allah juga sabar melihat masalah oleh kenaikan harga minyak, hilangnya pupuk dari peredaran, pengrusakan lingkungan oleh penebangan hutan, global warming yang tidak dipedulikan, kemiskinan yang luar biasa di Negara kita karena KKN yang merajalela dari pusat sampai desa.
Dalam proses pembaruan di jemaat dan di tengah bangsa kita, ujar Bishop, kita semua perlu mendengar Tuhan dengan sabar dan menantikan Dia bertindak. "Jangan kita meniru mereka tidak benar, menimbulkan kerugian materialdan spiritual bagi orang lain hanya karena orang lain itu berbeda. Jika orang lain dengan sengaja telah menodai keindahan kemajemukan masyarakat kita, orang Kristen tidak akan terpancing," ujar Bishop.
Menurut dia, pembaruan melalui keakraban - apalagi bangsa Indonesia membanggakan sebagai bangsa yang ramah - perlu lebih dikedepankan kembali di tengah kemajemukan bangsa ini.
Hal ini perlu dilakukan agar semua unsur masyarakat Indonesia sadar bahwa mereka tidak hidup sendiri. "Bahwa sebuah pohon besar hanya dapat tumbuh menjadi besar karena dia dilindungi oleh pohon-pohon kecil di sekitarnya. Sebuah bangsa yang adi dan makmur tidak mungkin dibangun oleh sekelompok masyarakat saja, karena kebutuhan sebuah bangsa amat kompleks," kata Bishop.
Obor
Melalui sinode ini, lanjutnya, kita terpanggil untuk bersama-sama mengambil keputusan agar kebersamaan kita semakin kuat. "Keputusan sinode kita harus menjadi obor terang bagi perjalanan jemaat, dan bahkan akan menjadi obor terang bagi perjalanan bangsa kita yang sedang dilanda oleh korupsi, kolusi dan nepotisme yang mengerikan," ujar Bishop.
Ia pun berharap, melalui sinode itu, jemaat dan warga GKPI akan memberikan sumbangan positif bagi negara kita dalam memerangi KKN dan melindungi lingkungan hidup.
Dengan semangat pembaruan dari 30 Agustus 1964 (hari kelahiran GKPI), sesudah 44 tahun, kata Bishop, pantas kita bekerja lebih keras lagi. Dalam usia 44 tahun GKPI, kita sama-sama berharap adanya perenungan dan sekaligus pencetusan tekad, "bersama kita bisa".
Motto ini akan lebih sempurna lagi, jika ditambah menjadi "Bersama Tuhan kita bisa", agar sub-tema dapat terwujud yakni membenahi diri di segala aras untuk meningkatan persatuan, pelayanan dan kesaksian di tengah masyarakat majemuk. "Melalui GKPI Allah akan berfirman: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru." [sp]
Masuk: 31 Ags 2008 (02:25 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi