| Berita lainnya |
Maher Ahmed Al-Mo'tasem Bellah Al-Gohari mengajukan penggantian identitas keagamaannya, yang tercantum dalam kartu identitasnya, dari Islam menjadi Kristen. Namun, hakim Hamdi Yaseen menolak permohonan Al-Gohari tersebut.
Hakim Yaseen mengacu pada hukum Islam yang berlaku yang menyatakan melarang segala bentuk konversi (perpindahan agama) dari Islam menjadi agama apapun.
Saat ini, Al-Gohari dan putrinya, Dina, 12 tahun, hidup dalam persembunyian akibat sering mendapatkan ancaman pembunuhan dari kelompok-kelompok radikal.
United Copts of Great Britain, sebuah kelompok yang berbasis di Inggris dan memiliki hubungan yang dekat dengan Kristen Koptik di Mesir, menilai bahwa konstitusi Mesir adalah konstitusi yang paradoks.
Dalam pasal dua disebutkan bahwa setiap orang Islam dilarang untuk menjadi agama lain. Sementara pada pasal 46 disebutkan bahwa negara menjamin kebebasan beragama.
Sebelumnya, kasus semacam ini juga pernah menimpa Mohammed Ahmed Hegazy. Hegazy pernah mengajukan penggantian identitas keagamaannya dari Islam menjadi Kristen, tetapi permohonannya itu ditolak oleh pengadilan.
Hegazy berharap, ia dapat membesarkan anaknya sebagai seorang Kristen. Namun, niatnya itu terbentur dengan undang-undangan syariah di Mesir.
Di Mesir sendiri, jumlah penduduk Kristen mencapai 10% dari total 83 juta penduduk Mesir. Bahkan, kelompok Koptik menduga bahwa angka yang sesungguhnya adalah di atas angka 10% tersebut. [WN]
Masuk: 18 Jun 2009 (19:31 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi