| Berita lainnya |
Juria Bardhan, Pemimpin Gospel for Asia di wilayah bagian Orissa, mengatakan bahwa dirinya telah menyaksikan para misionaris dan kaum kristiani dipukul dan dibunuh. Meskipun demikian dia tetap tidak meragukan imannya.
“Kami tahu Tuhan mengatur segala sesuatunya,”katanya.
Ekstremis Hindu telah membunuh puluhan orang Kristen dan membakar ratusan rumah dan gereja sejak terbunuhnya pemimpin agama Hindu Swami Lakshmananda Saraswati bulan lalu.. Walaupun secara tegas Maoists yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan tersebut,namun ekstremis Hindu bersikeras bahwa umat Kristiani berada di belakang pembunuhan. Sekitar 13.000 Kristiani berlindung di kamp pengungsi pemerintah atau bersembunyi di sekitar hutan-hutan.
Bardhan mengatakan bahwa penganiayaan tersebut juga dialami oleh pendetanya yang melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk berbagi dalam Penderitaan Kristus.
"Banyak pendeta kami mengatakan, “Sekalipun mereka membunuh kami, tak menjadi masalah." Hal ini justru akan membuat ribuan orang datang kepada Kristus, “ujarnya.
Kekristenan secara terus menerus telah tumbuh subur di Orissa meskipun ada tahun-tahun penganiayaan, kata Bardhan.
"Hal yang membesarkan hati adalah bahwa para penyerang sendiri mengakui bahwa di Orissa dahulu hanya sekitar 2 persen orang menjadi Kristiani, dan sekarang Kristiani menjadi 28 persen,”katanya. "Mereka tidak mengerti bahwa dengan melakukan ini, gereja akan bertambah besar secara dahsyat dan menakjubkan, dan hal ini akan semakin menyebabkan ribuan orang datang kepada Kristus.”
Gospel for Asia mengatakan sedikitnya 24 orang di antara misionarisnya telah diserang, sedangkan 27 gereja yang dihubungi oleh GFA dan lebih dari 800 rumah umat Kristen telah diobrak-abrik dan dihancurkan sejak pecahnya kekerasan.
Terdapat laporan yang masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut yang menyatakan adanya sebuah rencana akan adanya iringan kelompok ekstrimis Hindu yang akan melintasi desa di Orissa dengan membawa abu pemimpin mereka yang dibunuh. Bardhan mengatakan dirinya mencurigai iringan tersebut sebagai suatu plot yang akan memicu lebih banyak kekerasan.
Youth With sebuah kelompok para pekerja Misi, sementara itu, turut serta dalam mogok makan yang diadakan oleh ratusan orang Kristen di New Delhi, India, dalam rangka protes melawan kekerasan Orissa dan apa yang dipandang oleh mereka sebagai kegagalan pemerintah untuk merespon nya. Pengadilan Tertinggi India minggu lalu memerintahkan para pejabat wilayah bagian Orissa untuk melaporkan tindakan yang diambil untuk dapat menghentikan kekerasan. [krp]
Masuk: 10 Sep 2008 (12:42 UTC+07)









Komentar Pembaca
Rekomendasi