| Berita lainnya |
Sihombing mengalami luka tusukan di perut bagian kanan oleh sejumlah orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor pada hari Minggu pagi (12/9). Tusukan tersebut mengenai hati Sihombing.
"Mengenai hati pasien tiga centimeter (cm) dengan kedalaman 1 cm," kata Laksmi, dokter bedah rumah sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur.
Menurut kesaksian Ratna Gurning, para pelaku menggunakan delapan sepeda motor. Saat itu ia sedang bersama dengan Sihombing sedang berjalan menuju ke tempat ibadah. Kira-kira 500 meter menuju gereja, mereka melihat ada sejumlah pengendara motor mengikuti mereka dari arah belakang.
"Tiba-tiba penatua kami, Sihombing, ditusuk di bagian perut," ujar Ratna.
Sihombing langsung jatuh tersungkur dan mengeluarkan banyak darah. Melihat kejadian itu, Pendeta Luspida Simandjuntak kemudian datang membantu.
Petugas kepolisian yang berjaga kemudian membawa Sihombing dengan sepeda motor didampingi Pendeta Luspida. Namun, ketika motor berjalan sesaat, Pendeta Luspida ikut dipukul dari belakang, mengenai kepala, wajah dan punggung.
"Ibu pendeta kini juga sedang melakukan CT-scan di rumah sakit yang sama karena bagian kepalanya pening," ujar Ratna yang sedang memegang telepon seluler Pendeta Luspida.
Selama menjalani perawatan, Sihombing sempat mengalami kondisi kritis akibat pendarahan. Petugas di RS Mitra Keluarga Bekasi mengatakan bahwa Sihombing membutuhkan darah golongan O.
Namun, saat berita ini diturunkan diperoleh informasi bahwa sudah ada 10 donor darah untuk Sihombing.
Sejumlah orang telah datang menjenguk Sihombing, di antaranya Ketua Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia Fahira Idris dan sejumlah pejabat Bekasi.
"Tadi sudah datang menjenguk ada Wakil Wali kota, Kapolres Bekasi dan Pak Camat," ujar Ratna.
Murni Kriminal?
Aksi kekerasan ini telah mengundang keprihatinan banyak pihak. Salah satu yang turut angkat bicara tentang kasus ini adalah pengacara senior, Todung Mulya Lubis.
Dalam akun Twitter-nya, Minggu pagi, Todung menduga penusukan atas Pendeta Sihombing bukan tindak kriminalitas biasa. "Penusukan Pendeta Sihombing nampaknya bukan tindak kriminal biasa. Ini teror terhadap hak beribadah. Tindakan ini menggergaji pilar kemajemukan bangsa," kata Todung.
Sebelumnya, pihak kepolisian mengatakan bahwa penyerangan itu bukan soal agama, melainkan murni tindak kriminal.
"Ini kriminal murni, bukan konflik agama," kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Timur Pradopo.
Kapolda menepis tudingan bahwa polisi tidak melakukan pengamanan. Polresta Bekasi sejak awal sudah melakukan pengamanan di lokasi agar tidak terjadi konflik, terutama soal lahan gereja. "Tapi inikan penusukan terjadi di jalan, bukan di lokasi gereja," katanya.
Pernyataan polisi juga didukung oleh Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla.
"Jelas ini adalah tindak kriminal," kata Kalla saat menggelar open house di kediamannya, Jalan Brawijaya nomor 6, Jakarta Selatan.
Kalla meminta agar masyarakat memisahkan antara tindak kejahatan itu dengan konflik pembangunan gereja di Kampung Ciketing ini. "Jangan masyarakat sampai terpancing dengan isu ini," kata Kalla.
Selain itu, JK juga menegaskan agar kepolisian mengejar pelakunya supaya bisa dihukum secara setimpal. " Ini adalah sebuah kejahatan," kata dia.
Polisi sudah menangkap dua dari para pelaku dan memeriksa sembilan orang sebagai saksi. Identitas pelaku sudah diketahui.
"Kami sudah amankan dua orang. Mereka bagian dari kelompok pelaku," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi Komisaris Polisi Ade Ary Syam saat dihubungi VIVAnews.
Saat ini, kata Ade, polisi masih terus mengejar pelaku lainnya yang diperkirakan masih berada di wilayah Bekasi. "Perkiraan pelakunya delapan orang dan menggunakan sepeda motor."
Ade menyatakan, kejadian ini murni kriminal. "Motifnya masih kami dalami. Tak ada unsur lain," dia menegaskan.
Perlu Belajar Toleransi
Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno mengatakan, "Saya menyesali peristiwa yang menimpa penatua ST Sihombing. Ini menjadi tanda bahwa rasa toleransi dalam masyarakat masih harus dipelajari."
Menurut Magnis, kejadian yang menimpa Sihombing sulit dilepaskan dari kejadian sebelumnya yaitu ketegangan antara jemaat HKBP dengan masyarakat sekitar menyangkut pendirian gedung gereja. Masyarakat HKBP dilarang melakukan ibadah di lokasi gereja. Namun, jemaat HKBP tidak menghentikan ibadah mereka. Setiap kali ibadah dilaksankan, sekelompok orang berkerumun di sekitar lokasi gereja. Sebelumnya, pernah terjadi bentrok antara masyarakat dan jemaat.
Magnis berharap, dengan kejadian ini masyarakat dapat lebih dewasa memandang keberagaman. Para pemuka dan tokoh agama juga ditantang untuk mengarahkan umatnya menghormati perbedaan dalam masyarakat Indonesia yang sangat beragam. "Karena selalu ada kesulitan jika orang tidak mau menerima kelompok yang berbeda," katanya.
Lebih jauh ia mengatakan, peristiwa yang terjadi pagi tadi menyiratkan kebencian bercampur emosi. Ia berharap polisi bisa segera menangkap pelakunya.
Memprihatinkan
Keprihatinan datang dari tokoh-tokoh politik, di antaranya Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Theo L. Sambuaga dan anggota Fraksi PDI Perjuangan, Sukur Nababan.
"Aksi kekerasan atas jemaat HKBP di Pondok Timur, Bekasi, Minggu pagi ini saat mereka sedang menuju tempat kebaktian, tidak bisa ditoleransi dan harus ditindak tegas," kata Sambuaga.
"Kami mengecam keras aksi anarkisme dan provokatif ini. Dan, meminta aparat keamanan untuk segera mengejar para pelaku, memproses secara hukum, dan menindak tegas mereka."
Menurut dia, hal itu penting agar tindakan tak beradab seperti itu tidak menjadi preseden berbahaya bagi kerukunan umat beragama dan untuk memberi kepastian jaminan kebebasan menjalankan peribadatan bagi warga.
"Polri dengan instrumennya harus secepatnya memburu para pelaku yang oleh beberapa pihak disebut cukup terorganisasi dalam melakukan aksi kekerasan tersebut. Tangkap pelakunya! Usut tuntas motifnya, telusuri para aktor intelektualnya, serta dihukum seberat-beratnya," katanya menegaskan.
Theo Sambuaga menilai tindakan anarkisme atas jemaat gereja yang akan melakukan kebaktian sama sekali tidak dapat dibenarkan atas nama apa pun.
"Ini ada motif memecah belah bangsa. Karena kelihatan ada unsur kesengajaan. Apalagi dilakukan pada saat masih maraknya seluruh warga bersyukur pada Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijriah," ujarnya.
Sementara Sukur Nababan mengatakan, "Pada intinya saya sampaikan ini adalah tindakan biadab dan teror. Aparat harus bertanggungjawab karena tidak mampu menjaga warganya untuk beribadah." Hal itu dikatakannya usai menjenguk Sihombing di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur.
Respon Pemerintah
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto meminta Polri segera mengusut peristiwa Ciketing tersebut.
"Saya instruksikan Polri segera mencari dan menindak pelaku penganiayaan sesuai hukum berlaku," katanya di Jakarta melalui pesan singkat.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto segera berkoordinasi dengan Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri dan jajarannya hingga ke tingkat Polres Metro Bekasi untuk segera menangkap pelaku penusukan di HKBP.
"Presiden menginstruksikan polisi untuk memburu, mengejar, menangkap, dan mengadili pelaku tindak kekerasan terhadap dua pendeta HKBP," ujar Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha.
Julian mengatakan, Presiden juga kembali menegaskan, tak ada ruang bagi para pelaku tindak kekerasan di Indonesia. Tindak kekerasan, atas dasar dan alasan apa pun, tidak dapat ditoleransi.
Para pelaku juga harus dipastikan mendapatkan sanksi sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
"Presiden juga menegaskan, kejadian ini tidak dapat dikategorikan sebagai konflik agama," kata Julian.
Presiden memerintahkan, polisi beserta jajarannya harus dapat memastikan bahwa kejadian serupa tak terjadi lagi pada masa mendatang.
Presiden juga mengutus Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih untuk menjenguk Sihombing.
"Saya mewakili Presiden menyampaikan keprihatinan dari presiden kepada keluarga pasien dan jemaat," kata Endang usai membesuk Sihombing.
Kedatangannya ke rumah sakit, kata Endang, untuk memastikan pasien mendapat penanganan yang baik. "Nantinya akan dikoordinasikan antara pemerintah pusat dan daerah," kata Endang kepada wartawan.
Sejauh ini, kata dia, kondisi pasien stabil setelah jam 12 siang tadi dioperasi untuk menutup luka. "Pendarahannya pun sudah berhenti," kata dia. []
Masuk: 12 Sep 2010 (19:12 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi