| Berita lainnya |
Pohon Natal tertinggi di Indonesia ini, resmi mulai bersinar saat Gubernur Sulut, DR. Drs. S.H. Sarundajang bersama ibu menekan tombol saklar lampu.
Peresmian pohon Natal yang memecahkan rekor MURI itu berlangsung sangat meriah dan dihadiri oleh pemerintah, angota DPRD kota dan provinsi, sponsor, tokoh-tokoh masyarakat, serta masyarakat yang membanjiri lokasi pohon di Mega Mas, Boulevard. Acara ini ditayang langsung di salah satu stasiun TV swasta di Manado.
Saat lampu natal dinyalakan, tamu-tamu yang duduk di bawah tenda serta masyarakat yang menyaksikan dari luar langsung tepuk tangan dan berteriak histeris dan tiba-tiba terdiam karena ada cahaya air mancur yang disertai bunyi petasan memenuhi lokasi seputaran pohon natal dengan tinggi 45 meter itu. Saat itu juga MURI langsung mencatat dan memberikan sertifikat sebagi pohon natal tertinggi di Indonesia dan merupakan tiga besar pohon natal tertinggi di dunia.
Pembuatan pohon natal itu sendiri digagas oleh Patricia Willem Rampangilei Paago yang mendapat inspirasi dari bumi nyiur melambai yang damai dan penuh kasih, masyarakat rukun dengan budaya mapalus. Apalagi suasana Natal di Sulut selalu menjadi momen untuk berkumpul dengab saudara dan handai taulan. Di bulan Desember, natal banyak warga Minahasa, suku mayoritas di Manado yang pulang dari perantauan untuk berlibur di kampung halamannya. Suasana inilah yang mendorong lahirnya gagasan tersebut. Diharapkan pula dengan dibangunnya pohon natal terbesar di Indonesia akan membawa suasana natal semakin hikmat.
Pohon ini juga akan menjadi ikon baru kota Manado dan sekaligus nilai tambah bagi bidang pariwisata, demikian sambutan Laksamana Pertama (Laksma) TNI Willem Rampangilei sebagai koordinatar acara perayaan dan persemian pohon Natal terbesar di Indonesia itu.
Pohon "kasih Natal" itu sendiri mulai dibangun pada tanggal 28 Oktober 2010 dan konstruksi pohon sudah berdiri pada tanggal 25 November 2010. Selanjutnya tahap menghiasi dan penyempurnaan pohon sampai dengan tanggal 10 Desember 2010 sudah siap untuk diresmikan oleh Gubernur Sulut. Namun, Gubernur menunda hingga tanggal 12 Desembar 2010. Jika ini dibuat tanggal 10 atau 11 Desember 2010 badai bisa menghantam kota Manado dan acara bisa kacau dan tidak hikmat, demikian ungkapan Rampangilei dalam sambutan.
"Hal tersulit dari pembuatan pohon Natal tersebut yaitu mewujudkan ide dari Pak Gubernur bahwa di atas pohon harus ada salju-saljunya. Sebagi prajurit saya harus katakan siap walaupun diomeli oleh anak buahnya yang sangat sulit bekerja untuk ide tersebut. Syukurlah hasilnya seperti sekarang ini," tambah Rampangiley.
Pohon Kasih Natal akan berdiri sepanjang tahun dengan hiasan pohonnya yang disesuaikan dengan tema perayaan saat itu. Konstruksi pohon tetap sama dan bintangnya akan tetap di atas sebagi simbol pengharapan (The Star of Hope). Hiasan natal akan diturunkan pada saat "Kunci Tahun" yaitu setiap tanggal 31 Januari yang nantinya akan diadakan seremonial penyalaan pohon "Kasih Natal" di setiap tanggal 5 Desember.
Pohon yang berdiri megah di pinggir pantai Boulevard tersebut dapat digunakan oleh semua denominasi yang bisa dirangkaikan dengan berbagai perayaan hari-hari raya mereka sebagi wujud "torang samua basudara" sebagaimana dipaparkan gubernur Sulut, DR. Drs. S.H. Sarundajang yang disambut dengan tepukan tangan hadirin. Usai sambutan gubernur langsung menuju tombol dan menyalakan pohon itu. Tim Museum Record Indonesia (MURI) saat itu langsung mencatat dan memberikan sertikat sebagai tanda pohon natal tertinggi di Indonesia.
Acara persemian berlangsung sangat meriah. Beberapa tari-tarian Minahasa dan lagu puji-pujian dari paduan suara (PS) Benedictio, PS Unima, solo Gracia Lumentut dan beberapa group lagu lainnya dipancarkan langsung oleh salah satu TV Swasta di Manado.
DR. Erwin Pohe, MBA, wiraswasta sukses asal Manado yang datang dari Jakarta khusus untuk menghadiri peresmian The Star of Hope, megaku sangat bangga dengan kota Manado ini yang penuh dengan semangat membangun termasuk membangun kerohanian. Pohe berharap ini tetap dilanjutkan dan ditingkatkan terus dan ke depan kiranya pemerintah akan membuat perencanaan tata ruang untuk menata sejak dini penempatan-penempatan ikon dan pusat-pusat wisata di Manado. Jika ini tidak dilaksanakan maka kondisi ini akan dimanfaatkan oleh segelintir orang saja dimana investor dan masyarakat akan kesulitan mendapatkan lahan dan tempat untuk usahanya.
Harapan lain juga datang beberapa anggota masyarakat yang ditemui Suara Manado, agar menyiapkan akses yang murah dan bahkan gratis untuk menjangkau ikon-ikon wisata. Untuk menikmati pemandangan ini mereka berharap pihak pengembang Mega Mas untuk tidak menarik sewa atau uang karcis bagi pengunjung untuk memotret.
Acara tersebut terselenggara berkat dukungan dari Menteri Perhubungan, Freddy Numberi, Gubernur Sulut, S.H. Sarundajang, Walikota Manado, G.S.V. Lumentut, Bupati Kepulauan Sitaro, Tonny Supit, Bupati Minahasa, Stevanus V. Runtu, Sander Batuna dan Linda Rahmat, Kapolda Papua, Irjen. Pol. Drs. Bekto Suprapto, SH, M.H, LANTAMAL VIII Manado Laksma TNI Agus Purwoto, Kapolda Sulut, Brigjen Pol Drs. Carlo B. Tewu, Benny Mamoto, Kajati Sulut, Arnold Angkow, SH, MH, Kapolresta Manado, Kombes. Pol. Drs. Arian Roeroe, O.C.Kaligis dan Tilly Kasenda, Dinas Pariwisata Sulut dan Para Sponsor: Honda, FIF, PT Daya Adira Wisesa, Bumbu Desa Restoran, MCDonald's, Wahaha Seafood Restaurant, Lion Air, Hotel Quality Manado, Sintesa Peninsula Hotel, Swiss-belhotel-Internasional, dll. []
© Suara Manado
Masuk: 14 Des 2010 (23:02 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi