| Berita lainnya |
Ruangan ibadah di gereja ini dipasangi lampu disko, sementara ibadahnya sendiri diiringi musik techno.
Dentuman musik keras, diikuti lenggokan para jemaat. Sebelum pendeta menyampaikan siraman rohani, sekelompok muda-mudi menari dari arah pintu depan. Jemaat bersorak, beberapa mengeluarkan siulan keras. Pemandangan ini, rutin ditemukan setiap pekan di All Saints Church. Mereka menyebutnya "Friday's techno Mass" (Misa Techno Jumat) karena diadakan setiap hari Jumat.
Ide ibadah disko ini dicetuskan oleh Pendeta Olle Idestrom sejak April 2011 silam. Pendeta Idestrom merasa prihatin dengan jumlah jemaat yang terus berkurang, khususnya kaum muda. Jika gereja tidak melakukan terobosan baru, maka kaum muda akan semakin enggan mengikuti ibadah.
Karena itu, bersama aktivis gereja lainnya, mereka mengganti model misa tradisional. Himne rohani juga diaransemen ulang musiknya.
"Kita perlu mengembangkan layanan, karenanya kami membuat kebaktian khusus bagi anak muda, khususnya yang suka aliran musik techno," katanya.
Dari mulut ke mulut, gereja ini kian populer di kalangan anak muda kota itu. Hingga tiap waktu kebaktian, selalu dipadati jemaat. "Sungguh sangat menyenangkan. Ini baru 'nendang'," kata Ella Schwarz, 15 tahun. "Saya tidak pernah menduga akan sebagus ini sebelum saya datang. Saya tidak pernah membayangkan gereja seperti ini, tetapi setelah semua yang saya lihat ini, saya merasa ini luar biasa."
Caterine Hogman, seorang pengacara yang berusia 46 tahun, mengaku terkesan dengan apa yang dilakukan gereja. Menurutnya, sangatlah baik jika gereja melakukan sesuatu yang positif bagi kaum muda. []
© OC/HP/Tempo
Masuk: 25 Jan 2012 (04:09 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi