| Berita lainnya |
Rumadi menjelaskan janji Presiden SBY itu pernah diucapkan di hadapan pendeta GKI Papua dan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dalam pertemuan di kediaman Presiden, di Cikeas, Bogor, Jawa Barat.
"Anda bilang, akan turun langsung untuk menyelesaikan persoalan GKI Yasmin. Bawahan Anda, Wali Kota Bogor dan menteri-menteri terkait sudah nyata-nyata tidak bisa menyelesaikan. Tuan Presiden, anda harus penuhi janji Anda sekarang," tegas Rumadi dalam keterangan pers-nya di Jakarta, Minggu (22/1).
Rumadi mengakui keterlibatan presiden sebenarnya sangat dibutuhkan mengingat eskalasi teror kepada jemaat GKI Yasmin semakin meningkat.
Hari ini saja, kata dia, jemaat GKI Yasmin Bogor kembali mendapat intimidasi dari sekelompok massa intoleran yang sengaja diorganisir untuk menimbulkan kekacauan dalam kehidupan beragama. Akibatnya, bahkan jemaat gereja itu tidak bisa lagi sekedar mengunjungi gereja mereka. Kegiatan ibadat mereka di rumah salah seorang jemaat juga dikepung massa.
"Massa ini tampak semakin beringas dari waktu ke waktu. Kalau pemerintah pusat masih terus mendiamkan dan tidak mengambil langkah-langkah yang memadai sesuai dengan koridor negara hukum, bukan tidak mungkin keadaan akan semakin memburuk," tuturnya.
Dia melanjutkan upaya pemerintah pusat untuk menyelesaikan persoalan itu juga tampak tidak serius. Sebagai contoh, dua kali agenda pertemuan Pemerintah dengan DPR dibatalkan secara sepihak.
"Kalau melihat ketidakseriusan itu, tampaknya ada pihak-pihak yang sedang menyusun skenario jahat untuk menjadikan persoalan GKI Yasmin sebagai ladang 'pembantaian' jaminan konstitusional kebebasan beragama dan berkeyakinan," pungkas dia. []
© Berita Satu
Masuk: 23 Jan 2012 (01:14 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi