| Berita lainnya |
Namun, katanya, pihak Depag Sulut akan segera mendata kembali keberadaan gereja-gereja di Sulut. Ini dimaksudkan, jangan-jangan mereka (gereja Scientology, red) telah beroperasi tetapi tidak memiliki dasar hukumnya. "Kami juga meminta bantuan kepada masyarakat, jikalau didapati organisasi-organisasi gereja yang baru dan mulai melakukan kegiatannya untuk kiranya dilapor keberadaannya ke Depag Sulut, atau di Depag di kabupaten/kota yang ada," pinta Tilaar.
Memang disadari, kata Tilaar, bahwa beragama dan berkeyakinan adalah hal pribadi setiap orang. Tetapi, karena kita hidup di negara hukum, maka kita pun harus taat juga kepada hukum. "Jadi, sekali lagi, tugas Depag ke depan adalah hendak mendata kembali gereja-gereja yang ada. Ini juga bagian antisipasi kita terhadap gereja/sekte yang beroperasi tanpa mengantongi izin," kunci Tilaar.
Secara terpisah, staf dari Sekum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Pdt Richard Daulay mengatakan, keberadaan gereja Scientology di Indonesia, yang saat ini menjadi tersangka di Pengadilan Prancis, hingga kini masih belum jelas legalitasnya. Pasalnya, gereja yang berpusat di Los Angeles ini tidak terdaftar sebagai anggota PGI. "Kalau terdaftar menjadi anggota PGI tidak. Tapi kami tidak tahu kalau di Dirjen Bimas Kristen," tandasnya.
Sepengetahuannya, yang pernah ada adalah Gereja Kristen Science di Yogyakarta, namun mereka tidak menimbulkan permasalahan apa pun.
Sedangkan Ketua Umum Sinode Gemindo Jakarta Pdt Alex Rumengan MTh menyatakan kepada Komentar bahwa gereja Scientology berada di Indonesia dan berpusat di Surabaya. Namun menurutnya, dogma serta ajaran gereja tersebut hingga kini belum diketahuinya.
"Setahu saya gereja itu (Scientology, red) ada di Indonesia yang berpusat di Surabaya," ujar Pdt Rumengan. Tapi hingga kini eksistensi gereja tersebut masih belum jelas dan tidak menimbulkan sesuatu yang meresahkan masyarakat. Rumengan juga menambahkan sejauh gereja tidak menimbulkan keresahan masyarakat maka hal tersebut tidak perlu dipolemikkan. Namun ditambahkannya, jika suatu gereja atau aliran apa pun menyebabkan kerugian bagi masyarakat serta menimbulkan keresahan maka kondisi tersebut harus mendapat pengawasan dari pihak yang berwenang untuk ditindaklanjuti keberadaannya.
Sementara tokoh gereja di Sulut mengimbau, agar umat-umat Tuhan harus mewaspadai bakal masuknya aktivitas ajaran gereja Scientology yang mengutamakan ilmu pengetahuan. Menurut, Pdt Arthur Rumengan MTheol, meski secara lembaga gereja itu belum ada di Sulut. Tetapi secara individu dapat dilihat pada praktik beragama yang sangat mengidolakan pikiran dan manusia sebagai kekuatan yang berseberangan dengan kekuatan yang ada dalam diri Yesus Kristus.
"Bukankah kekuatan mengolah pikiran yang sering digunakan dalam yoga, yin yang, reiki, meditasi, termasuk scientology? Juga, doa-doa penyembuhan dari pada tokoh agama masuk dalam aliran modern di new ages atau zaman baru? Jangan jadikan Yesus atau kuasa Yesus sebagai energi suplemen atau disinkritismekan," tanya Rumengan.
Kita memang menggunakan akal, gunakan obat medis atau herbal tradisional, tetapi iman kita bersumber pada Yesus Kristus, katanya, dan bukan pada obat, dokter, tukang berobat dan kekuatan mengolah pikiran.
"Menurut saya scientology bertentangan dengan inti iman Kristen, karena mereka tidak mempercayai tritunggal," kata Rumengan seraya meminta umat-umat Tuhan untuk tetap waspada dengan ajaran-ajaran tersebut. Sedangkan Pdt Dr Nico Gara MA mengatakan bahwa gereja Scientology belum terlihat di Sulut, entah juga di tempat lain. Tetapi memang gereja ini ada dan berkembang pesat di Amerika Serikat dan Eropa. Gara mengakui gereja itu diketahuinya dengan membaca artikel-artikel. "Saya justru tahu lewat membaca buku atau artikel-artikel. Ya sesuai namanya mengandalkan science (ilmu pengetahuan)," jelas Gara.
Sementara, Pdt Johan Manampiring STh justru masih bingung, apakah gereja Scientology sama dengan sekte Christian Science. Ia pun belum tahu dogma dari gereja tersebut. Manampiring ketika membaca berita di harian ini edisi kemarin (26/05) mempertanyakan, apa memang tes kepribadian dilakukan secara lembaga gereja atau oleh oknum-oknum scientist. "Juga apakah para scientist memasukkan dana pendapatan hasil tes ke kas gereja atau menjadi pendapatan pribadi para scientist tersebut. Kalau tindakan mereka untuk kepentingan pribadi, maka gereja perlu membimbing para pelaku untuk profesional tetapi tidak mata duitan, sekaligus bertanggung jawab sebagai bagian dari iman, agar tidak dicemooh apalagi dipidanakan," kata Manampiring.
Sedangkan soal kehadiran gereja itu di Manado, Manampiring katakan, belum pernah mendengar apalagi melihat aktivitasnya, termasuk di Indonesia. Namun, untuk Christian Science sudah ada di Surabaya, Jawa Timur. "Yang saya tahu itu, Christian Science di Surabaya. Apakah ajaran itu sama atau tidak, saya tidak tahu," pungkasnya. [kom]
Masuk: 27 Mei 2009 (16:59 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi