| Berita lainnya |
Hal itu disampaikan Daulay ketika memberikan sambutan mewakili PGI dan gereja-gereja di Indonesia, dalam ibadah syukur HUT Pekabaran Injil (PI) dan Pendidikan Kristen ke-178, sekaligus pembukaan HUT ke-75 Berlian GMIM Bersinode, di Bukit Doa Tumpa, Molas, kemarin (12/06). Daulay dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur, sebab suasana surga di Bukit Tumpa, persis seperti Yesus bersama-sama muridNya di Bukit Tabor, di mana Petrus sempat tergoda dan tak mau turun.
Dalam suasana sukacita tersebut, ia pun mengakui bahwa GMIM telah dipilih dan dipimpin sehingga menjadi gereja yang mampu mandiri, baik mandiri secara teologi, daya dan dana. "Dengan HUT PI dan Pendidikan Kristen ke-178 ini serta HUT ke-75 Berlian GMIM Bersinode, diharapkan GMIM akan semakin setia, menjadi garam dan terang dunia," ajak Daulay.
Kesempatan itu pula, Daulay mengharapkan, kiranya GMIM ke depan akan dapat dan mampu mencetak kader-kader bangsa, sehingga dapat memberikan sumbangsih bagi program-program pembangunan secara nasional."Dengan tetap komit dan mempertahankan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah pluralisme bangsa Indonesia," katanya mengingatkan.
Sedangkan Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM Pdt Dr AO Supit mengatakan, hingga kini GMIM telah melewati tahun-tahun pelayanan, di dalamnya ujian iman laksana gelombang dan badai tidak pernah reda, siap memporak-porandakan bahtera pelayanan ini. Secara organisasi, Supit mengaku berbangga bahwa memasuki tahun Berlian, GMIM telah tumbuh berkembang seperti sebuah pohon tua yang berbuah dan menghasilkan buah-buah yang baik.
Tercatat, bahwa hingga kini di pertengahan tahun 2009, GMIM telah memiliki 96 wilayah, 863 jemaat, 8.451 kolom, 1.780 pendeta, 12.746 orang penatua, 8.451 orang syamas, dan 305 orang guru agama. Belum lagi keberhasilan di bidang pelayanan lain, seperti pendidikan dan kesehatan. "Semuanya kita syukuri semua sebagai bagian dari bukti pemeliharaan Tuhan yang tidak pernah berkesudahan, " kata Supit.
Sementara Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang memberikan apresiasi tinggi atas kegiatan ibadah pembukaan dirangkaikan dengan HUT PI ke-178 dan Pendidikan Kristen serta HUT ke-75 Berlian GMIM Bersinode. "Apa yang sudah diperankan oleh anak-anak tadi, hendaknya menjadi pendorong dalam kita melaksanakan tugas-tugas, baik gereja mau pun tugas negara atau pemerintah. Kita pun harus mendengar teguran-teguran dari anak-anak kita. Pesan itu sederhana namun mulia," ujar Sarundajang sambil mengambil perumpamaan tentang sapi betina dan anaknya serta seorang bapak yang mau menyeberangi sungai.
Terkait rencana GMIM membangun monumen Salib Yesus Kristus di Bukit Tumpa ini, orang nomor satu di Sulut spontan memberikan dukungan penuh. Makanya, ia berpesan supaya semua tetap bersama-sama dalam menopang terselesaikan monumen Salib Berlian ini. "WOC dan CTI Summit saja selesai, masak hanya monumen itu ndak bisa. Jadi saya dukung sepenuhnya dengan segenap hati pembuatan monumen Salib Berlian ini," janji Sarundajang.
Diharapkan dengan selesainya monumen ini, akan dapat memberikan nilai tambah bagi para pilot yang akan melewati kota Manado, khususnya Bukit Doa Tumpa ini. "Setelah selesai, pasti banyak lampu yang terpasang dan mudah-mudahan akan membantu para pilot juga," kata Sarundajang yang disambut tepuk tangan para hadirin.
Begitu pun dengan jalan menuju ke Bukit Salib, akan segera diperbaiki dan diperlicin atau diaspal. "Mudah-mudahan bulan depan sudah mulai dikerjakan," janji Sarundajang.
Usai ibadah pembukaan itu, telah pula dilakukan pencanangan GMIM Menanam, peletakan batu pertama monumen Salib Yesus Kristus dan pencanangan lokasi wisata religi yang diberi nama Bukit Doa Berlian GMIM. [Kom]
Masuk: 14 Jun 2009 (22:18 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi