| Berita lainnya |
Ishtiaq Masih, seorang pemuda Kristen pada waktu itu sedang dalam perjalanan menggunakan bis. Dalam perhentian bisnya, ia masuk ke sebuah tempat peristirahatan dan memesan secangkir teh.
Usai menghabiskan tehnya, Ishtiaq pergi ke kasir untuk membayar secangkir teh yang telah diminumnya. Namun, saat akan membayar, pemilik tempat peristirahatan itu melihat kalung salib yang dikenakan oleh Ishtiaq.
Ishtiaq langsung dipukuli oleh pemilik tempat peristirahatan itu. Bahkan, pemilik tempat peristirahatan itu memanggil para karyawannya untuk mengambil benda apa saja untuk dipukulkan kepada Ishtiaq.
Pemilik itu bersama 14 orang karyawannya memukuli Ishtiaq dengan batu, batang besi dan pentungan, bahkan menusuknya berkali-kali dengan pisau dapur, meskipun Ishtiaq telah meminta ampun.
Para penumpang bus yang bersama-sama dengan Ishtiaq segera menolongnya dan membawanya ke pusat layanan kesehatan desa itu. Namun, nyawa Ishtiaq tak tertolong lagi.
Kedai Teh Makah adalah nama tempat kejadian itu berlangsung. Kedai teh itu berlokasi di pinggir jalan utama Sukheki-Lahore. Pemilik kedai ini bernama Mubarak Ali, 42 tahun.
Menurut penyelidikan ICC, di kedai ini terdapat plang yang ditulisi dengan warna merah: "Semua non-Muslim harus memberitahu imannya sebelum memesan teh."
Seorang warga sekitar yang tidak menyebutkan namanya mengatakan bahwa Ali adalah seorang Muslim radikal. Karyawan-karyawannya dulunya adalah santri-santri dari berbagai madrasah radikal.
Keluarga Ishtiaq telah melaporkan kasus ini ke polisi setempat. Namun, Ali masih dengan bebasnya menjalankan usaha kedai tehnya itu.
Pindi Bhatian Saddar dari pihak kepolisian mengatakan bahwa kasus ini murni merupakan bias agama. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak berwenang untuk mencabut plang yang dipasang di kedai teh milik Ali itu. [CNW]
Masuk: 14 Jun 2009 (21:22 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi