| Berita lainnya |
Serangan terakhir dialami warga Kristen Irak menimpa sebuah gereja di Baghdad pekan lalu. Sebanyak 52 orang dilaporkan tewas. Serangan ini menimbulkan ketegangan di kawasan itu.
Ketakutan juga dilanda warga Kristen Irak di Stockholm, Swedia. Ketakutan ini dialami warga Irak yang beragama Kristen karena mereka termasuk kelompok yang dideportasi dari Swedia.
Petugas Imigrasi Swedia telah mendeportasi sejumlah pengungsi Irak dengan sejumlah penerbangan setiap tiga minggu. Alasan deportasi karena, para pengungsi itu tak punya dokumen resmi suaka politik di Swedia.
Mereka yang dideportasi ke Baghdad adalah kelompok minoritas Kristen di Irak. Dari sekitar 80.000 pengungsi Irak di Swedia, sekitar 6.000 diantaranya adalah umat Kristen. Swedia menetapkan 'standar' pengungsi yang layak berdasarkan peraturan yang diputuskan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Aturan itu membuat para pengungsi panik.
"Di sana terdapat ratusan pengungsi Irak yang ilegal yang akan segera menghilang," kata seorang insinyur Irak penganut Katolik yang tinggal di Stockholm sejak 2004. Dia khawatir, aturan yang ditetapkan Swedia, dengan mengembalikan mereka ke Baghdad justru akan membunuh secara perlahan. "Para pengungsi sembunyi di gereja-gereja, atau di bawah tanah, bekerja ilegal, dan mencoba bertahan hidup dengan berpindah-pindah," kata dia lagi.
Swedia tidak sendiri. Beberapa negara lain juga mendeportasi ratusan warga Irak yang mengalami kekerasan akibat perang. Inggris, Norwegia, dan Denmark juga melakukan hal sama. Melihat kondisi ini, Divisi Pengungsi PBB khawatir pengembalian pengungsi Irak akan membahayakan mereka. "Mereka mengalami ancaman sangat serius, termasuk ancaman kebebasan dan hidup. Ini adalah alasan bagi dunia internasional melindungi mereka," kata juru bicara pengungsian PBB, Adrian Edwards.
Kini, Swedia sedikit melunak. Mereka memberikan izin menetap permanen bagi pengungsi yang punya dokumen lengkap. "Sebagian dari mereka yang dideportasi melarikan diri ke negara-negara tetangga seperti Suriah dan Yordania, sesaat setelah mendarat di Baghdad," kata seorang jurnalis freelance di Stockholm. []
© VIVA News
Masuk: 15 Nov 2010 (14:39 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi