| Berita lainnya |
Serangan di Boldipukur, di Distrik Rangpur, meningkatkan ketegangan dan menciptakan kepanikan di wilayah itu, demikian seorang pastor paroki setempat. Beberapa dari korban adalah perempuan dan anak-anak, tambahnya.
“Mereka [kaum Muslim] mengatakan, mereka akan membunuh beberapa dari orang-orang kami. Kami panik dan takut keluar,” kata Pastor Leo Desai, kepala Paroki Kristus Sang Penyelamat di Keuskupan Dinajpur, sekitar 440 kilometer barat laut Dhaka.
Pastor Desai, yang juga menjadi sekretaris Komisi Katekese-Liturgi keuskupan, berbicara dengan UCA News pada 22 Maret setelah terjadi serangan terhadap umatnya pada 20 Maret.
Menurut Pastor Desai, Muslim bersenjatakan tongkat, batu bata, dan pisau menyerang penduduk desa yang telah berkumpul sekitar tengah hari untuk menyaksikan pekerjaan konstruksi di sebidang tanah milik paroki.
“Kami sedang menyaksikan pekerjaan konstruksi di tanah Gereja ketika mereka menyerang. Saya melarikan diri demi keamanan, namun 10-12 orang memukul saya,” kata Nirod Bakla, 40, yang bertugas di asrama paroki.
“Sekujur tubuh saya penuh luka. Semua umat jadi takut untuk meninggalkan rumah, meskipun mereka harus pergi untuk bekerja,” katanya kepada UCA News.
Serangan ini diyakini merupakan buntut pertikaian lahan tujuh tahun lalu dan pengadilan setempat memihak paroki. Sebagian dari lahan milik Gereja itu, dulunya menjadi tempat sebuah sekolah menengah yang dikelola seorang Muslim.
Sebagai respons terhadap keputusan pengadilan, beberapa kaum Muslim yang tidak puas diduga dipimpin oleh dewan pengelola sekolah itu memicu terjadinya serangan itu.
Pastor Desai mengatakan, dia telah mengajukan keluhan terhadap 17 penyerang dengan bantuan seorang pengacara yang dikirim oleh Uskup Dinajpur Mgr Moses M. Costa OSC.
“Pemerintah dan polisi setempat meminta saya agar jangan ajukan keluhan. Menurut mereka, sengketa itu dapat diselesaikan, tetapi kami meragukannya karena kaum Islam menjadi begitu keras,” kata imam itu.
Sushil Ekka, 35, seorang warga suku lain bercerita bahwa cobaan itu sangat mengerikan. “Aku pergi ke pasar untuk membeli daun sirih ketika lima sampai enam kaum Muslim menyerang saya dan memukul saya dengan pentungan,” katanya kepada UCA News.
“Saya menyelamatkan diri dengan melarikan diri,” kata petani itu.
“Sekitar lima dari total 14 paroki di keuskupan itu memiliki masalah yang berhubungan dengan tanah,” kata Pastor Anthony Sen, sekretaris Komisi Keadilan dan Perdamaian keuskupan yang berurusan dengan masalah-masalah tanah, kepada UCA News.
Menurut Pastor Sen, “Kebanyakan warga suku itu buta huruf dan tidak memiliki dokumen untuk tanah leluhur mereka. Kaum Muslim lokal menduduki tanah mereka dan menimbul sengketa tanah.” [UCAN]
Masuk: 25 Mar 2010 (18:04 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi