| Berita lainnya |
Ia menekankan bahwa anak-anak tidak boleh mencampuradukkan perayaan kelahiran Kristus dengan "seorang lelaki gendut berbaju merah."
Kemarahan Sigampa dipicu oleh rencana pembuatan sebuah pondok berselimut salju di alun-alun utama kota tersebut. Sedianya, akan ada tokoh Santa Claus yang mendengarkan permintaan dari anak-anak kemudian menerima mainan sumbangan untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak miskin.
"Pastinya, dalam beberapa hari ke depan akan ada banjir iklan setelah mereka meresmikan rumah tempat tinggal seorang lelaki gemuk berbaju merah. Kita tidak boleh bingung. Jangan mencampuradukkan Natal dengan hal itu," katanya.
"Keadaan sudah berubah dan sekarang anak-anak banyak yang salah paham. Beberapa waktu lalu, saya bertanya kepada seorang anak mengenai Natal. Ia mengaku baru menyadari Natal karena di dalam kulkas ada sari buah dan roti manis. Ia mengaku tidak tahu apa-apa tentang kelahiran Yesus," kata Sigampa, yang mengaku terkejut dengan semakin tumbuhnya ateisme di masyarakat.
Tapi, sang uskup tidak menentang pemberian hadiah pada 25 Desember. Ia mengaku menyetujuinya dengan catatan bahwa anak-anak tahu yang memberi hadiah adalah orang tua.
Ia menambahkan, "Anak-anak harus tahu bahwa sebenarnya kado-kado itu berasal dari orang tua mereka dan dengan bantuan Yesus."
Setelah sang uskup menyuarakan penentangannya, panitia penyelenggara membatalkan rencana pembuatan pondok untuk Santa dan menamai pondok itu "Rumah Natal."
Menurut pemerintah, inisiatif pembangunan pondok Santa di Resistencia adalah untuk "menciptakan ulang semangat Natal" dengan memperbolehkan anak-anak meminta mainan kepada Santa. Mainan-mainan itu kemudian akan diantarkan ke rumah-rumah.
Sebelumnya, Sigampa sudah pernah memicu kontroversi.
Pada tahun 1990-an, Sigampa memicu keributan saat memerintahkan penggambaran mural untuk katedral di Kota La Rioja yang menggambarkan Bunda Maria dengan Carlos Menem, presiden kala itu, serta para petinggi gereja Katolik.
Oktober lalu, di Jerman, sebuah kelompok Katolik juga ingin melarang Santa Claus pada Natal kali ini karena promosi komersialnya.
Bonifatiuswerk Katolik Jerman, sebuah lembaga bantuan gereja di Jerman, mulai menyerukan "zona bebas Santa Claus."
Organisasi tersebut menganggap Santa sebagai "sebuah penemuan industri periklanan yang dirancang untuk mendongkrak penjualan" dan "perwakilan masyarakat konsumtif yang nyaris tidak ada hubungannya dengan sosok Santo Nicholas."
Karena terhubung dengan komersialisme, kelompok itu mengatakan bahwa Santa Claus harus dilarang dan digantikan dengan tokoh Santo Nicholas yang lebih dermawan dan tradisional.
Kampanye tersebut didukung sejumlah selebriti Jerman.
"Tak seperti Santa Claus, Nicholas ingin memberikan kekayaan dari dalam hati kepada anak-anak, bukan hanya memberikan materi," kata Nina Ruege, seorang presenter televisi Jerman. []
© Suara Media
Masuk: 16 Des 2010 (06:53 UTC+07)










Komentar Pembaca
Rekomendasi